Monday, May 25, 2009

[Kompas 100]: BRI: "The World's Benchmark for Microfinance and The Most Profitable Bank in Indonesia"

Senin, 25 Mei 2009 | 14:50 WIB

Muhammad Yunus meraih Hadiah Nobel berkat aktivitasnya melalui Grameen Bank.

Nama Yunus dan Grameen Bank memang sudah lama dibicarakan orang terutama ketika bicara bagaimana memberikan layanan bank bagi mereka yang selama ini digolongkan kebanyak orang sebagai non-bankable customers. Berawal dari keprihatinannya akan tingkat kemiskinan yang ada di negaranya dan bagaimana mengentaskannya, Yunus melihat bahwa cara terbaik adalah memberdayakan mereka dengan memberikan kesempatan membuka usaha sendiri. Tapi, repotnya, tidak ada lembaga keuangan yang mau memberikan akses ke mereka karena dianggap tidak bankable.

Yunus yang merupakan pengagum Dr Akhtar Hameed Khan, orang yang sebetulnya merupakan pionir keuangan mikro, mencoba mengembangkan lembaga keuangan yang bisa memberikan akses kepada kaum miskin. Di tahun 1976, ia membuat pilot project lembaga keuangan yang bisa memberikan pinjaman kepada kaum miskin dengan mengandalkan pinjaman bank. Pelan tapi pasti pilot project ini berjalan dengan baik, dimana pada tahun 1982 sudah bisa menjangkau 28 000 orang.

Di tahun 1983, pilot project-nya yang mengandalkan pada model solidaritas orang-orang miskin untuk bisa saling menolong, termasuk menjadi penjamin pinjaman, agar bisa lebih sejahtera, dirubah menjadi sebuah bank keuangan mikro yang diberi nama Grameen Bank. Sambutan dari mereka yang selama ini dianggap tidak layak mendapatkan pinjaman bank terhadap bank ini ternyata luar biasa. Dan barangkali dipengaruhi latar belakang Yunus yang menyelesaikan studi master dan doctor di Amerika Serikat dan bahkan pernah mengajar di Amerika, nama Grameen Bank pun mendunia, berhasil menarik donor dari sejumlah lembaga/perusahaan internasional dan akhirnya menjadi platform bagi apa yang disebut sebagai sistem bisnis mikro.

Pada saat yang bersamaan dengan langkah Yunus dalam membuat dan membangun Grameen Bank, direksi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di awal tahun 1980-an dihadapkan pada tantangan menyelamatkan investasi yang terlanjur dibenamkan untuk mendukung program BIMAS. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau sejak tahun 1969 sampai 1983, BBRI ditugaskan pemerintahan Soeharto untuk membantu para petani yang berada di desa-desa. Untuk mendukung kelancaran tugas pemerintah tersebut, BBRI membangun outlet di berbagai desa di seluruh penjuru Indonesia dan tentu saja merekrut orang yang diharapkan bisa mengoperasikan outlet tersebut. Sampai tahun 1983, BBRI sudah punya 3617 outlets dan 14334 karyawan. Jelas tidak mudah melepas investasi sebesar itu hanya gara-gara program BIMAS distop pemerintah.

Salah satu direksi BRI pada saat itu, almarhum Sugianto, melontarkan ide mengkonversi outlet BRI yang ada di desa sebagai jaringan keuangan mikro dan diberi nama BRI Unit dan melayani para petani di desa-desa. Usulan tersebut didukung direksi lainnya, sehingga pada tahun 1984 BBRI memutuskan meluncurkan Kupedes dan Simpedes. Kupedes adalah kredit skala mikro yang hingga kini bahkan sanggup menyediakan kredit sebesar Rp 25.000,-. Kupedes ini --berbeda dengan kredit mikro Grameen Bank-- bersifat individu. Sementara Simpedes adalah produk yang sejak dari awal memang dirancang untuk menjadi ”pasangan” Kupedes.

Ternyata hanya dalam waktu dua tahun sejak kedua produk tersebut diluncurkan, BRI Unit sudah menjadi unit bisnis yang menguntungkan. Ada beberapa kunci kesuksesannya. Pertama, luasnya jaringan yang dimiliki BRI Unit pada saat produk tersebut diluncurkan, sangat cocok bagi para petani yang sulit mendapatkan akses ke perbankan, baik karena alasan kualifikasi maupun transportasi.

Kedua, besar dan dalamnya pemahaman yang dimiliki almarhum Sugianto dan kawan-kawan terhadap para pengguna keuangan mikro, yang selama ini begitu bergantung pada rentenir akan arti penting menjaga kehormatan sebagai peminjam terutama dikaitkan dengan kondisi para pegawai bank, penabung dan peminjam yang tinggal dalam desa yang sama. Ketiga, meluncurkan produk yang sesuai di waktu yang tepat, karena memang belum ada lembaga keuangan yang serius menggarap kalangan yang selama ini dianggap tidak bankable. Kunci sukses kedua dan ketiga menunjukkan world-class local genius dari unit keuangan mikro BBRI.

Sejak tahun 1986 unit bisnis BBRI tersebut terus mencatat kenaikan keuntungan dari waktu ke waktu. Bahkan ketika BBRI tidak bisa mengelakkan diri dari dampak krisis Asia di tahun 1997-1998, unit bisnis tersebut tetap menguntungkan. Karena itu bukan suatu hal yang mengherankan kalau sejumlah negara berkembang yang ingin meniru jejak BBRI Unit, sampai mengirimkan orang untuk belajar ke BBRI. Di bank ini bahkan sampai dibentuk unit khusus yang menangani kalangan dunia internasional yang mau belajar membangun bisnis keuangan mikro yang diberi nama International Visitors Program.

Sayangnya, kecuali buku ”Micro Finance Revolution: Lesson From Indonesia” karangan Marguirite S Robinson yang diterbitkan oleh Bank Dunia dan LSM-nya George Soros, publikasi unit keuangan yang disebut Bank Dunia sebagai the largest and the most profitable microfinance in the world jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Grameen Bank. Memang ada pengakuan Bank Dunia pada almarhum Sugianto yang membuat Sugianto Award sebagai penghargaan kepada mereka yang berkarya pada keuangan mikro. Meskipun demikian, tidak berarti tidak ada apresiasi sama sekali.

Kinerja BRI Unit bahkan menjadi penyebab mengapa IPO BRI di tahun 2003 menjadi begitu fenomenal --terutama dengan besarnya penambahan persentase jumlah saham yang dilepas akibat tingginya tingkat permintaan. Dan dengan bertumpu pada unit keuangan mikronya, BBRI pun mulai mengembangkan unit bisnis yang lain, mulai dari layanan mass market banking hingga ke priority banking. Langkah pengembangan tersebut juga merupakan bagian serangan balik BBRI terhadap para pesaingnya, baik lokal maupun global yang juga hendak masuk ke bisnis keuangan mikro yang ternyata menguntungkan.

Pelan tapi pasti, BBRI, yang punya outlet paling banyak dan tersebar di Indonesia serta jumlah nasabah sekitar 25 juta, bukan hanya kuat di bisnis keuangan mikro, yang kini bahkan coba diperkuat melalui layanan Teras BRI, tapi juga unit-unit bisnis yang lain.

Contohnya, produk mass market banking-nya yang masih relatif baru dibandingkan para pesaingnya, teryata berhasil membuat BBRI sebagai satu-satunya bank utama di Indonesia dengan dua produk tabungan berbeda segmen --Simpedes dan Britama-- yang dua-duanya masuk dalam 5 besar merek produk tabungan terpopuler dalam survei tahunan MarkPlus Insight, Indonesia Bank Loyalty Index. Dan selain merupakan bank yang pesat perkembangannya dalam aset dan kini menjadi bank terbesar kedua, BBRI selama beberapa tahun terakhir selalu menjadi bank yang meraih laba terbesar di Indonesia, karena punya unit-unit bisnis yang solid, termasuk keuangan mikro.


"Philip Kotler's Executive Class: 2 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: