Friday, December 4, 2009

Kami Hubungkan Anda ke Blogger

Jumat, 4 Desember 2009 | 09:02 WIB

KOMPAS.com - Kolaborasi kami dengan pihak KKG kali ini, terutama dengan Kompas, Kompas.com, dan GPU, adalah satu langkah untuk practice what we preach ketika kami berbicara tentang New Wave Marketing. Karena Kompas dan Kompas.com pada dasarnya adalah platform konektor yang ada di offline dan online, yang mana dapat menghubungkan konsep ini ke dunia yang lebih luas.

Kekuatan era New Wave yang serba saling terhubung seperti sekarang juga kami buktikan dalam kolom ini, di mana kami melibatkan beberapa para pembaca Kompas dan Kompas.com, untuk ikut terlibat dalam proses pembuatan buku yang nanti akan diluncurkan setelah rangkaian artikel di kolom ini selesai.

Tanggapan mereka atas berbagai tulisan yang kami muat di Kompas dan Kompas.com, membuktikan bahwa di dunia yang horisontal seperti sekarang, kalau kita terhubung dan membuka diri, kita dapat untuk belajar dari sebanyak mungkin orang. Contohnya dari Mas Pitra Satvika (www.media-ide.com) yang mencoba menanggapi artikel ”Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter” yang dimuat di Kompas (08/11/2009), dengan menambah contoh kasus yang terjadi di tanah air. Mari kita simak tulisannya.

Karakter Fiktif dalam Social Media

Tulisan ini agak terlambat, tapi mudah-mudahan belum usang ya. Sudah tahu kan kalau Sarah Aprilia itu benar-benar karakter fiktif? Seperti disebutkan di situs resminya, Sarah Aprilia alias Raline Rahmat Shah merupakan brand ambassador produk Bask Cologne keluaran dari Mustika Ratu. Sayangnya kemunculan brand ini terlambat karena gaungnya di social media sudah berkurang. Karakter Sarah Aprilia adalah murni rekaan untuk membangun hype Bask di ranah maya. Hayo mengaku, siapa yang merasa tertipu?

Sepertinya aksi Sarah Aprilia ini mengilhami Daun Muda Award 2009, dimana diadakan kontes untuk membangun karakter fiktif di ranah maya. Para peserta menciptakan karakternya sendiri (tanpa harus ada relevansi dengan suatu brand) dan mengembangkannya melalui berbagai kanal social media. Beberapa karakter menuai kontroversi karena malah membangun kampanye bernada negatif, seperti seorang karakter yang menderita sakit kanker dan akhirnya meninggal. Sesuatu yang awalnya menuai rasa simpatik, namun malah mendapat cercaan karena ketahuan kalau karakter yang dibangun adalah palsu. Hal ini tentunya berbahaya kalau karakter tersebut merepresentasikan sebuah brand. Cerita lainnya tentang kampanye negatif yang berbalik arah menyerang brand adalah kisah Laura yang hilang, yang ternyata diculik dalam film Pocong.

Kalau diingat-ingat dulu saat pertama kali ngeblog, selalu ada pesan dari para blogger lain kalau ngeblog itu harus jujur, jangan dibuat-buat, karena pasti akan ketahuan oleh orang lain. Nggak tahu apakah pesan seperti ini masih berlaku saat brand semakin sering bereksperimen memanfaatkan alat-alat social media (blog, Facebook, Twitter, dll) untuk menyampaikan pesannya.

Bisa jadi kalaupun ada brand yang melakukannya, ia tidak akan dicerca (meski ketahuan kalau karakter itu adalah karakter palsu), asalkan ia bertindak tepat. Sesuatu yang sebenarnya sudah dilakukan beberapa novelis di luar sana. Mereka mengambil sudut pandang seorang tokoh rekaan kreasinya dan menulis kejadian yang dialami tokoh itu melalui blog. Si tokoh rekaan pun berinteraksi dengan pembacanya melalui komentar. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh tokoh rekaan dalam sebuah novel buku. Respon yang didapat dari para pembaca pun positif.

Lalu apa yang membuat sebuah karakter fiktif dalam social media disukai? Yang jelas bukan yang membuat audiensnya merasa kasihan atau direndahkan. Karakter yang justru bisa memberikan inspirasi positif, kesegaran karena lucu, atau membuat audiensnya menjadi terharu setelah membacanya. Untuk rujukan, contohlah blogger-blogger senior yang setiap tulisannya bisa mencerahkan audiensnya. Atau yang membangun kelucuan lewat karakter fiktif yang merepresentasikan dirinya sendiri.

Sepertinya sejak munculnya Sarah Aprilia dan Daun Muda Award, bisa-bisa tahun 2010 ini dunia social media akan dipenuhi oleh karakter fiktif. Nggak masalah sih. Siapapun karakter itu, asalkan eksistensinya bisa memberikan sumbangan positif di ranah social media tidak akan menjadi masalah.

Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

No comments: