Friday, June 12, 2009

Masyarakat Lebih Sadar, Industri Asuransi Optimistis

Jumat, 12 Juni 2009 | 13:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Industri asuransi jiwa optimistis mampu tumbuh positif pada kuartal pertama 2009, yang ditandai dengan mulai meningkatnya kesadaran masyarakat membeli produk jasa keuangan itu di tengah terpaan krisis keuangan global.
"Untuk kuartal pertama tahun ini untuk asuransi jiwa, kita optimistis bisa kembali tumbuh setelah pada akhir 2008 pertumbuhannya begitu rendah," ujar Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Evelina F Pietruschka, di Jakarta, Jumat (12/6).
Menurut dia, faktor utama tumbuhnya industri jasa keuangan itu tidak terlepas dari semakin tingginya kesadaran masyarakat di tengah kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu akhir-akhir ini.
Kondisi yang sama juga pernah terjadi ketika krisis moneter menimpa negara-negara di Asia termasuk Indonesia dan justru membawa dampak positif bagi industri asuransi di Tanah Air. "Kita sudah prediksi bahwa pertumbuhan rendah yang terjadi selama 2008 hanya bersifat sementara dan ternyata betul walau data pertumbuhan itu sedang kita kumpulkan untuk diumumkan dalam waktu dekat," katanya.
Optimisme tumbuh positif industri jasa keuangan itu juga didukung oleh faktor semakin membaiknya perekonomian pasar modal dalam negeri seperti yang ditunjukkan dengan naiknya harga saham lokal. "Tapi yang jelas pada saat kondisi krisis seperti ini kesadaran masyarakat meningkat dalam membeli produk asuransi untuk memproteksi diri," kata Evelina yang juga menjabat Presiden Direktur PT Adisarana Wanaartha.
Lembaga Riset Media Asuransi menyatakan, premi seluruh asuransi pada 2008 tetap tumbuh tipis di tengah terpuruknya industri jasa keuangan di seluruh dunia karena krisis keuangan global yang berawal dari krisis di Amerika Serikat.
Kinerja premi ansuransi jiwa pada 2008 tumbuh 4,5 persen dibanding 2007, premi reasuransi tumbuh 26,5 persen, dan premi asuransi umum mencatat pertumbuhan 21,9 persen. Dewasa ini industri asuransi telah memiliki total aset sekitar Rp 135 triliun dengan premi yang dihimpun dari masyarakat sekitar Rp 110 triliun.

EDJ
Sumber : Ant
Kompas

- Muhammad Idham Azhari

No comments: