Sunday, September 6, 2009

From Ideology to Persona

Minggu, 6 September 2009 | 04:55 WIB

KOMPAS.com — Nama Hatoyama adalah satu klan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial politik di Jepang. Berasal dari kaum kosmopolitan, berpendidikan, dan kaya raya, dinasti ini memegang peranan politik pada beberapa era di Jepang, sebut saja Kazuo Hatoyama (anggota parlemen di akhir abad ke-19), Ichiro Hatoyama (Perdana Menteri, 1955-1956), dan Iichiro Hatoyama (Menteri Luar Negeri, 1976-1977), hingga terakhir Yukio Hatoyama yang pada tahun 2009 terpilih menjadi Perdana Menteri.

Karena secara turun temurun menelurkan politisi andal, tak heran kalau keluarga ini dipandang oleh media sebagai "Keluarga Kennedy-nya Jepang". Yukio memenangi pemilihan umum di Negeri Sakura baru-baru ini melalui penampilan dengan pendekatan yang sangat horizontal.

Pertama, Partai Demokrat Jepang (DPJ) yang dipimpinnya berhasil menumbangkan Partai Demokrat Liberal (LDP) lewat koalisi dengan Partai Sosial Demokrat (SDP) dan Partai Baru Rakyat (PNP). LDP telah memerintah sejak tahun 1955, dan sejak itu hanya pernah sekali di tahun 1993 (di tengah era Japan's Lost Decade) ditumbangkan oleh gabungan koalisi partai oposisi yang memerintah Jepang.

Pendekatan Yukio yang horizontal juga dapat terlihat dari karakter dirinya dan ideologi yang diusung oleh partainya yang percaya bahwa harus dirobohkannya perananan status quo di Jepang, yang selama ini semakin memudar kredibilitasnya akibat birokrasi dan pemerintahan yang dikelola secara salah.

Sejak tahun 1990, Jepang terus mengalami stagnasi dalam hal ekonomi, dan kondisinya juga terus semakin parah di tahun belakangan. Indikator makro terakhir memberikan gambaran betapa hancurnya perekonomian Jepang; di April 2009 lalu perekonomian Jepang anjlok 15,2 persen. Itu merupakan sebuah "prestasi" tersendiri di antara negara-negara industrialis lainnya yang, meskipun terpuruk, tetapi tidak sampai seekstrem itu.

Ekspor dari perusahaan-perusahaan yang terkenal di kala ekonomi Jepang booming di tahun 1980-an, Toyota, Nissan, dan Honda terus turun hingga 70 persen sehingga banyak di antara mereka yang menyelamatkan biaya inventori dengan menutup pabrik.

Di tengah kekacauan ini, Yukio Hatoyama membawa manifesto bersifat reformasi yang menitikberatkan perubahan dari birokrasi vertikal ke masyarakat horizontal. Seperti yang dikutip oleh BBC, ia mengatakan “Kami akan menciptakan masyarakat horizontal yang terikat hubungan kemanusiaan. Bukan masyarakat vertikal yang berkutat dengan kepentingan-kepentingan tertentu.”

Sikap politiknya memang tidak umum untuk ukuran Jepang yang terkenal sangat vertikal dan konservatif, apalagi di berbagai kesempatan, Yukio yang terkenal eksentrik dan dijuluki alien oleh istrinya sendiri, selalu mengatakan bahwa “Politik itu adalah Cinta.”

Apa yang telah diuraikan di atas semakin meyakinkan kami bahwa era New Wave adalah era ketika dunia politik juga ikut berubah. Pertama, menjual ideologi partai ke konstituen sudah tidak cukup lagi karena, yang juga tak kalah penting, adalah bagaimana tampil memesona dengan karakter yang kuat dan diferensiasi yang memang mengakar dalam DNA-nya dan bukan dibuat-buat. Ideologi partai tentu tetap diperlukan, terutama karena ia merupakan pooling factor untuk menjaring dan mengomunitaskan konstituen yang memiliki keyakinan yang sama.

Kedua, pendekatan yang sifatnya vertikal semakin lama tidak laku lagi karena yang dapat dijual adalah sikap politik yang horizontal. Pendekatan yang bersifat transaksional sekarang semakin bergeser menjadi relasional untuk menjamin adanya loyalitas dari para konstituen.

Perkembangan internet dengan Web 2.0 telah melahirkan dunia politik baru; Politic 2.0. Berkembangnya teknologi juga telah membuka dunia politik dan birokrasi yang lebih transparan. Sejak adanya televisi berita 24 jam sehari 7 hari seminggu dan ditambah lagi internet, kita kini lebih punya akses melihat gambaran politik secara nyata.

Barack Obama adalah contoh seorang praktisi di dunia politik 2.0. Ia tampil secara horizontal dengan menggunakan berbagai macam media di dunia maya, dengan memanfaatkan situs web dan berbagai media sosial, seperti Facebook, YouTube, Twitter, dan lain sebagainya, untuk melakukan percakapan dengan audiensnya. Ia pun tampil lebih memesona dengan menonjolkan karakter dirinya yang horizontal dan universal, dan betul-betul memiliki diferensiasi yang benar-benar berbeda, didasari DNA yang bukan dibuat-buat.

Itu yang membuat ia berhasil mengalahkan Hillary Clinton di pemilihan pendahuluan Partai Demokrat tahun 2008, dan meraih simpati para konstituennya dalam mengalahkan John McCain.

Selain itu pula, sebagai contoh seorang praktisi sukses di dunia Politic 2.0, Obama juga mencatat rekor penggalangan donasi publik, yang ia dekati secara langsung lewat berbagai sosial media.

Pada akhirnya, dunia memang semakin berubah. Sikap dan praktik politik di zaman sekarang semakin lebih horizontal. Di era horizontal ini, ideologi partai masih penting karena ia merupakan pooling factor. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana tampil lebih memesona secara horizontal dengan memperlihatkan karakter yang kuat secara konsisten.

Bagaimana pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

No comments: