Tuesday, May 5, 2009

[Kompas 100]: Agis: "A Leading Consumer Electronics Distributor"

Bagian 83 dari 100

Selasa, 5 Mei 2009 | 07:37 WIB

“Only the paranoid survive!” Begitu kata Andy Grove.

Dan yang dimaksudkan dengan paranoid oleh Grove adalah dalam menghadapi perubahan business landscape. Di ICT industry dimana Intel Corporation yang pernah dipimpin Grove berada di dalamnya, yang namanya perubahan business landscape bisa berjalan dengan cepat. Sebuah metode atau teknologi yang sama sekali baru, tiba-tiba bisa membuat sebuah perusahaan yang tadinya sangat kuat tiba-tiba terancam kelangsungan hidupnya.

Karena itu, mereka yang bergerak di industri ICT cenderung untuk sesegera mungkin mengenal dan menguasai metode dan teknologi baru yang dipercaya bisa menjadi trend di masa depan. Karena kuatnya keinginan semacam itu, tidak jarang perusahaan jadi kemajon. Bagi perusahaan yang innovation oriented, hal itu tidak masalah, karena akan bisa dikoreksi, sambil tentu saja menunggu keberhasilan proses technology adoption lifecycle.

Gambaran perusahaan yang berusaha bisa menjadi terdepan dalam suatu trend baru berbasis teknologi baru, tapi kemudian lebih menekuni bisnis berbasis teknologi sekarang bisa dilihat pada PT Agis Tbk (TMPI). Sebagai sebuah distributor consumer electronics terkemuka Indonesia, TMPI ternyata tidak mau terlena dan kemudian menutup mata terhadap trend yang berlaku di tingkat global, terutama terkait dengan munculnya platform baru dalam distribusi digital content yang sudah berjalan dengan sukses seperti yang dilakukan YouTube, iTunes Store ataupun Hulu. TMPI pun tergerak memasuki bisnis ini dengan meluncurkan WOWtv di tahun 2007. Bisnis yang menawarkan streaming video melalui Internet broadband dengan model subscription ini, dijalankan melalui kerjasama dengan salah satu perusahaan yang berbasis di Singapore. Selain itu, TMPI juga mengembangkan Klik2Play untuk menangkap pasar online gaming, serta juga menjajaki kemungkinan memasuki Mobile TV. Semua tersebut termasuk dalam divisi multimedia TMPI yang menurut rencana akan dikembangkan menggunakan dana yang didapatkan dalam rights issue yang dilakukan pertengahan 2008.

Ini langkah yang besar oleh TMPI mengingat bahwa sejarah mencatat bahwa perusahaan ini dimulai lebih dari 30 tahun yang lalu sebagai produsen dan distributor produk Sony di Indonesia. Setelah melakukan backdoor listing di tahun 1996 melalui PT Telaga Mas Pertiwi –produsen sepatu ekspor yang kini sudah tidak lagi beroperasi– perusahaan ini berkembang hingga menjadi perusahaan consumer electronics terintegrasi. TMPI kini memiliki 4 divisi utama: distribusi dan retail perangkat elektronik konsumen –melalui Agis Electronic Superstore–, perbaikan perangkat elektronik, logistik, dan juga multimedia.

Kenaikan harga BBM ditahun 2005 memang benar-benar memukul perusahaan ini, terutama divisi retail, dengan mencatat kerugian hingga Rp 2 Miliar. Namun setelah melakukan restrukturisasi manajemen dan juga usahanya, di tahun 2007, TMPI dapat kembali mencatatkan laba positif, meskipun relatif kecil. Tampaknya perusahaan ini kini memang berhasil melakukan turnaround, dimana pada laporan keuangan triwulan III 2008, TMPI sudah mencatatkan laba bersih lebih dari Rp 5 Miliar. Dan dalam melakukan turnaround di tahun 2006 dan 2007 ini, divisi wholesale dan juga multimedia menjadi andalan untuk konsisten memberikan profit bagi perusahaan. Mungkin karena sebab itulah TMPI berani menjajaki kemungkinan ekspansi divisi multimedia dengan WOWtv dan juga Klik2Play.

Namun business landscape Indonesia, termasuk kondisi masyarakat Indonesia tampaknya jauh berbeda dengan kondisi di Amerika Serikat. Dengan perkiraan jumlah pengguna Internet hanya mencapai sekitar 10% dari total penduduk, dan hanya sebagian kecil yang memiliki akses broadband pribadi, mengembangkan bisnis yang mengandalkan Internet berkecepatan tinggi tentunya akan sulit. Sepertinya hal inilah yang dilihat oleh TMPI hingga membatalkan rencananya untuk habis-habisan mengembangkan divisi multimedia, dan akhirnya memilih untuk memperluas bisnis consumer electronics mereka untuk mencakup mobile electronics, terutama telepon selular, dan juga gadget elektronik lainnya.

Ini dilakukannya dengan mengalokasikan dana hasil rights issue untuk memperoleh kepemilikan dari dua perusahaan, yaitu Comstar Mobile Pte Ltd, perusahaan distribusi telepon seluler di Asia Pasifik, dan PT Erafone Arta Retailindo, retailer produk telepon seluler. Dengan akuisisi ini, TMPI mampu memperluas jaringan distribusi ritel untuk mencakup lebih dari 1.000 outlets sekaligus mendapatkan hak distribusi dari merek Nokia, Samsung, dan juga Sony Ericsson. Kekuatan baru ini tentunya juga mempermudah TMPI dalam memasarkan telepon selular dengan merek Kozy, yang merupakan ciptaan mereka.

Kami melihat bahwa langkah ini merupakan keputusan yang tepat, karena bisnis distribusi dan retail sudah merupakan core competence yang membesarkan perusahaan ini sejak awal. Meskipun sempat memiliki kompetensi dalam hal multimedia, broadcasting dan content provider dengan memiliki divisi production house dan sempat menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan Indovision, consumer electronics tetap menjadi bread and butter dari perusahaan ini. Distribusi produk elektronik menyumbang lebih dari 80 persen pendapatan perusahaan. Dengan ini, tentunya TMPI akan lebih siap menghadapi tantangan sebagai distributor dan retailer telepon genggam.

Jika TMPI sukses mengandalkan kekuatannya dalam distribusi dan retail produk elektronik konsumen untuk mengembangkan bisnis di telepon genggam dan juga gadgets, maka kami melihat bahwa perusahaan ini dapat terus melengkapi turnaround-nya dan menjadi salah satu perusahaan yang diperhitungkan dalam distribusi dan ritel consumer electronics di Indonesia.


"Philip Kotler's Executive Class: 22 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: