Sunday, October 25, 2009

Investasi & Keuangan: Tahapan Kemandirian Finansial

Minggu, 25 Oktober 2009 | 03:06 WIB


Elvyn G Masassya - praktisi keuangan

Sebagian besar orang beranggapan kemandirian finansial adalah situasi di mana yang bersangkutan tidak memiliki ketergantungan lagi dengan uang. Uang tidak perlu lagi dicari karena yang dimiliki sudah sangat banyak dan uang tersebut dalam keadaan ”mampu menciptakan uang”.

Untuk mencapai kondisi puncak di atas ada anak tangga yang mesti didaki. Ringkasnya, kemandirian finansial memiliki tahapan yang mesti dilewati untuk bisa mencapai puncak.

Tahapan pertama menuju kemandirian finansial ada pada diri sendiri, apakah mampu memandirikan logika di atas perasaan; mengatasi keinginan bersikap konsumtif, berinvestasi dengan harapan untung besar tanpa memikirkan risiko, atau berbelanja tanpa melihat kemampuan finansial. Konkretnya, jika belum bisa memandirikan logika dari pengaruh perasaan, maka relatif akan sangat sulit mandiri secara finansial.

Jadi, anak tangga pertama menuju kemandirian finansial tidak lain adalah membebaskan diri dari keinginan yang bersumber dari pengaruh perasaan dan pengaruh orang lain atau lingkungan. Contoh paling konkret adalah jika Anda bermain saham dan atau membeli berbagai produk investasi lain. Kalau keputusan Anda semata-mata didorong pengaruh bujukan penjual kepada Anda, maka Anda sebenarnya belum mampu melewati anak tangga pertama.

Tahap kedua, melepaskan diri dari ketergantungan finansial pada tahap paling mendasar. Artinya, Anda sudah memiliki penghasilan, bisa bersumber dari gaji jika Anda seorang karyawan atau pendapatan sebagai pengusaha maupun profesional.

Penghasilan tersebut bisa disebut anak tangga kedua jika nilainya lebih besar dari kebutuhan pengeluaran paling dasar, yakni sandang, papan, dan pangan. Meskipun mungkin ketergantungan Anda terhadap gaji maupun penghasilan lain sangat besar, tetapi yang lebih penting Anda tidak perlu pinjam sana-sini untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar. Jika Anda masih terjebak berbagai utang yang tidak jelas, termasuk penggunaan kartu kredit yang terus menimbulkan defisit dalam arus kas Anda, maka Anda belum melewati tahap kedua kemandirian finansial. Karena itu, PR Anda adalah bebaskan diri dulu dari semua jerat utang dan ketergantungan terhadap pihak lain, di luar penghasilan resmi Anda.

Tahapan ketiga, kemampuan membuat perencanaan keuangan yang kemudian dijalani disiplin dan konsisten. Umpamakan, Anda sudah tidak mudah lagi dipengaruhi perasaan atau pihak lain dalam tindakan finansial Anda. Semua itu belum berarti apa-apa jika Anda tidak tahu ke mana hendak menuju. Kemandirian finansial adalah tujuan sekaligus akibat kemampuan Anda mendaki. Karena ia berupa tujuan, tentunya tujuan tersebut mesti jelas arahnya. Dengan kata lain, Anda mesti tahu sejak dini, kemandirian finansial seperti apa yang Anda inginkan.

Usia pensiun

Sebutlah kemandirian finansial yang diinginkan adalah saat memasuki usia pensiun yang bisa Anda tentukan sendiri. Pengertian usia pensiun di sini adalah ketika Anda tak perlu lagi memikirkan soal uang sebagai dampak kegiatan Anda.

Bukan berarti Anda tidak perlu bekerja atau melakukan kegiatan yang Anda sukai. Anda bisa bekerja jika Anda mau atau melakukan kegiatan sosial. Yang terpenting motif Anda tidak lagi soal uang, melainkan lebih pada kesenangan, yang membuat Anda tetap merasa hidup atau ingin lebih menikmati hidup.

Nah, jika hal itu yang menjadi tujuan keuangan Anda, maka ketika usia tersebut tiba Anda mestinya tidak lagi memikirkan uang untuk membiayai hidup. Seperti dipaparkan di atas, uang Anda bisa sangat banyak (relatif) atau uang Anda sudah mampu menghasilkan uang. Karena itu, Anda sendiri yang mesti mendefinisikan berapa banyak uang yang pas untuk membiayai kegiatan Anda tanpa perlu dicari lagi uangnya.

Anak tangga terakhir menuju kemandirian finansial adalah anak tangga implementasi perencanaan keuangan. Pada tahap ini, semua yang Anda lakukan adalah agar Anda bisa berada pada puncak kemandirian finansial. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kembali pada anak tangga kedua, apalagi pertama, di mana kegiatan Anda masih banyak dipengaruhi orang lain ataupun perasaan. Kata kuncinya, konsisten pada tujuan keuangan yang telah dirancang dan yakin Anda bisa mengimplementasikannya.

Beberapa contoh yang bisa Anda pertimbangkan pada fase ini adalah mengkaji kembali kondisi finansial Anda, lalu hitung berapa banyak uang atau aset Anda butuhkan, kemudian aset dan uang itu bekerja untuk Anda ketika memasuki usia pensiun.

Langkah berikut, jika Anda memiliki banyak aset tidak produktif, maka aset tersebut mesti dikonversi menjadi aset produktif. Ini menjadi penting sebab besarnya aset belum tentu mendukung Anda, tetapi malah bisa jadi beban karena jika tidak produktif hanya akan menimbulkan biaya. Tentang ini sudah banyak dibahas pada tulisan terdahulu.

Selamat mencoba.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

No comments: