Sunday, June 13, 2010

Expatriat Pun Berniaga Maya dari Bali

Laporan wartawan KOMPAS Robertus Benny Dwi Koesnanto

Minggu, 13 Juni 2010 | 09:40 WIB

BALI, KOMPAS.com — Selain Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan niaga, posisi Bali sebagai pusat pariwisata sekaligus pintu ekspor aneka produk ke mancanegara rupanya mendapat tempat tersendiri dalam bisnis di dunia maya.

Sejumlah pemodal melihat Pulau Dewata sangat strategis untuk membuka tokonya. Di Denpasar, Bali, ada toko online yang menduduki peringkat ke-56 untuk kategori Indonesia versi Alexa.com.

Situs itu memajang beraneka ragam barang. Kantor utamanya di Denpasar, Bali. Pengelolanya justru expatriat dari Belanda, Arnold Sebastian Egg dan Rymco Lupker.

Keduanya mengaku, selain karena dikenal di seluruh dunia sehingga lebih mudah untuk menawarkan barang-barang, Bali dipilih juga karena dirasa lebih nyaman untuk berkantor.

Ini sekaligus menggambarkan keberadaan toko online semata-mata tidak terbatas tempat asal infrastrukturnya mendukung.

Dibangun sejak 2005, menurut Arnold, situsnya perlahan tapi pasti telah memosisikan diri sebagai situs pemasangan iklan terbesar dengan lebih dari 1 juta pengunjung per hari.

Berdasarkan Alexa.com, pada April 2010 situs ini berada di peringkat ke-45, tertinggi dibanding situs toko online lain di Indonesia. Melalui situs ini, perusahaan dan atau perorangan dapat menjual dan membeli produk dan atau jasa secara mudah, cepat, dan aman.

Menjadi member di toko gratis tanpa ada biaya sedikit pun. Bagi pembeli, misalnya, penamaan kategori yang populer didukung dengan fitur kotak pencarian iklan yang memberikan hasil yang relevan terhadap apa yang dicari.

"Sedangkan bagi penjual, selain promosi di situs-situs ternama, toko online mini dimungkinkan di sini dan dilengkapi dengan URL subdomain pribadi," kata Arnold di Denpasar, awal Juni ini.

Rymco menimpali, Indonesia telah membangun potensi transaksi online yang luar biasa. Ini antara lain didukung dengan terus meningkatnya pengguna internet yang kini diperkirakan jumlahnya mencapai 30 juta orang.

"Meskipun ini baru awal dari pertumbuhan industri jual beli online di Indonesia, potensi Indonesia sangat besar," terangnya.

Rymco dan Arnold sepakat, kaum perempuan memegang peranan penting dalam bidang e-commerce dan penggunaan internet. Hal itu antara lain dipengaruhi dengan keaktifan kaum perempuan dalam aneka jejaring sosial online, seperti Facebook dan Twitter.

Dia mengungkapkan, dari data yang ada, pertumbuhan jual beli secara umum mencapai sekitar 15 persen per bulan pada tahun 2009.

Sementara transaksi jual beli produk perempuan pertumbuhannya jauh melampaui pertumbuhan transaksi jual beli online secara umum, yakni mencapai sekitar 85 persen sejak saat itu hingga lima bulan pertama tahun ini per bulan.

"Lebih dari itu, kami senang situs kami dan situs lain yang sejenis telah memberi pengaruh signifikan bagi pengusaha kecil hingga menengah untuk memiliki akses yang sama ke pasaran luas seperti yang dimiliki pengusaha besar,'' tambah Rymco.

Ada lagi toko online berbasis di Bali yang belum masuk peringkat 100 utama di Alexa.com, yang juga dikelola oleh ekspatriat. Rencananya, situs itu mulai tahun ini akan beroperasi sepenuhnya.

Pendiri sekaligus CEO-nya adalah Christopher Benz, alumnus Vilanova University Philadelphia, AS. Dia terpilih dalam nominasi Ernst and Young sebagai Social Entrepreneur of the Year Award tahun 2008. Setahun kemudian, dia dinobatkan majalah Business Week sebagai salah satu Pengusaha Sosial Amerika paling menjanjikan.

Sebelum mengelola itu, dia sudah merintis dua situs yang fokus pada penghubung produsen berbagai macam produk, terutama kerajinan hingga fashion, di beberapa daerah di Indonesia dengan pasar ekspor.

Sementara situs lainnya melayani pembelian grosir dan perusahaan di seluruh dunia dengan pengadaan produk berkualitas dengan jumlah lebih dari 13.000 produk di katalognya.

Dua hal itu pula yang kemudian menarik Benz untuk tinggal di Bali dari dua tempatnya berdomisili sebelumnya, New York dan London.

Benz tertarik membuka toko online di Indonesia setelah beberapa tahun lalu pernah kesulitan mengirim hadiah ke salah satu temannya di negeri ini melalui toko online.

Melihat ini sebagai kesempatan, ia lalu melakukan survei ke 4 juta-5 juta warga Indonesia yang tinggal di luar negeri. Poinnya sama dengan pengalamannya, yakni apa yang dilakukan ketika akan mengirim sesuatu kepada sanak saudara maupun teman mereka di Indonesia.

Rupanya sebagian besar masih melalui jalan offline, yakni sekadar mengirim barang melalui pos atau transfer sejumlah uang. "Ini menarik karena berarti kesempatan untuk membuka toko online di Indonesia masih besar," kata Benz, beberapa waktu lalu di Sanur, Bali.

Legalitas menjadi hal yang dinilai paling penting oleh Benz. Situsnya kini dilengkapi dengan berbagai sistem teknologi canggih untuk menjamin keamanan belanja online.

Ini setidaknya menghapus reputasi Indonesia yang termasuk dalam jajaran atas rawan pencurian. Katakanlah di beberapa mesin pemroses kartu kredit secara online, seperti Authorize.net, jika mesin mendeteksi orang yang belanja dari Indonesia, otomatis mesin meminta otorisasi.

Kita diharuskan mengirim scan kartu kredit bolak-balik dan menandatangani pernyataan bahwa kartu kredit itu benar milik kita.

Kehadiran situs itu sedikit banyak memberi nama baik bagi Indonesia. Tingkat penipuan juga menurun seiring makin berkualitasnya cara pandang orang Indonesia terhadap internet.

"Bukan hanya menawarkan lebih dari 40.000 produk, mulai dari buku hingga peralatan elektronik, dari produk fashion hingga kerajinan," kata Benz.

Ia ingin memberikan kenyamanan sekaligus keamanan berbelanja online dengan daerah tujuan ke seluruh wilayah Indonesia. Untuk keamanan proses pembayaran, penggunaan kartu kredit dapat melalui telepon dan atau situs web sebagaimana mestinya.

KOMPAS

No comments: