Sunday, June 28, 2009

Prospek Dollar AS Pasca The Fed

Minggu, 28 Juni 2009 | 07:50 WIB

KOMPAS.com - Rapat kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve selama dua hari tidak menghasilkan perubahan kebijakan. Tingkat suku bunga tetap dipertahankan pada 0 – 0,25 persen dan juga tetap mempertahankan progam pembelian aset yang bernilai 1,75 triliun dollar AS serta tidak ada rencana untuk meningkatkan pembelian aset.

Federal Reserve AS mengeluarkan pernyataan yang menyiratkan bahwa laju kontraksi ekonomi mulai melambat dan pemulihan sudah mulai terlihat. The Fed juga menghilangkan peringatan mengenai deflasi. Pernyataan the Fed ini memicu kembali minat akan resiko dan sekaligus memberikan support bagi dollar AS.

Sehari setelah pernyataan the Fed, bursa saham regional Asia naik. Investor memburu saham-saham Asia berkaitan dengan sinyal pemulihan ekonomi dari the Fed. Di Indonesia, kenaikkan bursa sahamnya juga memicu penguatan rupiah terhadap dollar AS.

Hilangnya peringatan mengenai deflasi menimbulkan harapan kenaikan suku bunga AS (Fed Funds Rate) yang memicu penguatan dollar AS terhadap mata uang utama dunia. Tidak adanya rencana penambahan pembelian aset seperti obligasi pemerintah AS menunjukkan bahwa kebijakan pelonggaran kuantitatif yang ada sekarang sudah cukup bagus untuk mengatasi resesi ekonomi di AS.

Kebijakan pelonggaran kuantitatif ini dimaksudkan untuk menstimulus ekonomi dengan memberikan likuiditas sebesar-besarnya ke perekonomian dan menekan biaya pinjaman agar ekonomi dapat bergerak kembali. Ini mengindikasikan the Fed mulai melihat pemulihan, dan tentunya diikuti oleh ekspektasi kenaikkan suku bunga. Sebagian pelaku pasar memperkirakan the Fed mulai menaikkan suku bunga di 2010.

Selama bulan Juni ini, dollar AS terlihat mulai menguat terhadap mata uang utama dunia. Euro, poundsterling, dollar Australia, dollar Kanada dan Swiss franc mulai terkoreksi terhadap dollar AS. Dollar AS memiliki indeks yang fungsinya untuk mengukur performa dollar AS terhadap mata uang kuat dunia.

Indeks ini diukur terhadap enam mata uang utama yaitu euro, poundsterling, yen, dollar Kanada, Swiss franc, dan kron Swedia. Indeks ini mulai bangkit dari level terendahnya tahun ini di angka 78.33 menuju area 80 an.

Tapi kenaikkannya masih belum terlalu kuat. Indeks dollar AS masih berada di bawah level resistennya di area 82. Bila indeks dollar tidak berhasil melampaui resisten ini bulan Juli mendatang, kemungkinan dollar AS masih berada dalam tekanan. Namun sebaliknya, bila mampu melewati 82, dollar AS dapat terus menguat terhadap mata uang utama dunia. (AT/ Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures)

Kompas

1 comment:

Anonymous said...

Terima kasih atas informasi menarik