Monday, September 28, 2009

Komunitas 'Pencicip' Mobil

Senin, 28 September 2009 | 13:56 WIB

KOMPAS.com - Buat orang yang tidak punya kendaraan dan tinggal di kota besar, menjadi anggota di komunitas car sharing seperti Zipcar mungkin masuk akal. Di Indonesia, bentuk sederhana dari program car sharing ini sudah ada, contohnya adalah komunitas nebeng.com yang menjadi platform penghubung antara kaum penebeng dan pemberi tebengan.

Tren bisnis car sharing mewabah di seluruh dunia sejak lama. Konsep bisnis yang diadopsi dari paham sosialis ini pada awalnya dimulai di Eropa pada tahun 1987 ketika sebuah koperasi di negeri Swiss memulai layanan bagi anggotanya untuk saling berbagi mobil. Nilai yang ditawarkan adalah kemudahan dan hemat biaya.

Kehadiran beberapa perusahaan untuk komunitas pencicip mobil ini dianggap positif mengingat masyarakat urban di negara tersebut beberapa masalah seperti: (1) biaya untuk memiliki kendaraan dan mengendarainya semakin meningkat, (2) kesulitan mencari tempat parkir, (3) kemacetan dimana-mana (4) meskipun sistem transportasi masal sudah ada, namun beberapa wilayah tetap saja tidak terjamah, (5) polusi udara yang ikut disebabkan oleh asap kendaraan bermotor.

Zipcar

Perusahaan Zipcar saat ini dilabel sebagai perusahaan car sharing terbesar di dunia. Yang ia tawarkan bukan sekedar tebengan, tapi memberikan kesempatan bagi orang yang tidak punya mobil untuk ‘mencicipi’ atau mengendarai sebuah mobil.

Jadi ketimbang beli mobil baru dengan rentetan biaya ekstra lainnya seperti biaya cicilan per bulan, asuransi, dan perawatan, mending jadi ikut dalam program ini namun tetap bisa merasa memiliki. Dan bukan itu saja, biaya bensin pun juga bisa di-reimburse ke Zipcar.

Menurut riset, menjadi anggota di perusahan car sharing seperti Zipcar dapat menghemat sekitar $435 setiap bulannya ketimbang memiliki mobil. Melihat hal ini, apalagi di tengah resesi, maka tidak heran kalau 40 persen dari anggota telah menjual mobil pribadinya.

Keuntungan lain yang ditawarkan adalah untuk bergaya. Meskipun Anda punya kendaraan, menjadi anggota Zipcar tetap saja memberikan Anda peluang untuk sedikit bergaya dan mencicipi mobil kedua, ketiga, dan seterusnya, tentunya karena mobil yang Anda gunakan bisa berganti-ganti mulai dari Mini Cooper, VW Beatle, Toyota Prius, Toyota Scion, electric RAV4 dan banyak lagi.

Model bisnis dari car sharing seperti ini relatif sederhana; on-demand car usage. Dalam bahasa gampangnya adalah bedasarkan hitungan jam. Dengan demikian perusahaan seperti ini membedakan dirinya dengan layanan penyewaan mobil seperti Hertz, Avis dan lainnya yang umumnya bedasarkan hitungan hari. Dari sini dilihat pula bahwa yang membedakan antara car sharing dengan car rental ada pada hitungan jarak. Karena model bisnisnya yang on-demand, car sharing akan lebih masuk akal untuk jarak dekat di dalam kota ketimbang antar kota.

Bedasarkan riset, industri penyewaan mobil menghasilkan rata-rata $10,000 sampai dengan $12,000 dari setiap mobil yang disewakan setiap tahunnya. Zipcar dikabarkan dapat sekitar $18,000 dari setiap mobil pertahunnya. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Di sini ada tiga hal.

Pertama, ada pada sisi model pricing; (1) ongkos fixed pada saat menjadi anggota: biaya annual fee yaitu sekitar $50 ditambah dengan $25 untuk aplikasi dan (2) ongkos variable ketika mengendarai: yaitu sekitar $10 per jam (tergantung pada model dari mobil yang dipilih). Kesemuanya sudah termasuk bensin dan asuransi.

Kedua, adalah low-cost strategy. Dapat dilihat bahwa memang yang ditawarkan adalah low-price. Namun strategi low price tidak akan dapat sustainable kalau tidak didukung oleh low-cost strategy. Untuk terus mengelola biaya operasional memang sebuah tantangan buat mereka.

Contohnya, otomatis jumlah kendaraan harus terus bertambah ketika perusahaan terus membesar sehingga biaya leasing terus meningkat. Selain itu pula, harga bahan bakar yang naik turun membuat mereka terekspos pada resiko bisnis. Satu hal yang dapat mereka lakukan adalah terus memperbesar jumlah anggota sehingga mencapai skala ekonomis lebih solid.

Dari sisi operasional, dapat pula dilihat bahwa kesuksesan mereka didukung oleh digunakannya sistem IT yang canggih namun gampang digunakan. Contohnya, setiap anggota punya kartu yang dinamakan Zipcard. Kartu ini diinspirasi dari kartu ATM, tentunya bukan untuk menarik uang, namun untuk menarik gagang pintu 6000 kendaraan Zipcar. Tentu tidak bisa sembarangan karena si anggota harus terlebih dahulu melakukan reservasi lewat internet, telepon atau applikasi iPhone dan Blackberry. Setiap mobil juga dibekali navigasi GPS, sehingga ketika dicuri dapat dilacak kembali.

Satu hal yang mungkin memukau adalah prestasi mereka dalam hal menekan biaya marketing yang relatif rendah yaitu antara $1,000 sampai dengan $1,500 per bulan. Strategi pemasaran yang low-budget-high impact ini menurut riset dicapai 30% sampai 40% lewat word-of-mouth, 25% lewat publisitas di media, dan selebihnya lewat komunikasi gerilya yang dilakukan oleh tim pemasaran mereka.

Hal ketiga, yang dapat menjelaskan kesuksesan Zipcar yang kini merupakan perusahaan car sharing terbesar di dunia adalah orientasi pemasaran-nya yang berwujud komunitas. Satu hal yang membesarkan perusahaan ini dari segi bisnis pada akhirnya adalah anggotanya, yang disebut dengan Zipsters. Memang dari segi jumlah masih dapat terus digenjot dari angka sekarang yaitu sekitar 300,000 orang di 49 kota di Amerika, Vancouver, Toronto, dan London. Karena seperti yang dijelaskan diatas, bisnis seperti ini memerlukan skala ekonomis yang pas.

Connecting + Communitizing

Zipcar adalah salah satu contoh perusahaan di era New Wave. Kasusnya mengingatkan kita bahwa mungkin ada dua kata kunci utama untuk memenangkan persaingan di era New Wave. Pertama adalah ‘connector’ dan kedua adalah ‘community.’ Mereka yang menjadi connecting hub lewat platform yang disediakan untuk komunitas, bisa tampil lebih menawan di pesaingan. Dan betul-betul ia menjadi konektor lewat platform-platform yang ia miliki ditambah kemampuan perusahaan ini dalam communitizing konsumennya.

Tentunya ini semua didukung oleh filosofi perusahaannya yang memang horizontal dan sangat civilized. DNA dari Zipcari memang terlihat dari sejak awal yaitu sebagai projek untuk menciptakan sebuah kepemilikan kendaraan alternatif yang dapat meyakinkan jutaan masyarakat urban untuk give up kendaraan pribadi mereka untuk menciptakan green and sustainable planet. Dengan hal ini, dapat dilihat bahwa misi yang dibawa juga bernuansakan sosial, bukan hanya sekedar kenyamanan dan pengalaman menyenangkan anggota dalam memiliki dan menggunakan kendaraan.

Robin Chase, pendiri dari Zipcar, yang juga sama dengan Presiden SBY terdaftar dalam Time 100 Most Influential People, percaya bahwa inovasi model bisnis yang dilakukannya adalah produk dari cooperative capitalism atau social entrepreneurship. Pada akhirnya perusahaan yang didirikannya hanyalah platform untuk komunitas yang saling memiliki dan mempunyai DNA yang sama. Maka tak heran kalau dilihat banyaknya respon masyarakat urban yang sama-sama peduli terhadap visi dan misi dari projek Zipcar.

Dengan misi serupa, Zipcar juga terus aktif menggalang kalangan bisnis dan profesional untuk ikut serta dalam program car-sharing-nya, seperti dengan business offering Zipcar to Business (Z2B) yang menyediakan solusi alternatif untuk kendaraan perusahaan dengan model pay-as-you-go. Sama halnya dengan kerjasama yang dilakukannya pada universitas dan mahasiswa lewat program Zipcar to Universities (Z2U).


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

No comments: