Saturday, July 4, 2009

Anomali pada Bursa Indonesia

Sabtu, 4 Juli 2009 | 03:48 WIB

Jakarta, Kompas - Di tengah pelemahan sebagian besar bursa dunia akibat derasnya sentimen negatif, indeks harga saham dalam negeri lagi-lagi masih menguat. Pasar modal Indonesia berpotensi memberikan tingkat keuntungan lebih besar.

Pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jumat (3/7), indeks harga saham gabungan menguat 9,55 poin atau 0,46 persen menjadi 2.075,30.

Adapun Indeks LQ45 naik 2,72 poin atau 0,68 persen ke level 404,83 dan Indeks Kompas100 naik 3,19 poin atau 0,63 persen menjadi 504,71.

Sekalipun tipis, penguatan indeks harga saham dalam negeri ini cukup mencengangkan pelaku pasar modal.

Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan, indeks harga saham dalam negeri akan anjlok menyusul derasnya sentimen negatif yang mengalir beberapa hari terakhir sehingga menekan indeks di bursa global, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Pada sesi pertama perdagangan, Jumat kemarin, IHSG sempat anjlok sampai 20 poin atau hampir 1 persen. Namun, di sesi kedua, IHSG berangsur membaik dan akhirnya ditutup positif.

Sementara itu, mayoritas bursa kawasan pada perdagangan kemarin ditutup melemah. Indeks Nikkei-225 di Jepang turun 0,61 persen dan Indeks Straits Times di Singapura turun 0,91 persen, sedangkan Indeks Hang Seng di Hongkong naik 0,14 persen.

Adapun Indeks Dow Jones Industrial Average pada perdagangan saham di New York Stock Exchange, Kamis waktu setempat, anjlok hingga 2,63 persen.

Pelemahan ini terjadi karena adanya sentimen negatif pelaku pasar modal terhadap peningkatan angka pengangguran di AS, dari 322.000 orang pada Mei 2009 jadi 467.000 orang (Juni 2009) atau tertinggi sejak 1983.

Direktur PT CIMB-GK Securities Indonesia William Henley memperkirakan, tingginya angka pengangguran di AS akan mengurangi konsumsi minyak dunia sehingga akan berpengaruh pada harga komoditas dan energi lainnya. Harga minyak yang saat ini berada di kisaran 66 dollar AS per barrel diperkirakan akan diperdagangkan berdasarkan harga fundamentalnya, yaitu 50-55 dollar AS per barrel.

Pengamat pasar modal, Robert Nayoan, mengatakan, penguatan indeks harga saham di BEI termasuk anomali. Penguatan itu dipicu oleh pengumuman Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 6,75 persen. BI melakukan itu setelah melihat data inflasi Juni 2009 yang turun menjadi 3,65 persen (YoY) dan 0,11 persen (MoM).

Selain didukung fundamental yang kuat, lanjut Robert, turunnya BI Rate kembali memperkuat tesis bahwa Indonesia dan BEI adalah ”firdaus investasi global” atau tempat yang sangat menjanjikan bagi investor.

Dinilai cukup menjanjikan karena pasar modal Indonesia berpotensi memberikan tingkat keuntungan di atas yang disyaratkan oleh investor global.

Selanjutnya, keuntungan yang diperoleh investor di bursa Indonesia dipakai untuk menutup kerugian investasi akibat krisis pada akhir 2008. (REI)

Kompas

No comments: