Tuesday, May 19, 2009

[Kompas 100]: Bisi International: "The Largest Hybrid Seed Producer"

Bagian 96 dari 100

Selasa, 19 Mei 2009 | 07:30 WIB

Aliansi Ford and Rockefeller Foundations dengan pemerintah Filipina menghasilkan IRRI.

Aliansi tersebut terjadi di tahun 1960, dimana waktu itu, Filipina dikenal sebagai salah satu negara maju di Asia. Tujuannya adalah sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang, dengan cara menolong para petani padi agar bisa memperoleh produktivitas yang tinggi dan tentu akan membuatnya bisa mencapai perbaikan tingkat kesejahteraan. Nama institusi tersebut adalah International Rice Research Institute (IRRI) yang berlokasi di areal sawah uji coba sebesar 252 hektar dan berada di dalam kompleks University of the Philippines di Los Banos.

IRRI ini adalah lembaga nirlaba yang sejak awal didirikan oleh kedua yayasan tersebut hingga kini, salah satu aktivitasnya adalah melakukan penelitian untuk menghasilkan bibit padi yang berkualitas tinggi seperti produktivitas hasil yang lebih tinggi, lebih tahan terhadap penyakit, dan lebih enak rasanya. IRRI ini kemudian menghasilkan apa yang disebut sebagai revolusi hijau, dan produknya sudah menjangkau hampir separo penduduk dunia. IRRI yang punya kantor perwakilan di 14 negara mulai bekerjasama dengan pemerintah Indonesia di tahun 1972, melalui Balai Litbang Pertanian Departemen Pertanian RI.

Kerjasama yang sudah lama itu menghasilkan berbagai varietas baru padi, yang di-branding-kan dengan IR dan diikuti nomer varietas. Sejumlah varietas, seperti IR 64 dan IR 36, menjadi varietas yang popular. Meskipun demikian, tuntutan akan produktivitas yang lebih baik pada akhirnya mendorong munculnya padi hibrida.

Meski jagung hibrida sudah populer, tapi hal berbeda terjadi pada padi hibrida. Walau produktivitasnya tinggi, tapi harganya lebih mahal dan butuh penanganan yang lebih tinggi semasa masa tanam. Inilah tantangan yang dihadapi oleh PT Bisi International Tbk (BISI), perusahaan penghasil bibit hibrida padi dan jagung yang menguasai lebih dari 50 persen pasar. Selain menghadapi kompetisi dari, antara lain, Monsanto, Dupont, dan Syngenta, yang merupakan tiga besar produsen benih hibrida dunia dan juga BUMN seperti PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani, BISI mesti bisa mempopulerkan penggunaan padi hibrida di Indonesia.

Didirikan oleh Charoen Pokphan Group pada tahun 1983, BISI membawa serta pengalaman puluhan tahun dari perusahaan pendirinya yang berasal dari Thailand. Dan, selain karena memang profil Thailand dan Indonesia cukup mirip, Charoen Pokphand memang sudah hadir di Indonesia sejak 1972 dengan perusahaannya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Berbekal kekuatan tersebut, BISI kini telah berkembang menjadi market leader untuk benih padi hibrida maupun benih jagung hibrida di Indonesia. Dan, selain sebagai penghasil benih hibrida padi, jagung, dan sayuran., BISI juga memasarkan berbagi jenis pupuk yang dilakukan oleh anak perusahaannya PT Multi Sarana Indotani dan PT Tanindo Subur Prime.

Keberhasilan dalam industri bibit hibrida memang lebih disebabkan oleh kemampuan mengembangkan varietas baru yang sesuai dengan tuntutan pasar. Sehingga peranan divisi riset dan pengembangan merupakan salah satu pos strategis perusahaan. BISI sendiri melakukan hal ini dengan menjalani kerjasama dengan peneliti dan petani lokal, yang terjadi di 12 pusat pengembangan yang mencakup area seluas 231 hektar. Dan hal ini diapresiasi oleh pemerintah, dengan diberikannya anugerah Satya Lencana kepada BISI di tahun 1997, atas upayanya mengembangkan benih hibrida di dalam negeri.

Dengan memiliki local knowledge, maka kami percaya bahwa BISI memiliki competitive advantage unik yang memungkinkannya untuk dapat terus mempertahankan status sebagai the largest hybrid seed producer di Indonesia.

"Philip Kotler's Executive Class: 8 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: