Sunday, October 18, 2009

Investasi Bermain Kontrak Opsi Saham

Minggu, 18 Oktober 2009 | 03:12 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Belakangan ini investor banyak ditawari produk yang kelihatannya belum muncul di bursa, tetapi sebenarnya ada, yaitu Kontrak Opsi Saham atau KOS. Bahkan, produk ini banyak ditawarkan melalui iklan di surat kabar. Awalnya, ditawarkan pendidikan dan bisa online dengan bursa di Amerika. Banyak juga investor yang untung, tetapi ada juga yang rugi.

KOS merupakan produk opsi yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Opsi adalah perjanjian jual atau beli aset pada periode tertentu dan pada harga tertentu. Di Amerika, opsi jual dikenal dengan call option dan opsi beli dengan put option. Bursa opsi di Amerika Serikat adalah Chicago Board Option Trading (CBOT). Opsi ini juga dikenal dengan American Style Option dan European Style Option.

Perbedaan keduanya adalah waktu eksekusi. American Style Option dieksekusi setiap saat selama periode opsi dan European Style Option hanya bisa dieksekusi pada akhir periode. Jadi, perbedaan bukan karena tempat transaksi, tetapi karena waktu eksekusi kontrak aset. Umumnya, investor lebih menyukai transaksi American Style Option daripada European Style Option dikarenakan kebebasan eksekusi dan tidak mungkin kehilangan kesempatan. Bila harga saham meningkat selama periode dan drop mendekati semula menjelang akhir periode, maka pemegang European Style kehilangan kesempatan mengeksekusi harga yang meningkat tadi. Bagi American Style Option, kesempatan selalu ada dan sangat menguntungkan.

Dalam bertransaksi saham opsi call, investor berpandangan pasar akan naik sehingga perlu membeli pada harga tertentu dan selebihnya merupakan keuntungan. Atas terjadinya kontrak tersebut investor harus membayar biaya premium.

Harga pembelian (penjualan) kontrak opsi call (put) saham dikenal dengan Strike Price atau Exercise Price. Misalkan, investor membeli KOS TLKM pada harga Rp 8.550 dengan premium Rp 100 per saham untuk periode tiga bulan Oktober-Desember, maka investor mempunyai biaya Rp 8.650 per saham. Artinya, investor akan dapat membeli saham TLKM dari lawan (disebut writer) pada harga Rp. 8.550 walaupun harganya melebihi atau di bawah harga strike tersebut.

Investor bisa mengeksekusi KOS bila harga melebihi Rp 8.650 agar untung. Bila tiba-tiba harga saham menjadi Rp 10.000 dan investor tetap membeli pada harga Rp 8.550, KOS akan selesai jika eksekusi atas kontrak opsi dilaksanakan.

Sebaliknya, bertransaksi opsi put. Investor melihat pasar mendatang akan turun sehingga perlu melakukan lindung nilai atas saham dan investor dapat menjual pada harga tertentu walaupun harganya drop tajam ke bawah. Artinya, investor tidak perlu merugi walaupun harga turun sehingga harga strike selalu ditentukan tidak jauh berbeda dari harga pembelian investor.

Misalkan, investor bertransaksi opsi put saham ISAT pada harga Rp 4.750 dengan harga put premium Rp 70 per saham. Artinya, harga pulang pokok (break-event) investor Rp 4.680. Bila harga saham ISAT drop sampai Rp 3.250, maka investor pembeli put opsi saham ISAT akan memperoleh harga Rp 4.750 per saham sehingga investor tidak akan merugi Rp. 1.500 per saham karena telah melakukan KOS untuk put pada harga Rp 4.750.

Harus ada gejolak

Salah satu faktor penting dalam transaksi opsi, saham harus punya likuiditas tinggi dan bergejolak sehingga investor ingin mendapat keuntungan dari pergerakan harga saham melalui transaksi opsi saham. Jadi, bukan karena ada opsi saham maka saham menjadi likuid karena filosofi opsi tidak seperti itu. Jangan ada pikiran pengelola bursa atau advis tenaga ahli agar likuiditas saham semakin tinggi, maka diciptakan opsi saham tersebut. Bila dilakukan, maka tidak akan terjadi transaksi karena sahamnya tidak likuid.

Pada sisi lain, investor juga bisa untung bila melakukan strategi lindung nilai pada aset. Misalkan, investor melakukan writer atas saham untuk transaksi call opsi saham. Dalam kasus ini, investor berkewajiban menyerahkan barang atau membayar selisih harga pasar saham dengan harga strike saham tersebut.

Untuk menutup kewajiban tersebut, investor juga bisa langsung membuat transaksi pembelian sahamnya sehingga investor tidak perlu takut atas transaksi penulisan call opsi saham. Adapun penggabungan penulisan call opsi saham dan membeli saham disebut covered call. Investor melakukan penulisan baru membeli saham, tetapi bisa juga sebaliknya, yaitu membeli saham dulu dan baru berani melakukan penulisan call opsi saham. Investor mengharapkan pasarnya naik sehingga mendapat untung besar.

Istilah lain yang berhubungan dengan put adalah protective put. Konsepnya, kombinasi opsi put saham dengan posisi panjang untuk aset tersebut. Posisi panjang adalah investor telah memiliki saham atau investor membeli saham.

Pembelian put mengakibatkan kewajiban investor menjual saham pada harga tertentu dan akibatnya investor harus memiliki saham itu. Artinya, bisa juga investor memiliki saham, tetapi karena yakin harga saham akan turun maka investor melakukan perlindungan dengan membeli opsi put. Investor akan mendapatkan keuntungan besar bila pasar meningkat.

Dalam bertransaksi opsi saham risiko paling kecil investor hanya pada biaya opsi yang dikenal dengan premium. Mudah-mudahan investor memahami dan bisa bertransaksi.

KOMPAS

No comments: