Sunday, July 4, 2010

Dana Pendidikan

ADLER HAYMANS MANURUNG
PRAKTISI KEUANGAN

Pendidikan merupakan tabungan yang paling mahal dan akan dihargai anak-anak ketika orangtuanya tidak ada lagi. Dana pendidikan merupakan dana yang dipersiapkan keluarga untuk kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Biaya pendidikan semakin lama semakin besar. Oleh karena itu, dana pendidikan harus dipersiapakan jauh-jauh hari dan bukannya ketika anak akan masuk sekolah.

Keluarga yang sudah memahami pengeluaran keluarga dan memiliki perecanaan keuangan biasanya telah mempersiapkan dana pendidikan sejak anak lahir.

Ada sejumlah tahapan dalam mempersiapkan dana pendidikan. Pertama, menentukan sekolah anak. Keluarga harus tahu dengan jelas pendidikan yang diinginkan bagi sang anak dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Keluarga tidak bisa memaksakan anak untuk bersekolah di sekolah yang standar nilainya jauh di atas kemampuan anak.

Kedua, menghitung seluruh biaya yang diperlukan untuk pendidikan anak-anak. Keluarga harus mengumpulkan informasi mengenai biaya yang dibutuhkan untuk pendidikan anak-anak. Biaya tersebut termasuk biaya sekolah, biaya pembangunan, biaya rekreasi, biaya buku-buku, serta biaya lain.

Tingkat inflasi dan bunga

Ketiga, menentukan tingkat inflasi mulai sekarang sampai anak masuk sekolah bahkan ketika anal-anak menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Tingkat inflasi bisa diperhitungkan dengan menggunakan asumsi tingkat inflasi sekarang. Bila tingkat inflasi sekarang terlalu kecil, estimasi tingkat inflasinya harus dinaikkan. Bila tahun ini kita mempunyai inflasi 5 persen, keluarga sebaiknya menaikkan inflasi sekitar 6 persen sampai dengan 7 persen.

Pemerintah sendiri mempunyai inflasi sesuai harapan, moderat, dan terjelek. Keluarga juga bisa bertanya kepada lembaga penelitian atau lembaga yang menerbitkan inflasi, seperti Badan Pusat Statistik atau pakar ekonomi, agar bisa mendapatkan angka inflasi yang valid dan dipercaya untuk melakukan estimasi ke masa mendatang.

Keempat, melakukan perhitungan terhadap tingkat bunga yang berlaku pada masa mendatang. Tingkat bunga yang diramalkan pada masa mendatang tersebut tidak terlepas dari tingkat inflasi yang diestimasikan. Tingkat bunga merupakan refleksi dari tingkat inflasi yang berlaku. Oleh karena itu, keluarga harus mendapatkan tingkat bunga riil yang dikehendaki pemerintah setiap tahunnya. Bila tingkat bunga riil yang dikehendaki pemerintah sekitar 1 persen sampai dengan 2 persen seperti sekarang ini, tingkat bunga yang berlaku merupakan hasil jumlah tingkat bunga riil dengan inflasi. Bila inflasi 7 persen, tingkat bunga yang berlaku sebesar 8 persen sampai dengan 9 persen.

Kelima, menentukan besaran tabungan yang dilakukan. Bila dana yang dibutuhkan telah ditentukan dan jumlah waktu anak untuk sampai sekolah tersebut, keluarga dapat menentukan jumlah tabungan setiap bulan. Misalnya, keluarga membutuhkan dana sebesar Rp 75 juta, di mana dana ini dibutuhkan lima tahun mendatang atau 60 bulan, maka dana yang harus disisihkan dari pendapatan keluarga setiap bulannya sebesar Rp 1,25 juta. Artinya, dana tabungan sebesar Rp 1,25 juta ini disimpan di bawah bantal belum dikembangbiakkan melalui investasi. Bila keluarga melakukan investasi, dana yang disisihkan akan lebih kecil dan sangat baik bila lebih lama melakukan investasi.

Dalam melakukan pilihan investasi, keluarga dapat melakukan investasi sendiri atau menempatkannya pada manajer investasi dan juga menggabungkannya dengan asuransi. Bila investasi sendiri yang dipergunakan, investor membutuhkan pengetahuan investasi dan memerlukan waktu. Bila didepositokan, keluarga harus mendapatkan informasi yang lebih luas, baik tingkat bunga maupun kondisi perbankan yang bersangkutan. Semua tindakan keluarga pasti mengandung risiko dan harus dipahami.

Asuransi pendidikan

Bila keluarga memilih asuransi pendidikan, harus disadari bahwa selain membayar premi asuransi, keluarga juga melakukan investasi. Premi asuransi berguna untuk membayar biaya pendidikan bila keluarga tidak mampu lagi membayar cicilan investasi. Ketidakmampuan ini bisa saja disebabkan penanggung premi tidak bisa bekerja atau meninggal dunia.

Bila keluarga mengambil asuransi, pengeluaran keluarga untuk menabung dana pendidikan ini akan lebih besar. Pada sisi lain, keluarga tidak perlu pusing memikirkan investasi yang akan dilakukan agar tercapai dana pendidikan yang dikehendaki. Risiko di masa mendatang telah dialihkan keluarga kepada pihak asuransi melalui pembayaran premi tersebut. Namun, asuransi ini tidak dibutuhkan bila keluarga tahu persis kesehatan dan ketidakpastian di masa mendatang. Keluarga harus tahu persis kemampuan keluarga agar bisa menyediakan dana pendidikan tersebut.

Seperti diuraikan sebelumnya, dalam mempersiapkan dana pendidikan ini, keluarga akan menghadapi risiko, baik risiko pengetatan pengeluaran keluarga, risiko investasi, dan risiko dana kebutuhan yang membengkak karena situasi yang terjadi. Keluarga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko tersebut dengan memerhatikan dana pendidikan secara saksama.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

No comments: