Tuesday, October 13, 2009

Bukan Sekedar Gratis

Selasa, 13 Oktober 2009 | 08:13 WIB

KOMPAS.com - King Camp Gillette adalah nama seorang inventor yang legendaris. Bukan saja karena ia berhasil membuat merek pisau cukur yang telah mendunia, namun filosofi bisnisnya memang sangat revolusioner. Berasal dari Chicago, Amerika, Gillette adalah seorang pebisnis yang anti-kapitalisme, yang percaya bahwa pada akhirnya sebuah korporasi sudah seharusnya dimiliki oleh rakyat, ketimbang segelintir golongan orang kaya.

Ia juga pemasar yang handal. Langkah pemasaran yang ia lakukan ketika didasari oleh kesadarannya bahwa alat cukur dianggap komoditas biasa yang tak berguna tanpa pisaunya. Maka itu, langkah pemasaran yang ia lakukan ketika itu adalah membagikan alat cukurnya secara cuma-cuma dan mengambil untung dari pisaunya.

Gillette kemudian menjadi merek cukur yang populer ketika itu dan bahkan hingga sekarang. Semuanya dilakukan karena praktek pricing yang secara tradisional dikenal sebagai cross-subsidy atau secara modern pemasaran gratis dalam tanda kutip yang ia perkenalkan. Di mana menggratiskan sesuatu kepada konsumen adalah langkah pemasaran yang lebih dari gimmick yang sifatnya taktikal, namun sebuah bagian dari strategi keseluruhan.

Praktek pemasaran seperti ini sekarang sudah umum. Contohnya, semakin banyak pemasar di industri seluler yang memberikan ponselnya secara cuma-cuma namun yang dijual adalah paket bulannya. Juga kita lihat di industri printer, meskipun tidak sampai gratis, tapi harga sebuah printer sudah semakin murah, dan yang dimahalkan adalah tintanya. Juga dapat kita lihat di industri game console, harga Playstation, Xbox, Nintendo dan lain sebagainya makin lama makin murah, namun yang ’dimahalkan’ adalah CD untuk memainkan gamenya. Jika Anda seorang pemasar produk alat bikin kopi yang dijual ke kantor-kantor, mungkin Anda bisa gratiskan alatnya, namun yang dijual mahal adalah kopinya.

Cerita mengenai Gillette dan praktek ‘gratis’ ini dikupas oleh Chris Anderson di dalam Freenomics, yang mengatakan bahwa masa depan ada pada harga nol, alias gratis. Contohnya sudah semakin banyak di berbagai industri, mulai dari industri penerbangan sampai industri musik.

Kalau dilihat di dunia internet, sudah banyak perusahaan yang menawarkan layanan gratis, mulai dari Skype hingga YouTube. Mereka dapat menarik banyak pengguna dengan sebuah layanan gratis seperti ini, sembari berharap sebagian di antara mereka meng-upgrade diri menjadi pelanggan premium yang menawarkan fitur-fitur lebih baik. Layanan seperti ini ditawarkan begitu murah, karena marginal cost, biaya untuk pelanggan gratisan begitu kecil sehingga tidak masalah bagi mereka untuk menawarkan secara gratis.

Konsep freenomics yang diusulkan oleh Chris Anderson memang valid. Apalagi jika semakin banyak perusahaan yang menyediakan platform, maka lama kelamaan kita akan melihat praktek pricing gratis dan premium (freemium) akan ada di mana-mana.

Menurut kami sendiri, konsep free apakah itu lewat subsidi atau malah freemium akan semakin membanjir. Satu yang pasti adalah karena dunia New Wave adalah dunia yang horizontal, pada akhirnya penentapan suatu harga harus dilakukan bersama-sama. Karena produknya sendiri di-co-create bersama pelanggan. Maka dari itu penetapan harga harus melalui pendekatan negosiasi yang horizontal. Dengan demikian harga menjadi semakin dinamis karena informasi untuk menetapkan suatu harga berkembang dari mana-mana dan semua serba transparan.


Markplus Waizly Darwin,Hermawan Kartajaya

KOMPAS

No comments: