Sunday, August 2, 2009

Kreativitas Era Digital

Minggu, 2 Agustus 2009 | 03:01 WIB

Penyelenggaraan Bubu Awards V.06 pada Jumat (31/7) di Balai Sidang Jakarta mengangkat tema ”The Rise of Digital Era”. Seperti disebutkan pendiri Bubu.com dan Bubu Awards, Shinta Dhanuwardoyo, era digital memberikan banyak peluang yang sebelumnya tak terbayangkan.

Era digital dalam sejarah manusia berbeda jauh dari era-era sebelumnya. Meskipun begitu, ada satu hal yang tidak pernah berubah dari setiap era tersebut yang membawa manusia pada keadaannya saat ini, yaitu ide kreatif. Ini adalah salah satu kelebihan yang melekat pada manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lain.

Dalam keyakinan pelopor ekonomi kreatif, Richard Florida, kemampuan manusia memanfaatkan ide-ide kreatifnyalah yang akan menentukan masa depannya (The Rise of The Creative Class, Basics Book, 2002). Kreativitas, menurut Florida, adalah kemampuan manusia mengkreasikan bentuk-bentuk baru yang berguna dari pengetahuan yang telah ada dengan pengetahuan dan informasi sebagai alat dan materinya.

Sejak tahun 1990-an kita telah memasuki era digital yang terus berkembang ketika komputer menjadi semakin tersedia luas, jejaring internet menjadi bagian kehidupan sehari-hari, dan telepon seluler menjadi kebutuhan hingga ke desa-desa.

Meski demikian, perangkat tersebut tidaklah cukup. Diperlukan ide kreatif untuk mendayagunakan perangkat keras tersebut agar bermanfaat maksimum.

Karena itu, menarik mengikuti pemaparan Vice President/Creative Director Crispin Porter + Bogusky Alex ”Burnie” Burnard, salah satu agensi digital paling terkemuka di Amerika Serikat. Burnard menjelaskan pemanfaatan teknologi digital ke dalam strategi pemasaran yang di Amerika sudah berkembang jauh memanfaatkan era digital.

Jejaring internet mengubah cara manusia mengembangkan ide kreatifnya. Sarana komunikasi dan situs pergaulan sosial, seperti Twitter, Facebook, del.icio.us, dan Youtube memperlihatkan bagaimana masyarakat berbasis informasi-pengetahuan menggunakan teknologi digital untuk mengapitalisasi informasi sebesar-besarnya. Contoh paling sederhana adalah lahirnya toko virtual di jejaring seperti Myspace dan Facebook. Praktis satu hambatan untuk memulai usaha, yaitu promosi, telah diputus oleh jejaring ini.

Dalam pengembangan lebih lanjut, Burnard memperlihatkan yang dilakukan Crispin Porter + Bogusky untuk klien mereka, Burger King. Untuk menguji kekuatan Facebook, demikian jelas Burnard, Burger King menawari pengguna Facebook menghapus 10 teman mereka di Facebook untuk ditukar satu kupon Whopper. Iklan dengan slogan ”Friendship is strong, but the Whopper is stronger” itu diluncurkan 5 Januari 2009 dan segera disambut ribuan pengguna Facebook di Amerika. Iklan itu akhirnya dihentikan Burger King setelah muncul protes dari pengelola Facebook (blogs.wsj.com, 15/1).

Tidak berhenti hanya pada jejaring sosial, Crispin Porter + Bogusky juga menggunakan game di internet untuk mengiklankan Zero Cola. Dan tentu saja iklan itu ada di Youtube, seperti juga, misalnya, iklan Axe di Indonesia. Era digital telah hadir di sekitar kita, tinggal bagaimana menggunakannya secara kreatif supaya tidak tertinggal pada ”zaman batu” peradaban manusia. (Ninuk M Pambudy)

KOMPAS

No comments: