Sunday, January 11, 2009

Implementasi Anggaran Investasi

Minggu, 11 Januari 2009 | 01:51 WIB

Elvyn G Masassya praktisi keuangan

Pembahasan mengenai rencana anggaran investasi (RAI) di rubrik ini akhir Desember lalu, mengundang banyak surat dan SMS yang menanyakan bagaimana implementasi konkret RAI tersebut.

Bahasan berikut secara sederhana mengulas titik landasan yang bisa menjadi masukan bagi Anda dalam menyusun RAI yang lebih personal.

Yang paling mendasar dalam pembuatan RAI adalah memahami kondisi terakhir keuangan Anda, katakanlah pada akhir tahun 2008, posisi aset, dan kewajiban utang Anda. Mestinya berada dalam posisi positif, yaitu Anda masih memiliki aset lebih besar dibandingkan dengan utang.

Selanjutnya, hitung berapa pertumbuhannya dibandingkan dengan awal tahun 2008. Umpamakan pada akhir tahun 2008 nilai aset bersih Anda Rp 1 miliar. Ini meliputi semua aset yang dihitung berdasarkan harga pasar. Artinya, jika aset itu dijual, maka nilai uangnya Rp 1 miliar. Termasuk di sini adalah harga tanah/rumah, kendaraan, aset investasi berupa deposito berjangka, saham, dan yang lain.

Lalu, umpamakan pada awal tahun nilai aset bersih Anda Rp 900 juta. Berarti ada peningkatan aset Rp 100 juta atau 11 persen. Dari sisi persentase, ini jelas peningkatan yang lumayan. Tetapi, coba bandingkan dengan penghasilan Anda. Berapa persen yang teralokasi menjadi peningkatan aset, baik karena perubahan harga pasar atau disebabkan tambahan alokasi pendapatan ke dalam aset.

Cek total penghasilan Anda baik berupa gaji atau imbal hasil investasi yang didapat dalam bentuk riil pada tahun 2008. Umpamakan Rp 250 juta.

Dari Rp 250 juta itu, yang berdampak pada peningkatan aset adalah Rp 100 juta atau setara 40 persen dari total penghasilan. Kelihatannya ini rasio yang bagus, sebab secara sederhana Anda hanya membelanjakan 60 persen penghasilan Anda untuk konsumsi. Tetapi, jika dicermati lebih jauh, apakah rasio tersebut memang menunjukkan Anda berada di “jalan yang benar”? Belum tentu. Coba kita lihat.

Tentang peningkatan aset, misalnya. Pada tahun 2008 ada peningkatan Rp 100 juta atau 11 persen. Tetapi, coba telisik lagi, berapa persen peningkatan itu benar-benar karena kontribusi hasil investasi tahun 2008 dan berapa yang karena penyesuaian harga aset.

Katakanlah Anda memiliki tanah dan rumah yang Anda tempati. Pada tahun 2007 harganya Rp 500 juta dan pada 2008 akhir harganya menjadi Rp 550 juta. Dengan kata lain, ada peningkatan harga Rp 50 juta atau 10 persen. Peningkatan itu bukan karena tindakan investasi baru, melainkan lebih aspek “kebetulan”.

Karena itu, untuk mendapatkan gambaran riil mengenai hasil investasi Anda tahun 2008, peningkatan harga rumah harus dikeluarkan. Ringkasnya, peningkatan aset berkat penyisihan penghasilan dan investasi tahun 2008 adalah Rp 100 juta dikurangi Rp 50 juta, yaitu Rp 50 juta.

Dengan rumusan tersebut, dari total penghasilan Rp 250 juta, sebenarnya, yang berdampak pada peningkatan aset Rp 50 juta. Dengan kata lain, Anda melakukan konsumsi Rp 200 juta atau 80 persen. Apakah kenyataannya demikian?

Boleh jadi tidak. Dalam realitasnya angka Rp 250 juta yang merupakan penghasilan Anda, termasuk juga hasil investasi Anda di deposito, saham, reksa dana, dan lainnya.

Coba hitung lagi tambahan penghasilan Anda dari kegiatan investasi tahun 2008. Sebut saja angkanya Rp 50 juta dari Rp 250 juta. Berati penghasilan Anda di luar investasi sebenarnya Rp 200 juta. Dengan demikian, konsumsi Anda sebenarnya Rp 200 juta dibandingkan dengan Rp 200 juta atau 100 persen. Jelas sangat buruk.

Konkretnya, peningkatan harga aset sebesar Rp 100 juta semata-mata karena kenaikan harga rumah dan tanah sebesar Rp 50 juta dan Rp 50 juta lagi diperoleh dari bunga deposito, hasil saham, dan lain-lain, yang notabene bukan hasil investasi baru.

Jujur

Poin penting dari ilustrasi di atas sebenarnya adalah, ketika hendak mengimplementasikan rencana investasi Anda, posisi keuangan dan investasi pada akhir 2008 harus dilihat jujur dan transparan. Cermati dari mana sumber dan asal-usulnya dan dihitung peningkatan aset Anda berdasarkan hasil investasi murni tahun 2008.

Yang paling mendasar, tentukan tujuan keuangan Anda pada 2009, lalu siapkan rencana mencapainya melalui tindakan investasi.

Katakanlah, pada 2009 tujuan investasi Anda meningkatkan aset sebesar 20 persen menjadi Rp 1.200 juta. Seperti ilustrasi di atas, Anda mesti memilah dulu, mana peningkatan aset yang murni hasil investasi 2009 dan mana yang karena penyesuaian harga.

Katakanlah, yang karena penyesuaian harga tanah dan rumah Anda sebesar Rp 50 juta (sama seperti tahun 2008), berarti peningkatan aset yang murni karena investasi diharapkan Rp 150 juta. Inilah tujuan keuangan Anda, yakni memperoleh imbal hasil investasi sebesar Rp 150 juta.

Meski begitu, jangan lupa, dari Rp 150 juta itu diharapkan ada kontribusi dari investasi yang sudah berjalan minimal Rp 50 juta. Berarti tambahan hasil investasi baru yang mesti diperoleh pada tahun 2009 sebesar Rp 100 juta.

Bagaimana cara meraihnya? Anda memiliki penghasilan noninvestasi tahun 2009 sebesar Rp 150 juta. Berarti, dari sejumlah dana itu harus ada yang Anda sisihkan dan investasikan sehingga mampu menghasilkan Rp 100 juta tahun 2009. Seandainya saja Anda sisihkan Rp 50 juta dan ditabung, maka perolehan investasi Anda Rp 50 juta plus bunga tabungan. Jelas tidak mencapai target.

Oleh karena itu, untuk mencapai imbal hasil investasi lebih besar Anda mesti menyusun ulang portofolio investasi Anda, termasuk investasi yang sudah berjalan maupun investasi baru. Selamat mencoba.

Kompas

No comments: