Sunday, May 3, 2009

[Kompas 100]: Perusahaan Gas Negara: A Powerful Gas Transmission and Distribution Company

Tulisan 81 dari 100

Minggu, 3 Mei 2009 | 06:45 WIB

Turki adalah satu-satunya negara yang wilayahnya ada di dua benua.

Sebagian wilayahnya ada di Eropa, dan memang berbatasan dengan sejumlah negara Eropa, sementara sebagian lainnya berada di Asia dan berbatasan dengan negara-negara Asia. Antara bagian yang di wilayah Eropa dan Asia dipisahkan oleh Selat Bosphorus. Di Istanbul, yang merupakan kota utama di Selat tersebut, ada jembatan yang menghubungkan wilayah Eropa dan Asia.

Dan kini Turki terlihat ingin mengoptimalkan posisi sebagai negara yang berada di dua benua dengan menjadi perantara diantara negara-negara di dua benua itu. Sejumlah negara di Asia Tengah dikenal sebagai penghasil gas alam dan memerlukan pasar yang bisa menyerap produknya sesuai dengan yang diinginkan. Di sisi lain, sejumlah negara Eropa yang miskin sumber daya alam tapi punya daya beli, butuh alternatif pemasok gas alam, agar mereka tidak terlalu bergantung pada satu pemasok.

Pada saat ini, negara-negara Eropa banyak bergantung pada pasokan gas dari Rusia yang dijual melalui jalur pipa dari Ukraina. Tapi sengketa yang terjadi diantara Ukraina dan Rusia, yang bersumber dari penetapan harga yang tidak win-win, membuat aliran gas ke Eropa terhambat. Selama ini, Ukraina sebagai eks saudara kandung Rusia dalam negara Uni Sovyet, mendapatkan harga khusus yang ditetapkan semasa Uni Sovyet masih ada.

Tapi setelah Uni Sovyet tidak ada dan kemudian banyak pecahan Uni Sovyet yang justru mencoba menjauh dari Rusia, negara ini ingin menggunakan posisinya sebagai pemasok gas Eropa untuk membuat negara-negara pecahan Uni Sovyet tersebut tetap mendekat ke Rusia. Yang menjadi masalah, Ukraina itu bukan hanya sekedar pelanggan tapi juga perantara gas Rusia ke pasar Eropa. Karena Turki bisa seperti Ukraina, yaitu pelanggan dan sekaligus perantara gas Asia Tengah ke Eropa, negara-negara Eropa kini justru malah memunculkan alternatif jalur lain, yaitu melalui Laut Hitam.

Apa yang terjadi pada Ukraina dan Turki menunjukkan bahwa posisi sebagai perantara yang seolah-olah kuat dan tidak tergantikan itu ternyata bisa dengan mudah berubah begitu ada alternatif baru yang sama atraktifnya. Karena itu sungguh beruntung perusahaan seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang bergerak dalam bisnis transmisi dan distribusi gas di Indonesia dan sejauh ini tidak mempunyai pesaing yang berarti. Dengan kondisi geografis sebagai negara kepulauan, tidak mudah bagi pemain baru untuk membangun jalur pipa yang menghubungkan ladang gas dengan pelanggan.

Berawal dari perusahaan gas swasta Hindia Belanda yang berdiri di tahun 1859 dengan nama I.J.N Eindhoven & Co, sebagai sebuah penyedia gas berbasis batubara, PGAS kemudian dinasionalisasi dan diubah menjadi PN Gas di tahun 1958 dan akhirnya menjadi Perusahaan Gas Negara di tahun 1965. Seiring dengan penemuan gas alam, pada tahun 1974, PGAS kemudian beralih dari penyedia gas berbasis batubara dan minyak ke distributor gas alam. Yang menarik, meski Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan gas terbesar di dunia, ternyata upaya pengembangan usaha ke hulu yang bisa dilakukan PGAS adalah sebagai perusahaan transporter, alias melakukan transmisi gas.

Tapi kondisi tersebut kemudian disikapi PGAS dengan menjadikan diri sebagai pemain yang sulit ditandingi pesaingnya, baik dalam bisnis transmisi maupun distribusi, dimana masing-masing mempunyai pangsa pasar 87% dan 93%. Kuatnya penguasaan pasar PGAS dalam bisnis transmisi --yang memberikan kontribusi pendapatan sekitar 12%-- didukung dengan fasilitas transmisi PLN – Medan, Grissik – Duri, Grissik – Batam – Sakra (Singapura) dan South Sumatera West Java (SSWJ) I (Pagardewa – Labuhan Maringgai – Cilegon) & SSWJ II (Grissik – Pagardewa – Labuhan Maringgai – Muara Bekasi – Rawamaju), dimana masing-masing mempunyai kapasitas transmisi yang berbeda-beda. Sementara untuk distribusi yang mencakup 13 kota didukung dengan jaringan distribusi yang mencakup 3 Strategic Business Unit (SBU): SBU I (Jabar), SBU II (Jawa Timur) dan SBU III (Sumatera).

Keberadaan fasilitas transmisi dan distribusi tersebut ditujukan untuk menjamin volume pasokan dan tekanan gas sesuai dengan kebutuhan pelanggan, yang pada akhirnya nanti bukan hanya menjamin kepuasan pelanggan tapi juga bisa meningkatkan penjualan. Bagi PGAS, hal tersebut terakhir bisa mudah dilakukan, pertama karena jaringan transmisi dan distribusinya tersebar di pusat pasar utama gas Indonesia, dan kedua karena perusahaan ini sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan produsen gas. Itulah sebabnya, PGAS terus berusaha memperkuat diri dengan menambah jaringan transmisi dan distribusi agar posisinya yang sudah dominan semakin susah untuk digerogoti.

Karena itu, selain menambah jaringan pipanya, PGAS juga mulai mengembangkan jaringan tranportir gas ke wilayah yang tidak terjangkau pipa dengan menggunakan truk Compressed Natural Gas (CNG), dimana gas cair dari PGAS kemudian dikompres dan dibawa oleh truk ke industri yang membutuhkan. Selain itu, PGAS juga akan membangun terminal penerima LNG, sehingga PGAS tetap bisa menyediakan pasokan yang besar tanpa perlu bergantung pada jaringan pipa. Di samping memperkuat jaringan transmisi dan distribusi, PGAS juga mencari alternatif baru sumber gas melalui pengembangan coal bed methane (CBM) atau gas metan batubara, dimana hal ini juga dipicu oleh kenyataan bahwa jaringan pipa perusahaan melewati daerah yang kaya batubara.

Apabila penambahan jaringan transmisi dan disitribusi, pengembangan truk CNG dan terminal LNG serta CBM memang berjalan sesuai rencana, maka posisi PGAS sebagai a powerful gas transmission and distribution company akan bertahan dalam waktu lama.

"Philip Kotler's Executive Class: 24 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: