Thursday, October 29, 2009

Process is Collaboration

Kamis, 29 Oktober 2009 | 08:03 WIB

KOMPAS.com - Proses merupakan salah satu faktor pemasaran terpenting. Di dunia pemasaran, proses pada hakekatnya menentukan kualitas (quality), biaya (cost), dan pengiriman produk (delivery) dari perusahaan kepada pelanggannya. Kualitas produk dan jasa merupakan buah hati proses yang baik, yang dimulai dari produksi sampai delivery kepada pelanggan secara tepat waktu, efektif, dan dengan biaya yang efisien.

Dalam konteks kualitas, proses adalah bagaimana perusahaan mampu menciptakan suatu sistem yang pada akhirnya dapat memberikan nilai lebih bagi pelanggan. Di dalam konteks cost, perusahaan perlu menciptakan suatu proses yang bisa meningkatkan efisiensi secara finansial dengan tetap mengedepankan kualitas yang terbaik bagi pelanggan. Sedangkan dalam konteks delivery adalah bagaimana melakukan suatu proses penyampaian produk atau jasa secara tepat dan benar sehingga mampu memuaskan pelanggan. Proses delivery yang tepat waktu jelas dapat membawa nilai lebih tinggi bagi para pelanggan.

Untuk terciptanya kualitas yang baik, biaya yang efisien, dan delivery yang tepat waktu, diperlukan sebuah proses value chain yang tertata dan dikelola secara baik. Maka dari itu, elemen proses di dalam pemasaran legacy terkait dengan berbagai aktivitas yang terkait dengan penciptaan value yang mengkonek sisi supply (bahan baku, logistik ke dalam, proses produksi) dan sisi demand (logistik keluar, dan langkah operasional pemasaran lainnya).

Penciptaan value pada dasarnya ditentukan oleh brand sebagai value indicator, service sebagai value enhancer, dan juga process sebagai value enabler. Dengan demikian, penciptaan nilai bagi pelanggan terwujud karena adanya proses yang baik. Berbagai hal yang mereduksi aktivitas pengikisan nilai dalam perusahaan dapat pula terwujud secara baik apabila ada proses yang baik pula.

Elemen proses di dalam pemasaran bukan saja sangat penting, namun juga sangat kompleks karena ia terkait dengan efisiensi dan efektivitas dari sisi supply dan demand. Selain itu, tentunya juga tidak mudah apabila dalam prakteknya yang dikelola bukan saja proses di internal di dalam perusahaan saja (antar departemen), namun juga melibatkan pihak luar (contohnya supplier, jaringan distribusi, konsumen, dan sebagainya).

Untungnya perkembangan teknologi semakin canggih dan berbagai alat mulai dari EDI, RFID, sistem CRM, sistem ERP dan sebagainya yang dipergunakan oleh perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja supply chain, sudah semakin cerdas.

Di era New Wave, aktivitas perusahaan dalam mendesain, membeli, membuat, dan mengirim sebuah barang atau jasa, tentunya akan lebih horizontal karena didukung oleh kekuatan connectivity dari teknologi informasi. Platform teknologi internet yang ada di Dell dengan inisiatifnya Direct2Dell , IdeaStorm, dan StudioDell adalah contoh bagaimana design bukan saja bisa dilakukan secara customized, tapi juga bisa dilakukan secara komunal.

Praktek yang sama juga dilakukan oleh banyak perusahaan mulai dari P&G, Starbucks, Nike, dan lain-lain. Proses membeli, membuat, dan mengirim barang pun sudah semakin terintegrasi dan transparan, di mana perusahaan tidak lagi melihat supplier sebagai supplier, distributor sebagai distributor, dealer sebagai dealer, customer sebagai customer, tapi mereka semua adalah mitra. Mitra di sini bukan sekedar mitra yang manis dimulut alias lip service saja, tapi betul-betul mitra yang memiliki prinsip dasar partnering, seperti vision, intimacy, dan impact yang selaras antar kedua belah pihak untuk menghasilkan proses yang kolaboratif.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

No comments: