Sunday, August 16, 2009

Investasi & Keuangan: Bermain Saham Kapitalisasi Pasar Besar

Minggu, 16 Agustus 2009 | 03:14 WIB

Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan

Saham yang ditransaksikan di bursa dapat dikelompokkan menjadi berbagai kelompok, sesuai karakteristiknya. Salah satunya berdasarkan kapitalisasi pasar saham bersangkutan.

Kapitalisasi pasar saham merupakan indikator bursa yang diperoleh dari hasil perkalian jumlah saham dengan harga pasar saham bersangkutan.

Kapitalisasi pasar saham secara umum bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar: saham berkapitalisasi pasar besar (big cap), saham berkapitalisasi pasar medium (medium cap), dan saham berkapitalisasi pasar kecil (small cap).

Ada beberapa ukuran untuk menentukan big cap, medium cap, dan small cap. Untuk saham di bursa Indonesia, pertama yang dilakukan adalah mengurutkan saham berdasarkan kapitalisasi pasar saham yang paling tinggi sampai dengan yang terendah. Saham dengan kapitalisasi pasar di bawah dan sama dengan Rp 300 miliar dianggap kelompok small cap; Rp 300 miliar-Rp 750 miliar kelompok medium cap, dan yang di atas Rp 750 miliar kelompok big cap.

Bermain saham big cap masih dipengaruhi situasi pasar, yaitu pasar naik disebut bullish, situasi turun disebut bearish, dan pasar bergejolak atau fluktuatif. Saham big cap sangat berpengaruh ke pasar karena pasar yang meningkat diawali dari peningkatan harga saham big cap dan sebaliknya. Tulisan ini membahas bermain saham big cap pada situasi pasar tersebut.

Meramal pasar

Salah satu tindakan penting untuk bermain saham di bursa adalah meramal pergerakan pasar mendatang apakah naik, turun, atau berfluktuasi pada level tertentu.

Pasar yang meningkat ditandai dengan adanya kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi, seperti kebijakan moneter atau fiskal pemerintah. Pada sisi lain, kebijakan pemerintah juga dapat berakibat pada pertumbuhan perusahaan sehingga harga saham naik.

Salah satu indikator yang selalu harus diperhatikan investor adalah tingkat bunga karena sangat berhubungan dengan berbagai variabel. Kebanyakan pemerintah menggunakan variabel ini sebagai alat kebijakan utama. Tetapi, Jepang tidak menggunakannya, terlihat dari tingkat bunga yang rendah, bahkan investor harus membayar ke bank bila menabung.

Bila pasar diramalkan akan meningkat, maka investor harus masuk membeli saham big cap. Teknik yang digunakan harus melihat pola harga saham ini pada masa lalu karena pola harganya mungkin terjadi lagi.

Bila gaya investor dalam investasi dengan bertransaksi, maka tindakan melihat pola harga saham sangat penting. Bila investor tidak ingin bertransaksi dalam investasi tetapi membeli saham itu untuk waktu sangat lama, maka titik awal pembelian harus tepat supaya memperoleh tingkat pengembalian tinggi.

Bila investor membeli tidak tepat waktu (dan harga), maka ada kemungkinan tingkat pengembalian sama saja atau bahkan lebih rendah dari dengan investasi pada instrumen bebas risiko, seperti SBI dan obligasi pemerintah.

Investor sebaiknya tidak lupa memperdagangkan saham ini dengan melihat informasi perusahaan yang dikeluarkan perusahaan langsung atau melalui riset analis perusahaan sekuritas atau manajer investasi.

Tujuan mentransaksikan saham ini untuk mendapat jumlah capital gain cukup besar dibandingkan dengan hanya memegang saja. Bila tidak terjadi fluktuasi harga, maka investor tidak perlu memperdagangkan saham ini. Bila saham ini berfluktuasi, misalnya harga turun 5 persen dalam jangka pendek (harian) atau satu minggu sampai satu bulan dan kembali naik, maka investor perlu memperdagangkan saham ini.

Bila pasar diramalkan akan turun, maka investor harus menjual saham secepatnya supaya tidak merugi lebih dalam. Tanda pasar yang akan turun antara lain ketika ada kecendrungan pemerintah menaikkan tingkat bunga yang dapat diperhatikan dari tingkat bunga SBI atau yield bond pemerintah yang naik.

Faktor eksternal negara juga dapat membuat pasar turun, selain faktor internal perusahaan. Maka, investor harus tidak membeli atau menjual saham yang dimiliki saat ini. Bila penurunan harga di pasar berfluktuatif menuju penurunan, maka investor harus mengambil kesempatan dengan bertransaksi. Bila harga drop 10 persen, investor membeli. Bila naik kembali ke level 3 persen-5 persen. Investor tidak perlu memonitor saham setiap saat, cukup dengan memberi order kepada pemasar saham perusahaan sekuritas. Investor bisa mengecek pada akhir penutupan pasar.

Pasar fluktuatif

Selanjutnya, bila pasar cenderung fluktuatif pada periode berikut atau pasar hanya bergerak pada kisaran tertentu, maka investor bisa bertransakasi saham big cap. Investor harus mempunyai waktu untuk memonitor harga saham karena gejolaknya tidak bisa ditebak. Tetapi, bila harga saham tidak berubah pada kisaran tertentu, investor bisa membeli dengan harapan harga naik. Investor dapat mencari informasi ke analis perusahaan sekuritas atau langsung kepada sekretaris perusahaan untuk lebih yakin bertransaksi saham ini. Investor harus menggunakan perkiraan biaya transaksi maksimum 0,8 persen sehingga investor harus mendapatkan keuntungan sekitar 2,5 persen per bulan.

Jual-beli saham big cap sering harus lebih berhati-hati karena penurunannya tidak sebanding dengan yang diinginkan investor, tetapi untuk jangka panjang investasi saham ini lebih baik dibandingkan dengan saham lain. Perusahaan besar biasanya lebih diyakini karena keberlangsungan hidupnya lebih dapat dipercaya sebab dikelola dengan profesional.

KOMPAS

No comments: