Sunday, November 7, 2010

Menghindari Jebakan Pasar Saham

Minggu, 7 November 2010 | 03:57 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi keuangan

Anda sudah berinvestasi di pasar saham? Bagaimana hasilnya? Sebagian dari Anda boleh jadi sudah menikmati keuntungan besar. Tetapi, sebagian lagi juga sangat mungkin merasa jera dan mundur dari pasar saham karena mengalami kerugian.

Lepas dari situasi tersebut, bagi Anda yang selama ini sudah berhasil menuai untung, jangan dulu bergembira. Sebab suatu ketika Anda bisa saja ”terpeleset” dalam jual-beli saham. Begitupun bagi Anda yang merasa jera, semestinya tidak perlu putus asa. Sebab peluang menangguk keuntungan dari investasi di saham sangatlah besar. Ada beberapa jebakan di pasar modal yang layak diwaspadai.

Pertama, jebakan kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG). Indeks yang melesat tinggi, bagi kalangan awam mungkin ditafsirkan sebagai indikasi bagus untuk memborong berbagai saham, dengan harapan saham-saham tersebut akan terus mengalami kenaikan harga seiring kenaikan indeks. Padahal realitasnya belum tentu demikian. Kenaikan indeks tidak selalu diikuti kenaikan harga saham secara menyeluruh. Banyak saham yang harganya malah merosot. Sebab, kenaikan indeks lebih dipengaruhi pergerakan harga dari saham-saham yang memiliki kapitalisasi besar. Ringkasnya, naiknya indeks tidak selalu cerminan dari keseluruhan kinerja saham yang ada di bursa.

Saham-saham yang mendorong naiknya indeks tentu memiliki pembeli dalam jumlah besar. Siapa yang melakukan pembelian? Investor institusi atau investor ritel (perorangan)? Apakah mereka investor asing atau investor lokal? Apakah tujuan mereka membeli untuk dipegang dalam kurun waktu yang lama atau sekadar trading. Kalau yang membeli itu adalah investor institusi lokal, lazimnya mereka membeli untuk dipegang dalam kurun waktu cukup lama. Tetapi, kalau yang membeli itu adalah investor asing, tidak ada jaminan mereka akan memegang dalam kurun waktu yang lama. Artinya, kenaikan indeks yang tiba-tiba bisa saja mengalami koreksi atau penurunan cepat secara tiba-tiba pula, ketika investor asing tersebut menjual kembali saham yang dibelinya.

Oleh karena itu, pergerakan kenaikan indeks yang terlalu cepat sesungguhnya bukanlah hal bagus. Akan lebih bagus jika indeks bergerak, seiring dengan pergerakan harga saham yang berdasarkan membaiknya kinerja fundamental dari perusahaan yang mencatatkan sahamnya di pasar modal. Jadi bukan semata-mata karena ada pembelian besar-besaran oleh investor asing.

Jebakan semu

Kedua, jebakan harga semu. Kenaikan harga sebuah saham secara tiba-tiba bukan pula berita bagus. Apalagi jika tidak ada alasan fundamental yang mendasari kenaikan harga saham tersebut. Lebih dari itu, kalau volume transaksi terhadap saham yang harganya mengalami kenaikan tinggi itu tidak terlalu besar, kecurigaan pantas dilekatkan ke saham tersebut, sebagai saham yang sedang ”digoreng” oleh para bandar.

Saham yang mengalami pergerakan harga akan menarik perhatian. Yang tertarik akan ikut serta membeli. Ketika membeli saham tersebut, harganya biasanya sudah telanjur tinggi. Dan ketika harga sudah tinggi, maka pihak yang ”menggoreng” akan menjual seluruh saham yang dimiliknya. Dampaknya, harga saham ”gorengan” itu akan gosong dan terjun bebas. Jadi, jangan pernah tertarik untuk membeli saham-saham yang tiba-tiba melesat tinggi.

Serakah

Ketiga, jebakan keserakahan. Selain jebakan yang pertama dan kedua di atas, masih ada jebakan lain yang lebih berbahaya, yakni jebakan keserakahan. Dan jebakan ini bukan saja bisa menimpa investor berkategori trader, tetapi juga termasuk investor saham yang masuk kalangan growth investor maupun value investor.

Saham yang sudah dipegang cukup lama dan kebetulan kinerja perusahaan emiten mengalami peningkatan biasanya akan berimbas pada kenaikan harga. Bagi Anda yang sudah memegang saham dimaksud sejak lama, tentu telah mengantongi potential gain dari kenaikan harga saham itu. Kenapa potential gain? Ya karena sahamnya masih dipegang dan belum dijual. Dalam situasi begini, ironisnya kerap ada ”bisikan” di telinga investor untuk jangan dulu menjual sahamnya.

Katakanlah, setelah dipegang selama 1 tahun, harga saham meningkat 30 persen. Karena peningkatannya cukup tinggi, membuat si investor penasaran dan mengharapkan adanya peningkatan lagi, dengan asumsi, investor lain akan turut serta memburu saham dimaksud. Sayangnya, yang sering kali terjadi adalah potential gain yang 30 persen itu hilang karena investor lain malah menjual saham dimaksud dan harganya kemudian turun.

Oleh karena itu, sangatlah pantang untuk menjadi ”serakah” dalam investasi saham. Jika Anda mematok target 30 persen kenaikan harga, maka ketika harga saham sudah tercapai, mestinya saham tersebut langsung dijual. Tidak perlu menyesal kalau ternyata harga saham itu terus meroket. Itu bukan rezeki Anda.

Keempat, jebakan rasa takut. Seorang investor di pasar saham kerap kali mengalami kerugian karena tidak bisa menahan rasa takutnya. Ketika saham yang dibeli mengalami penurunan harga, mereka langsung merasa takut harga sahamnya semakin merosot. Dan jika tidak mampu lagi mengontrol rasa takut, saham yang sudah dibeli langsung dijual dan yang diperoleh hanya kerugian. Padahal, setelah dijual saham tersebut bisa kembali naik dan bahkan semakin tinggi harganya.

Bagaimana mungkin? Sangat mungkin. Pergerakan harga saham harian tidak selalu dipicu oleh faktor fundamental. Tetapi, lebih sering karena sekadar sentimen pasar.

KOMPAS

No comments: