Friday, May 15, 2009

[Kompas 100]: Indofood: "A Giant Integrated Food Company"

Bagian 92 dari 100

Jumat, 15 Mei 2009 | 07:53 WIB

Samsung Electronics kini adalah perusahaan consumer electronics terbesar di dunia.

Ini adalah hasil perjalanan panjang dari yang perusahaan tadinya dianggap sebagai pembuat consumer electronic goods kelas dua. Samsung mulai menunjukkan taringnya paska krisis ekonomi 1997-1998, setelah berbagai unit pembuat komponen consumer electronics merajai pasar, lalu memproduksi berbagai jenis consumer electronics yang bahkan menjadi standar industri yang membuatnya berhasil mensejajarkan diri dan kemudian bahkan mengalahkan Sony, yang selama ini identik dengan produk berkualitas tinggi. Apa yang diraih Samsung tersebut menjadi gambaran bagaimana perusahaan yang punya unit usaha dengan value chain yang terintegrasi bisa menjadi pemain yang susah ditandingi. Inilah yang terjadi misalnya pada PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Keberadaan INDF sebagai sebuah perusahaan makanan olahan, dirintis pada tahun 1982 melalui pendirian PT Sarimi Asli Jaya, yang memproduksi mie instan merek Sarimi dan kebetulan bukanlah produk pertama di pasar. Di pasar sudah ada 2 merek kuat, Supermi (milik PT Supermie Indonesia, hasil patungan perusahaan lokal dengan Sankyo Shokuhin dari Jepang dan sudah ada di pasar sejak tahun 1969) dan Indomie (milik PT Sanmaru Food Manufacturing dari Grup Jangkar Jati yang beredar di pasar sejak tahun 1970). Selain mie instan, INDF juga merintis produk makanan olahan lainnya, yaitu snack foods sejak tahun 1983, yang memproduksi Chiki Snack dan kini dikenal sebagai salah satu merek kuat di pasar snack foods Indonesia.

Di tahun 1984, terjadi merger diantara produsen mie instant yang menjadikan INDF memiliki dua merek kuat: Indomie dan Sarimi. Setahun kemudian INDF meluncurkan Indomie Rasa Kari Ayam, yang belakangan dikenal sebagai salah satu jenis rasa instant noodle paling laris di pasaran. Di tahun yang sama, melalui PT Sanmaru Food Manufacturing, INDF masuk di bisnis makanan balita dengan produk pertama makanan susu dengan merek Promina dan kini dikenal sebagai salah satu merek kuat makanan balita Indonesia.

Posisi di pasar mie instan semakin kuat ketika INDF mengakuisisi PT Supermie pada tahun 1986. Dan sejak saat itu, dominasi INDF di pasar instant noodle Indonesia benar-benar kukuh, karena memungkinkannya melakukan berbagai inovasi seperti ditunjukkan dengan membuat cup noodle dengan merek Pop Mie di tahun 1987, mie instan goreng di tahun 1988 dengan merek Indomie, dan mie instant yang lebih terjangkau harganya seperti Sakura.

Di tahun 1989, INDF masuk ke bisnis food seasonings yang menghasilkan kecap dan bumbu, dan 2 tahun kemudian juga membuat saus tomat dan sambal. Di tahun yang sama, INDF mengakuisisi PT Sari Pangan Nusantara, produsen makanan balita merek SUN. Selain membuat produk sendiri, di tahun 1990 INDF menjalin joint venture dengan Pepsico Foods yang punya merek Frito-Lay dan membuat snack berbahan baku kentang, dengan merek-merek seperti Chitato, Cheetos dan Chikita, snack foods berbahan baku ketela yang jumlahnya memang melimpah di Indonesia.

Meski sudah memiliki berbagai perusahaan produsen makanan olahan, INDF sebagai perusahaan seperti yang dikenal sekarang baru dimulai pada tahun 1990 dengan berdirinya PT Panganjaya Intikusuma. Di tahun 1994, barulah diubah menjadi INDF sebelum go public di tahun itu. Setahun kemudian PT Bogasari Flour Mills, yang merupakan perusahaan penggilingan tepung terigu terbesar Indonesia yang menghasilkan bahan baku mie instan, diakuisi dan menjadikan INDF sebagai sebuah perusahaan raksasa makanan yang terintegrasi.

Langkah INDF meningkatkan breadth and depth di bisnis yang punya kaitan erat dengan mie instan diikuti dengan mengakusisi perusahaan yang bergerak dalam edible oils and fats, dan punya merek kuat, Bimoli pada tahun 1997. Dengan bidang bisnis yang beragam ukuran bisnisnya, INDF sebetulnya sudah tidak ada bedanya dengan perusahaan makanan besar dunia, seperti Kraft Foods/Philip Morris Inc, PepsiCo, Nissin, ataupun President Enterprise yang memang bergerak di berbagai bidang makanan. Selain integrasi dalam rantai produksi, INDF juga melakukannya di rantai distribusi dengan mengakuisisi Indomarco, salah satu perusahaan distribusi consumer goods terkemuka Indonesia, yang dilakukan di tahun 1997.

Langkah besar INDF untuk memperkuat diri sebagai a giant integrated food company baru dilakukan lagi di tahun 2005, yaitu melalui joint venture dengan Nestle yang membentuk PT Nestle Indofood Citarasa Company. Setahun kemudian INDF mengakuisisi Pacsari Pte Ltd, sebuah shipping company, dan juga lahan perkebunan di Kalimatan Barat, serta mengorganisasi semua unit agribisnisnya ke PT Salim Ivomas Pratama. Di tahun 2007, INDF kian memperkuat unit agribisnisnya dengan mengakuisisi Rascal Holdings Limited dan perusahaan perkebunan yang sudah lebih dari seabad usianya, yaitu PP London Sumatera Plantation Tbk (LSIP) yang juga masuk KOMPAS100.

Menyadari ragam bisnis, panjangnya rantai bisnis, dan besarnya skala bisnis, INDF memutuskan mengorganisir bisnisnya menjadi empat bagian besar strategic business group yang saling melengkapi satu sama lain; pertama adalah Consumer Branded Products (CBP) Group, yang mencakup berbagai divisi packaged foods seperti Noodles, Food Seasonings, Snack Foods dan Nutrition & Special Foods dan didukung oleh divisi Food Ingredients, Packaging dan International divisions; kedua, Bogasari Group, yang bisnis utamanya menghasilkan tepung terigu, dan juga pasta dan di dukung dengan unit perkapalan; ketiga, Agribusiness Group yang aktivitas utamanya mulai dari litbang, pembibitan kelapa sawit, penanaman, pengolahan, branding dan marketing minyak goreng, margarine dan shortening, serta perkebunan karet, teh dan kokoa; dan keempat, Distribution Group, yang merupakan salah satu jaringan distribusi terbesar Indonesia dan menangani baik produk INDF maupun pihak ketiga.

Di pihak lain, dengan memiliki berbagai merek kuat di berbagai bidang bisnis, INDF terdorong untuk membentuk Central Marketing Unit untuk membantu seluruh unit usaha mengembangkan arahan pemasaran strategis yang komprehensif untuk menciptakan sinergi dalam media, riset dan pemasaran. Dengan berbagai inisiatif semacam itu, INDF kian menjadikan diri sebagai a giant integrated foods company yang kian lincah bergerak tapi terukur dan sulit untuk ditandingi.


"Philip Kotler's Executive Class: 12 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: