Friday, May 1, 2009

[Kompas 100]: Arpeni: "A Leading Diversified Shipping Company"

Jumat, 1 Mei 2009 | 07:57 WIB

The Vikings selalu lebih banyak diasosiasikan dengan Denmark.

Padahal pada abad ke 8 sampai 11, ketika yang namanya The Vikings begitu popular, yang termasuk dalam bangsa Viking bukan hanya orang-orang Denmark saja, tapi juga orang Norwegia, Geats dan Gothlander. Lagipula bukan hanya orang-orang Denmark saja yang mewarisi keahlian The Vikings, tapi juga orang-orang Norwegia. Kedua turunan The Vikings ini dikenal sebagai negara terkemuka di industri perkapalan dunia.

Dari Denmark kita mengenal yang namanya Maersk, sebuah konglomerat yang lebih banyak dikenal sebagai the largest container ship operator and supply vessel operator in the world yang bersama dengan perusahaan perkapalan Denmark lainnya menjadikan negeri ini sebagai pengangkut 10 persen barang-barang perdangan dunia. Sementara Norwegia dikenal sebagai negeri yang memiliki 5 persen armada dagang dunia, dan juga dikenal sebagai the world’s largest ship financing banks dan the world’s leading shipbroking firm. Dan ternyata bukan hanya sekedar karena turunan The Vikings yang menjadikan kedua negara tersebut menjadi superpower dalam angkutan laut, tapi juga karena posisinya sebagai negara kelautan dengan penduduk yang tersebar.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dilihat dari jumlah pulau maupun dari gabungan luas daratan dan laut. Tapi jumlah perusahaan perkapalan Indonesia yang besar dan punya pangsa yang signifikan dalam angkutan laut domestik tidak banyak. Kondisi ini ternyata mendorong PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL) untuk menjadikan diri sebagai pemain dominan di industri angkutan laut Indonesia dan pemain angkutan laut yang diperhitungkan di pasar internasional.

Bagi perusahaan yang didirikan di tahun 1975 ini, yang namanya menjadi pemain dominan angkutan laut domestik, mesti diawali dengan menjadi pemain yang diperhitungkan di kategori angkutan laut utama Indonesia, mulai dari angkutan umum, dry bulk dan angkutan cair. Jalan menjadi pemain yang diperhitungkan di salah satu kategori angkutan laut, dimulai dengan membuka kantor cabang domestik di Banjarmasin di tahun 1976, hanya setahun setelah didirikan, lalu setahun kemudian mulai mengoperasikan general cargo vessel pertama di tahun 1977 untuk angkutan umum dan single log carrier vessel untuk jasa angkutan produk perkayuan.

Setelah berhasil membangun kompetensi dalam operasional general cargo vessel, pada tahun 1989 APOL mulai masuk ke angkutan cair setelah mendapatkan kontrak dari Pertamina untuk mengangkut LPG dan kemudian juga minyak mentah mulai tahun 1991. Berikutnya, di tahun 1996 APOL masuk ke angkutan dry bulk, dengan mengangkut batubara dari PT Bukit Asam. Adanya pelanggan seperti Pertamina dan Bukit Asam menumbuhkan kepercayaan pasar, seperti ditunjukkan dengan semakin banyaknya perusahaan batubara besar Indonesia yang mulai tahun 2000 juga menjadi pelanggan dry bulk APOL.

Kepercayaan semacam itu akhirnya membuat APOL bisa melakukan pengembangan pesat dari armadanya, yang pada tahun 2000 hanya terdiri atas 11 kapal, menjadi 74 kapal per Maret 2008. Penambahan armada tersebut semakin memperkuat posisi APOL dalam bisnis angkutan dry bulk, angkutan umum, dan angkutan cair di Indonesia. Selain itu, APOL juga masuk ke bisnis-bisnis terkait dengan angkutan laut, seperti keagenan dan stevedoring.

Di tengah-tengah peningkatan pesat armada kapalnya, APOL dan perusahaan angkutan laut Indonesia seperti menghadapi favorable business situation seiring dengan adanya Inpres 2005 tentang pemberdayaan industri pelayaran Indonesia, yang wujudnya adalah azas cabotage dan kepemilikan kapal nasional dan pengesahan konvensi internasional tentang piutang maritim dan hipotik kapal yang menunjang pendanaan penambahan armada kapal. Kondisi ini disikapi APOL dengan mengambil langkah strategis berfokus pada angkutan dry bulk agar bisa menjadi pemain dominan di pasar domestik untuk kategori ini, dan pada saat yang bersamaan tetap mempertahankan keragaman jasa angkutan laut. Langkah strategis tersebut berpengaruh pada upaya pengembangan armada APOL yang sebagian besar adalah kapal untuk dry bulk.

Di sisi lain, meski Inpres 2005 merupakan hal yang menggembirakan bagi perusahaan pelayaran Indonesia, tapi potensi besar pertumbuhan angkutan dry bulk domestik bisa jadi akan mengundang munculnya para pesaing domestik. Sebagai langkah antisipasi, APOL terus meningkatkan kemampuan dalam memberikan one stop shopping and total logistic solution melalui jasa angkutan laut end-to-end. Yang menarik, APOL ternyata tidak mau terlena oleh adanya Inpres 2005, dengan hanya mengejar posisi dominan di pasar domestik, tapi juga ingin menjadi pemain internasional yang diperhitungkan dalam angkutan batubara seiring dengan tingkat pertumbuhan ekspor batubara yang didukung dengan kondisi bahwa perusahaan punya pelanggan perusahaan batubara yang memang melayani pasar domestik dan sekaligus internasional.

Melalui langkah-langkah tersebut di atas, ditambah dengan kemampuan membangun customer intimacy dan optimalisasi beragam armada serta pengelolaan operasional secara moderen dan efektif, maka APOL bukan hanya sekedar menjadi a leading diversified shipping company tapi bisa menjadi pemain dominan di industri angkutan laut Indonesia dan sekaligus pemain yang diperhitungkan di pasar internasional sebagaimana bisa dilakukan oleh perusahaan angkutan laut dari negeri-negeri turunan The Vikings.


"Philip Kotler's Executive Class: 26 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: