Sunday, April 19, 2009

Toko virtual: Mengawali Sebelum yang Lain

Minggu, 19 April 2009 | 02:55 WIB

Mal bukan lagi tempat belanja satu-satunya pada era teknologi informasi yang memberi kemudahan berbelanja di ujung jari.

Kini semakin banyak produk Indonesia ditawarkan online. Dua di antaranya adalah Simplight (simplight.net) yang dimiliki dan dikelola oleh Vilia Ciputra (26) dan De Pernics (www.pernics.multiply.com) milik Ade Siregar, ibu dua anak.

Toko virtual ini berawal dari kesukaan mereka berselancar di internet walau mereka sebelumnya mengawali usaha secara fisik. Ade yang lulusan sekolah perhotelan di Bali, ketika bekerja di perusahaan produksi sinetron (PH) di Jakarta, kerap menitipkan baju dan kain kepada suaminya yang juga bekerja di perusahaan PH.

”Karena suka ngobrol dengan teman-teman lewat internet, mereka mendorong saya bikin toko online,” kata Ade.

Awal pertama usaha Vilia adalah berjualan dari rumah ke rumah, lalu punya butik di rumah, kemudian toko di ITC Kuningan. Tahun 2000 ketika bisnis di internet mulai muncul di Indonesia, dia membuka toko online. Kini, usaha Vilia termasuk mapan, dilihat dari penataan etalase di layar, sistem pencarian (search of engine), maupun pemakaian situs khusus.

”Ke depan saya melihat perkembangan online akan lebih efektif dan efisien karena jauh lebih mudah menggapai pasar global. Saya juga bisa fokus mengurus proses toko dan produk,” kata Vilia, lulusan London School of Public Relations. Alasan lain, waktu kerja dan skala usaha lebih fleksibel serta bisa dikerjakan dari rumah.

Itu juga alasan Ade. ”Kerja kantoran menghabiskan banyak waktu dan penghasilannya sudah tertentu. Bisnis seperti ini waktunya bisa saya atur dan bisa saya kerjakan dari rumah,” papar Ade.

Kerja sama

Vilia menawarkan aksesori, seperti tas, dompet, dan perhiasan untuk anak perempuan dan perempuan dewasa serta pakaian. Selain produknya sendiri, dia juga menawarkan produk dari produsen lain, sebagian besar perempuan. ”Supaya lebih banyak perempuan maju dalam berbisnis,” kata Vilia.

Syaratnya, memakai 70 persen bahan lokal, terutama untuk bebatuan aksesori. Mereka dibuatkan telusuran (link) sendiri dan diberi tenggang sebulan untuk memajang produk. Bila hasil penjualan tidak bagus, si penjual boleh tetap memasang produknya dengan kompensasi biaya administrasi Rp 250.000 per bulan. Bila tak laku, jalur ditutup.

Karena pembeli hanya mengandalkan gambar produk yang dipasang di situs, maka menyediakan gambar secara detail sangat penting. Ade yang menjual produk sendiri berupa baju, kain, dan tas memastikan foto yang terpasang harus sama dengan aslinya.

Seperti juga Vilia, Ade membuat desain dan memiliki pegawai untuk memproduksi atau mensubkontrakkan ke perajin kain dan aksesori. Untuk kain, Ade bekerja sama dengan perajin di Pekalongan, sementara Vilia bekerja sama antara lain dengan perajin di Bali.

Vilia memberi garansi kepada pembeli untuk mengembalikan dalam tiga hari bila barang tidak cocok atau rusak serta jasa cuma-cuma perbaikan, perawatan, dan penggantian elemen produk yang sudah dibeli.

”Dengan layanan tambahan ini, pembeli tidak ragu berbelanja,” tutur Vilia. Sebaliknya, agar tidak tertipu pembeli fiktif, keduanya menerapkan sistem pembayaran di muka. Sejauh ini, bisnis mereka berjalan lancar dan pembeli pun ada yang dari Australia, Malaysia, hingga Jerman. (IND/NMP)

Kompas

No comments: