Wednesday, December 2, 2009

Pertama dalam Sejarah! Emas Tembus 1.200 Dollar AS

Rabu, 2 Desember 2009 | 08:13 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Harga emas mencapai rekor di atas 1.200 dollar AS per ounce untuk pertama kalinya pada Selasa (1/12) waktu setempat karena melemahnya mata uang AS mendorong permintaan untuk logam mulia yang dipandang sebagai investasi safe haven.

Emas mencapai sebuah rekor tertinggi 1.201,63 dollar per ounce di Pasar Emas London (London Bullion Market) pada 1639 GMT (23.39 WIB). Sebelum turun sedikit pada 1.199,65 dollar AS.

Sementara di New York Mercantile Exchange, harga emas pengiriman terkini ditutup pada 1.199,10 dollar AS per troy ounce, naik dibanding Senin di posisi 1.181,10 dollar AS.

Emas telah mencapai puncak tertinggi dalam sejarah selama beberapa hari dan minggu karena dollar AS merosot terhadap saingan utama euro dan yen. "Seperti biasa, minggu menyakitkan lain untuk mata uang AS melihat tertinggi baru untuk emas," kata analis komoditas VTB Capital, Andrey Kryuchenkov, Selasa.

Dalam beberapa pekan terakhir, emas telah memecahkan rekor didukung ketakutan inflasi dan meningkatnya langkah oleh bank sentral untuk mendiversifikasi aset dari greenback.

Logam mulia, dua penggerak pembeli utama perhiasan dan investasi, juga mendapatkan energi di iklim ekonomi yang tidak menentu dan ketakutan dari memuncaknya krisis utang Dubai. "Emas terus diuntungkan dari sebuah ’badai sempurna’ mata uang yang lemah, suku bunga minimal, kekhawatiran tentang inflasi, dan ketakutan tentang masa depan stabilitas keuangan," kata analis Capital Spreads Simon Denham.

"Tidak ada kekhawatiran ini tampak seperti akan pergi dalam waktu dekat dan sehingga berbaris berlangsung lebih tinggi."

Mata uang AS yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang saingan, merangsang permintaan terhadap logam, dan akhirnya mengangkat harga. Harga emas juga telah didorong lebih tinggi setelah pembelian emas IMF minggu lalu oleh bank sentral Sri Lanka.

Dana Moneter Internasional (IMF) mengumumkan telah menjual 10 ton emas kepada bank sentral Sri Lanka seharga 375 juta dollar AS sebagai bagian dari restrukturisasi sumber daya keuangan.

Rekor kenaikan juga datang setelah surat kabar minggu lalu melaporkan bahwa India mempertimbangkan pembelian lebih cadangan emas IMF. "Sentimen keseluruhan pada emas masih tetap bullish, juga didorong oleh rumor pekan lalu bahwa India sudah siap untuk membeli lebih banyak emas IMF, menurut sebuah artikel di Financial Chronicle India," kata analis Kryuchenkov.

Editor: Edj

Sumber : ANT,AP

KOMPAS

No comments: