Wednesday, May 13, 2009

[Kompas 100]: Gozco: "A Small Challenger in the Palm Oil Plantation Sector"

Rabu, 13 Mei 2009 | 07:51 WIB

Hari-hari ini nama perusahaan mobil Fiat menjadi headline dimana-mana.

Ini terjadi setelah perusahaan ini mengumumkan niatnya untuk mengakuisisi perusahaan otomotif Amerika yang bermasalah, yaitu Chrysler dan anak perusahaan General Motors di Eropa. Sebagaimana diketahui, Chrysler dan General Motors sedang mendapatkan pertolongan dari pemerintah Amerika Serikat untuk memperpanjang kelangsungan usahanya. Dan pemerintahan Obama, yang tidak berniat untuk selamanya menjadi pemegang saham, sudah menyusun prioritas kegiatan yang harus dilakukan.

Yang utama tentu saja adalah inisiatif untuk mengurangi kerugian besar yang terkait dengan model operasional bisnisnya. Salah satu yang sering disinggung tapi tidak pernah dikupas secara terbuka adalah tunjangan pensiun dan fasilitas lain bagi para pegawai. Maklum, di industri dimana serikat pekerja punya posisi yang sangat kuat, tidak mudah untuk secara terbuka membicarakan dan kemudian menyelesaikannya.

Tapi serikat pekerja yang sudah menyadari betapa besarnya masalah yang dihadapi kedua raksasa otomotif Amerika, ternyata akhirnya mau melihat kepentingan yang lebih besar. Lebih baik menyelamatkan pekerjaan para anggotanya, daripada ngotot mempertahankan fasilitas tersebut semata-mata karena memang sudah menjadi haknya. Ini jelas suatu kemajuan besar, yang dimasa lalu sulit untuk terjadi.

Sayangnya hal ini memang dilakukan terlambat. Karena itu, upaya semacam ini menjadi tidak efektif lagi untuk menekan kerugian yang terus membesar. Dalam kondisi semacam itu, Fiat, yang bidang bisnisnya beragam, mulai dari truk Iveco, mobil Fiat, Ferrari, Maserati, Alfa Romeo dan Lancia hingga ke konstruksi, mencoba masuk dan mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

Yang kemudian menjadi masalah adalah skala perusahaan dari Fiat itu sendiri, khususnya di bidang otomotif. Walaupun punya bisnis yang menguntungkan, Fiat untuk ukuran global adalah perusahaan otomotif kecil. Dengan mengacu pada fakta ini, dan ditambah dengan besarnya uang kas yang dimiliki, banyak yang menganggap Fiat bukan merupakan perusahaan yang tepat untuk menolong Chrysler dan General Motors.

Apa yang terjadi pada Fiat menggambarkan bahwa perusahaan yang berskala kecil seringkali mesti siap menghadapi stereotyping yang terkait dengan ukuran yang dimiliki. Tantangan akan menjadi jauh lebih besar kalau ternyata memang tidak punya diferensiasi yang solid. Tantangan semacam ini kini sedang dihadapi oleh PT Gozco Plantations Tbk (GZCO).

Didirikan di Sidoarjo dengan nama PT Surya Gemilang Sentosa di tahun 2001, perusahaan kemudian melakukan sejumlah akuisisi sebelum akhirnya merubah nama seperti yang dikenal sekarang di tahun 2007. Di tahun 2008, GZCO melakukan joint venture dengan PT Sumber Terang untuk membentuk Sumber Terang Agro Lestari. Meski agresif berkembang melalui serangkaian akuisisi, GZCO sampai saat ini bisa digolongkan sebagai perusahaan perkebunan kecil dilihat dari besarnya lahan yang sudah ditanami, yang per Desember 2007 tercatat sebesar 13.050 hektar, maupun nilai penjualan yang pada tahun 2008 mencapai 291 milyar. Nilai penjualannya bahkan dibawah besarnya laba bersih dari salah satu perusahaan perkebunan baru yang punya nilai lahan yang ditanam sekitar 87.000 hektar. Apalagi dibandingkan dengan perusahaan perkebunan lain yang punya lahan yang ditanami yang sebesar 199.000 hektar.

GZCO kini memang sudah punya bank tanah yang cukup besar, dan bahkan sudah berencana menambah bank tanah untuk memperbesar lahan yang ditanami. Namun harus diakui, meski sudah punya calon lahan tanam yang besar, tidak mudah bagi GZCO untuk menarik perhatian orang. Soalnya dalam sektor industri ini, kalau tidak punya lahan tanam yang besar dan pengembangan benih kelapa sawit, akan susah untuk mendapatkan manfaat optimal dari bisnis kelapa sawit.

Sebetulnya, ukuran kecil bukan merupakan soal kalau diferensiasinya sangat solid. Ini bisa dalam bentuk pohon kelapa sawit yang punya hasil panen yang secara signifikan lebih besar, menghasilkan minyak yang lebih banyak dan lebih tahan terhadap kekeringan dan penyakit dibandingkan para pesaingnya yang lebih besar. Sayangnya, pada saat ini masih susah bagi GZCO untuk menunjukkan diferensiasi yang semacam itu.

Tapi tidak berarti GZCO tidak punya peluang sama sekali untuk bisa menantang para pesaingnya. Salah satunya adalah meningkatkan efisiensi operasional melalui pengembangan infrastruktur dan fasilitas logistik. Melalui cara seperti ini, bisa dilakukan penghematan yang akhirnya bisa meningkatkan marjin labanya.


"Philip Kotler's Executive Class: 14 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: