Sunday, September 6, 2009

From G7 to G20

Minggu, 6 September 2009 | 06:26 WIB

KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) memang luar biasa. Teroris saja yang katanya anti-Amerika juga hijau melihat mata uang Dollar Amerika (USD). Buktinya mereka bayar hotel di Ritz Carlton dan Marriott pakai USD ketika menjalani aksi teror belum lama ini di Jakarta. Tidak pakai kartu kredit, tapi dalam bentuk kontan 400 dollar AS. Hebat dong Amerika?

Seberapa benci kita dengan Amerika, tapi kalau melihat mata uangnya yang ditulis "In God We Trust", mata orang langsung hijau. Meski saat ini perekonomiannya masih sakit, AS memang tetap menjadi kekuatan tersendiri di perekonomian dunia.

Seperti kita ketahui pemerintahnya defisit sebesar1 triliun dollar AS! Langkah untuk menutup defisit biasanya dilakukan oleh dua hal; menerbitkan surat utang dan mencetak uang. Untuk menerbitkan surat hutang, AS sudah punya langganannya yaitu pemerintah Cina. Ditawari terus oleh AS, Pemerintah Cina pada dasarnya can't say no ke Amerika. Kalau tidak dibeli, AS hancur, Cina juga hancur karena surat utangnya Amerika di Cina selama ini sudah hampir 1 triliun dollar.

Pemerintah AS memang sangat kompeten dalam memutar dollar AS. Orang Cina dikasih kebebasan untuk membanjiri pasar Amerika lewat produk-produknya yang dijual murah dengan main volume dengan margin kecil, untuk dapat mata uang dolar Amerika. Pada akhirnya uang-uang tersebut dalam bentuk dollar AS balik lagi ke AS lewat surat hutang.

Untuk menutupi defisitnya, AS bisa saja mencetak uang. Bahkan mungkin sampai saat ini mereka sudah mencetak dollar AS yang lebih banyak, hanya saja tak kentara dari tingkatan inflasi. Kenapa demikian? Pertama, masyarakat di sana takut untuk belanja. Kedua, mata masyarakat global masih terus hijau melihat dollar AS karena itu mereka terus menyerap dan menyimpannya sebagai cadangan investasi.

Mesin konsumsi di AS memang cukup besar dilihat dari populasinya yang berjumlah 306 juta orang. GDP per kapita tinggi yaitu sekitar 47.000 dollar AS. Karena memang negara kaya, makanya ia menjadi negara tujuan ekspor negara-negara berkembang. Contohnya Cina ekspor ke sana dan India menawarkan layanan outsourcing untuk perusahaan-perusahaan sana.

Tapi saat ini mesin konsumsi kurang jalan karena konsumen di sana yang sedang kebelit hutang tidak berani untuk spend. Produk kartu kredit sangat populer di sana mengingat budaya masyarakatnya yang terdidik untuk ngutang ketimbang menabung. Bayangkan saja, satu orang bisa punya 20 sampai 120 kartu kredit. Tak heran kalau bank-bank rontok karena nasabahnya tidak bisa bayar hutang.

Pemerintahan AS yang dipimpin Obama saat ini memang ditinggali warisan yang tidak sedap. Dengan minus satu triliun, sampai kapan Amerika bisa selamat dengan menjual surat hutangnya terus-terusan ke Cina? Dan sampai kapan Paman Sam bisa cetak uang terus? Akankah AS tumbang?

Power Shift

Dr Mahathir Mohammad, bekas Perdana Menteri Malaysia, pernah meramalkan bahwa suatu saat ekonomi Amerika dengan mata uang dollarnya akan tumbang. Mahathir sendiri sudah sejak lama percaya akan itu, dengan mengambil keputusan strategis di tahun 1998 ketika mata uangnya di-pegged melawan Dollar Amerika. Keputusan itu membuatnya dicecari oleh IMF dan dunia mengecapnya anti-barat. Apalagi ketika krisis tersebut, ia juga melakukan bail-out terhadap beberapa perusahaan di sana yang ketika itu diambang kehancuran.

Dunia barat saat ini seperti kemakan dengan kritik sendiri. Di era krisis seperti sekarang, beberapa kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah di beberapa negara Asia pada saat krisis 97/98 lalu, yang dulu dikritik oleh dunia barat, justru menjadi obat yang mereka makan untuk menyelamatkan perekonomian di negara-negara mereka yang tengah sakit.

Langkah melakukan bailout, proteksionisme, dan kebijakan-kebijakan yang mengarah ke paham sosialis ketimur-timuran, justru menjadi obat penenang di tengah kekacauan yang melanda mereka di resesi global kali ini—yang dicap sebagai yang terdashyat sejak Great Depression tahun 1929.

Mahathir mungkin ada benarnya. Krisis seperti sekarang menunjukan bahwa kekuatan dunia barat lama kelamaan terlihat memudar. Kekuatan antara barat dan timur lama kelamaan semakin seimbang.

Begitu pula kalau dilihat dari kekuatan antara negara yang maju dan berkembang. Selama ini negara-negara maju yang tergabung dalam G7 (AS, Inggris Raya, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, dan Jepang) secara rutin memainkan peran konstruktif dalam mengkoordinasikan kebijakan global mengenai perekonomian dunia. Artinya selama ini mereka secara vertikal mendikte negara-negara lain, termasuk negara-negara berekembang.

Namun saat ini semuanya telah berubah. Krisis finansial global saat ini membuktikan bahwa negara-negara G7 bukan lagi kekuatan sentral perekonomian dunia. Sebuah entitas baru yang mengikutsertakan kekuatan di barisan lama (old-line powers) dan juga big-hitters dari negara-negara berkembang yang tergabung di G20 adalah kelompok utama kekuatan perekonomian sesungguhnya di era globalisasi.

Negara G20, yang beranggotakan negara-negara G7, Uni Eropa, Cina, India, Rusia, Australia, Brazil, Korea Selatan, Arab Saudi, Indonesia, Argentina, Turki, dan Afrika Selatan, merupakan kekuatan baru di panggung perekonomian dunia, di mana banyak dari negara berkembang yang tergabung di sana merupakan investor yang besar di negara-negara maju.

Seperti yang ditulis di dalam artikel “Global Governance: Goodbye G7, Hello G20” di majalah Economist, 20 November 2008 lalu, kekuatan kelompok G7 telah secara perlahan memudar. Mereka tidak lagi merepresentasikan wajah perekonomian dunia sebagaimana yang diperlihatkan oleh kelompok G20, yaitu kelompok 20 negara perekonomian besar di dunia yang menghimpun hampir 90 persen GNP dunia, 80 persen total perdagangan dunia dan dua per tiga penduduk dunia.

Perkembangan teknologi terus mempercepat proses globalisasi ekonomi, di mana kita semakin hidup dalam dunia yang serba terinterkoneksi. Resesi perekonomian global yang dimulai pada tahun 2008 lalu adalah contoh bagaimana sakitnya perekonomian dan sistem finansial di AS secara horisontal menular ke negara-negara lain yang tehubung di jaringan perekenomian dan finansial global.

Maka dari itu, di dalam kondisi perekonomian global seperti sekarang kelompok G7 tampil lebih horisontal, menunjukan sikap kompromi, dan kolaboratif dengan negara-negara berkembang. Semakin kompetitifnya negara-negara berkembang, permasalahan dunia global harus diselesaikan bersama-sama melalui G20. Sebab di era globalisasi, kita semua saling terhubung. Satu tumbang, semua bisa-bisa ikut tumbang.

Pergeseran dari G7 ke G20 menunjukan bahwa kekuatan perekonomian dunia diseimbangi oleh negara maju dan berkembang, sehingga terjadi pula pergeseran kekuatan dari yang tadinya didominasi secara vertikal oleh G7 menjadi lebih horisontal.

Bagaimana Pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

No comments: