Monday, January 7, 2013

Tanggung Jawab Atasan

JAKARTA, KOMPAS.com - Suatu hari, Laurentius Laba, chief executive officer sebuah perusahaan multinasional di Jakarta menghadapi persoalan pelik. Komisaris utama dari perusahaan meminta ia ikut pameran produk di Jakarta. Ia kaget karena sepengetahuan dia, ada aturan tidak tertulis yakni pameran seperti itu hanya untuk kalangan tertentu. Tidak bisa ”diintervensi” perusahaan dari genre berbeda. Bisa dianggap tidak beradab.

Di dalam rapat, Laurentius mengatakan kepada komisaris utama itu bahwa perusahaan ”tidak bisa ikut pameran itu” karena ada aturan mengikat. Namun pemegang saham terbesar itu tidak mau tahu. Pokoknya perusahaan harus ikut serta. Laurentius pun terpojok. Sebagai CEO, ia tidak ingin perusahaan yang ia pimpin melakukan ketidakpantasan.

Dalam galau dan geram, ia terbang ke tempat wisata Raja Ampat di Papua. Ia tidak hirau pameran itu akan digelar lima hari lagi. Di Raja Ampat, ia melakukan pelbagai olahraga yang memacu adrenalin.  Namun ia hanya bisa mereduksi ketegangannya. Ia pun kembali ke Jakarta. Begitu tiba, ia meminta para stafnya ikut pameran itu. Bayangan risiko  ia abaikan.

Pameran akhirnya dibuka. Para peserta pameran protes  mendesak penyelenggara pameran ”mengusir” perusahaan yang dipimpin Laurentius. Laurentius tanpa basa basi, ia meminta para stafnya segera mundur dari pameran. Kemudian memberi laporan singkat kepada komisaris utama. Komisaris utama  hanya berkata,” Baiklah tidak masalah.”

Dari kasus ini Laurentius menarik pelajaran besar. Di satu sisi ia boleh bertahan dengan prinsip kebenaran yang ia anut. Namun pada sisi lain, ia mesti mendengar perintah pemilik perusahaan yang menurut aturan perusahaan, berwenang mengeluarkan perintah kepadanya.

Pengungkapan peristiwa ini  menarik disimak. Umumnya CEO cenderung bertahan pada kebenaran yang sejalan dengan hukum, dan karena itu berani menyatakan ”tidak” kepada pemilik. Bukan apa-apa, ia tidak ingin perusahaan terjerat  hukum. Kalau pemilik perusahaan tetap bersikeras, para CEO ideal ini umumnya akan meminta keluar dari perusahaan.

Namun ada juga CEO yang memilih melepas prinsip kebenaran yang ia anut, saat pemilik bersikeras dan memaksa. Namun CEO cerdas tersebut biasanya meminta perintah tertulis agar jika timbul masalah hukum, ia tidak perlu bertanggung jawab. Menjadi tanggung jawab pemilik.

Beberapa pemilik perusahaan besar di Indonesia cenderung seperti itu. Ada kasus di mana komisaris utama tidak berkenan mendengar advis eksekutifnya. Perusahaan pun terjerembap. Ada pula perusahaan, terutama di perbankan, eksekutifnya malah yang melampaui batas sehingga perusahaan terjerembap.

Kita mesti  selalu memetik hikmah dari peristiwa-peristiwa besar yang membuat perusahaan besar dan raksasa tersungkur karena keliru mengambil putusan.

Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com

No comments: