Monday, May 18, 2009

[Kompas 100]: BCA: "The Undisputed Leader of National Payment System Services"

Bagian 95 dari 100

Senin, 18 Mei 2009 | 07:41 WIB

Apa beda Hong Kong dengan kota besar China lain nantinya?

Itulah pertayaan yang muncul di hari-hari terakhir menjelang Hong Kong handover di pertengahan tahun 1997. Meski pemerintahan China semasa Deng Xiaoping telah merumuskan apa yang disebut dengan one country two systems yang akan berlaku begitu kedaulatan Hongkong dikembalikan ke China, tapi kekhawatiran tersebut tidak bisa hilang begitu saja. Terutama terkait dengan perbedaan situasi kebebasan yang dinikmati warga Hongkong sebelum dan setelah penyerahan kedaulatan.

Lebih dari sepuluh tahun setelah penyerahan kedaulatan, pemerintahan China benar-benar memegang janjinya untuk menerapkan apa yang disebut sebagai one country two systems. Warga Hongkong tetap bisa menikmati kebebasan yang kurang lebih sama seperti sebelum penyerahan kedaulatan. Di tambah dengan sistem ekonomi kapitalis yang tetap berlaku, posisi Hongkong sebagai salah satu perekonomian paling bebas juga tidak berubah.

Memang nyaris tidak ada yang berubah dengan Hongkong. Tapi tidak berarti persoalan lalu selesai begitu saja. Pada saat Hongkong masih bisa melestarikan berbagai sistem yang sudah ada sejak sebelum penyerahan kedaulatan, ada sejumlah kota di China yang justru sedang bergerak menyerupai Hongkong.

Salah satu yang menonjol adalah Shanghai. Meski belum bisa menandingi Hongkong dalam tingkat kebebasan, rule of law dan keterbukaan ekonomi, kota dagang terpenting di wilayah daratan China ini ternyata berhasil menarik minat sejumlah perusahaan raksasa global untuk memindahkan kantor regional mereka ke Shanghai. Hal ini terjadi karena Shanghai menawarkan apa yang tidak bisa ditawarkan Hongkong: kedekatan pasar.

Apa yang terjadi pada kasus Hongkong dan katakanlah kota China lainnya seperti Shanghai, bisa menjadi perbandingan kasus dengan apa yang terjadi dengan national payment system melalui bank yang ada di Indonesia. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) adalah pelopor dan sampai sekarang merupakan pemain terbesar di sini. Banyak pesaing yang sudah mencoba mengikuti jejak bank yang didirikan di tahun 1957 ini dalam mengembangkan infrastruktur pendukung national payment system.

Bukan hanya mengembangkan infrastruktur pendukung yang sebanding, para pesaing BBCA bahkan juga mencoba membuat layanan yang lebih nyaman dibandingkan apa yang ditawarkan BBCA, melalui Tahapan BCA, produk tabungan yang menurut hasil survei tahunan MarkPlus Insight, Indonesia Bank Loyalty Index, punya ekuitas tertinggi.

Tapi tetap saja susah bagi mereka untuk menjadi pesaing yang menakutkan bagi BBCA, yang kini memiliki jaringan pelayanan ekstensif dan electronic delivery channels melalui 852 kantor cabang, 6137 ATM dan 80293 EDC untuk memberikan layanan kepada 8 juta pemegang rekening. Soalnya BBCA telah menciptakan entry barrier yang susah untuk ditandingi lawan-lawannya, termasuk yang siap untuk bersaing at any cost.

Meski bukan yang pertama menawarkan layanan ATM dan internet banking di Indonesia, BBCA adalah bank pertama di Indonesia yang melakukan proses edukasi sistematis dalam pemakaian kedua layanan electronic delivery channel tersebut. Proses edukasi tersebut diimbangi dengan penambahan keberadaan ATM dan fasilitas layanan ATM serta internet banking secara sistematis. Dan karena, BBCA dibiarkan sendirian melakukan hal tersebut, maka bukan hal yang mengherankan kalau apa yang dilakukan BBCA tersebut kemudian menciptakan kebiasaan baru bagi para penabung yang susah diubah, termasuk dalam pemilihan merek bank yang digunakan.

Pola melakukan edukasi dan penambahan layanan secara sistematis itu terus berlanjut ketika BBCA menawarkan berbagai layanan tambahan yang ternyata diikuti oleh para pesaing. Contohnya adalah buku tabungan yang bisa mencatat secara detail semua transaksi yang terjadi dalam satu bulan, yang ditawarkan ke para penabung dengan kualifikasi tertentu. Ternyata langkah tersebut kemudian diikuti pula oleh para pesaingnya.

Posisi BBCA sebagai standard setter bukan hanya berhenti di produk layanan. Untuk penambahan jenis electronic delivery channel, apa yang dilakukan BBCA dijadikan benchmark bagi para pesaingnya dalam mengadopsi teknologi aplikasi. Soalnya BCA sudah dikenal reputasinya di dalam dan luar negeri sebagai bank yang selalu mengambil keputusan tepat dalam pemilihan teknologi dan waktu penerapannya.

Harus diakui, keunggulan dalam aktivitas transaksional selain sulit untuk ditandingi juga menjadi kontributor penting dalam pencapaian sebagai peraih laba terbesar kedua di industri perbankan Indonesia. Namun kami melihat bahwa para pesaing yang saat ini sulit untuk menandinginya dalam aktivitas transaksional, akan menunggu saat BBCA terlena untuk tidak memperkuat unit-unit bisnis lainnya, yang pada saat ini belum memiliki posisi pasar yang kuat, seperti yang misalnya terjadi di aktivitas investasi. Dan berbeda dengan aktivitas transaksional yang membuatnya dikenal sebagai standard setter, BBCA seperti membiarkan sejumlah pesaingnya untuk melakukan edukasi pasar dan mulai menikmati hasilnya dalam aktivitas yang terkait dengan investasi.


"Philip Kotler's Executive Class: 9 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: