Sunday, May 23, 2010

Mengapa Harga Saham Naik-Turun?

Minggu, 23 Mei 2010 | 03:52 WIB


Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan

Pada tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia pernah melewati level 3.000 dan merupakan level tertinggi sejak berdirinya BEI. Kenaikan IHSG sampai pada level 3.000 membuat berbagai pihak merasakan keuntungan dan menginginkan terus berlanjut. Bagi para ekonom maupun analis finansial, IHSG merupakan indikator utama ekonomi. Artinya, kenaikan IHSG menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang. Sebaliknya, penurunan IHSG menunjukkan adanya penurunan ekonomi pada masa mendatang.

Berbagai pihak mempunyai pendapat mengenai IHSG ini dan dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok IHSG akan melebihi 3.000 serta kelompok IHSG di antara 2.900 dan 3.000, tetapi kedua kelompok setuju IHSG meningkat dari IHSG pada akhir tahun 2009.

Sri Mulyani

Dalam dua minggu terakhir, kita menyaksikan bahwa harga saham di bursa turun dan naik. Tetapi, penurunan tajam dari level 3.000 sampai dengan level 2.800 merupakan penurunan yang dominan. Penurunan ini sempat dinyatakan disebabkan mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pihak tertentu terlalu memaksakan alasan ini.

Namun, penurunan IHSG bukanlah seutuhnya karena mundurnya Menteri Keuangan, bahkan oleh faktor eksternal yang sangat berpengaruh. Faktor eksternal yang sangat berpengaruh karena bursa New York menurun tajam juga pada periode dua minggu terakhir dan tepatnya ketika pengumuman Menteri Keuangan mundur dari jabatan tersebut.

Pada sisi lain, ada problem di Yunani

yang sangat memengaruhi negara-negara Eropa. Jerman harus turun tangan untuk membereskan persoalan Yunani tersebut dengan memberikan bantuan pinjaman.

Sesuai dengan uraian tersebut, kenaikan atau penurunan IHSG disebabkan kenaikan atau penurunan harga saham perusahaan yang terdaftar di bursa tersebut. Jika harga saham perusahaan tersebut naik secara keseluruhan, IHSG akan naik. Demikian juga jika harga saham perusahaan turun secara keseluruhan, IHSG turun. Bila harga saham yang naik seimbang dengan harga saham yang turun, IHSG akan tidak naik dan turun. Hal itu disebut stagnan atau berfluktuasi sekitar level tersebut.

Faktor internal

Kenaikan dan penurunan harga saham bisa diakibatkan faktor internal perusahaan dan faktor eksternal perusahaan. Faktor internal perusahaan merupakan informasi yang berasal dari perusahaan. Adapun kenaikan laba bersih perusahaan merupakan faktor yang membuat harga saham naik.

Kenaikan laba bersih ini tidak terlepas dari usaha manajemen perusahaan melakukan tindakan ekspansi atau meningkatkan pendapatan perusahaan. Biasanya, informasi dari perusahaan yang membuat harga saham naik akan diinformasikan secepatnya. Tetapi, informasi yang membuat harga saham perusahaan turun umumnya ditutup-tutupi oleh perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus transparan agar investor mengetahui dan dapat menilai harga saham guna membuat keputusan atas saham tersebut.

Perusahaan selayaknya membuat publik ekspose yang tidak diwajibkan oleh regulator. Keterbukaan yang tidak disyaratkan regulator ini dikenal dengan keterbukaan voluntir (voluntary disclosure). Umumnya, perusahaan yang melakukan voluntary disclosure mempunyai harga saham yang lebih stabil dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan voluntary dislcosure.

Menurut penelitian, perusahaan yang mempunyai informasi bagus akan diumumkan secepatnya dan perusahaan yang mempunyai informasi jelek akan diumumkan paling lama. Hal ini dapat terlihat pada pengumuman laporan keuangan perusahaan yang harus diumumkan paling lambat tanggal 31 Maret untuk periode tahun sebelumnya.

Perusahaan yang mempunyai laporan keuangan bagus akan mengumumkan atau melaporkannya kepada badan pengawas bursa, bahkan bursanya sendiri secepatnya sekitar awal bulan Februari. Sedangkan perusahaan yang mempunyai laporan keuangan yang kurang bagus akan mengumumkannya pada akhir periode persyaratan yang diinginkan peraturan oleh regulator. Faktor internal ini merupakan faktor yang bisa dikendalikan perusahaan sehingga manajemen perusahaan mencoba melakukan pengendaliannya untuk kepentingan perusahaan

Faktor eksternal

Faktor eksternal juga merupakan faktor penting dalam membuat penurunan atau kenaikan harga saham di bursa. Faktor eksternal merupakan faktor yang tidak bisa dikendalikan perusahaan sehingga sering disebut dengan systematic risk bila risikonya muncul karena faktor eksternal tersebut.

Faktor eksternal dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu faktor eksternal yang datang dari dalam negeri dan faktor eksternal dari luar negeri. Faktor eksternal ini seperti kebijakan pemerintah dan juga hukum permintaan serta penawaran atas harga barang-barang yang ditunjukkan inflasi dan juga valuta asing.

Salah satu faktor eksternal yang cukup dominan memengaruhi bursa adalah tingkat bunga. Tetapi, kebijakan pemerintah tentang utang juga bisa memengaruhi bursa. Penurunan bursa lain, baik bursa regional (yang terdekat) maupun bursa negara-negara maju, seperti New York dan London, juga memengaruhi harga saham. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa Bursa Efek Indonesia berkointegrasi dengan bursa-bursa tersebut.

Investor harus memerhatikan gejolak pasar di berbagai negara dan kebijakan yang diambil pemerintah maupun pemerintah negara-negara maju yang mengakibatkan harga saham mengalami perubahan. Sering kali faktor eksternal lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan faktor internal perusahaan.

KOMPAS

No comments: