Friday, April 3, 2009

[Kompas 100]: Triwira: "A Focal Point of Selected Industrials Value Chain"

Bagian 51 dari 100

Jumat, 3 April 2009 | 07:45 WIB

Kalau tidak familiar dengan wayang akan sulit paham dengan punakawan. Punakawan adalah kumpulan tokoh yang ditunggu-tunggu oleh sebagian penggemar wayang. Mereka itu sebetulnya tidak ada dalam versi orisinil epik Mahabarata itu. Mereka muncul ketika epik itu dibuat dalam versi lokal di Indonesia.

Yang unik, punakawan itu muncul baik dalam wayang Jawa, Sunda ataupun Bali. Masing-masing punya nama dan versi yang berbeda-beda. Di Bali punakawan merupakan representasi dari abdi Pandawa dan abdi Kurawa. Sementara antara wayang Jawa dan Sunda ada peran yang mirip tapi beda nama. Yang versi Jawa terkait dengan peran Wali Sanga sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Jawa.

Nama tokoh-tokoh punakawan, seperti Semar, Gareng, Bagong dan Petruk bahkan muncul sebagai simbolisasi dari aktivitas dan eksistensi mereka. Uniknya, tokoh-tokoh punakawan tersebut merupakan orang-orang yang mengalami perubahan sehingga menjadi karakter yang unik, orang-orang biasa tapi punya ilmu yang tinggi. Itulah sebabnya, mereka menjadi terlihat wajar ketika memberikan nasihat, karena punya ilmu tinggi, meski merupakan orang biasa.

Sunan Kalijaga yang menjadi tokoh utama Wali Sanga, memang melihat bagaimana wayang merupakan medium yang ampuh untuk mendukung tugasnya. Hanya saja, ia melihat bahwa versi asli yang dari India tidak menarik buat penonton, karena kurang komunikatif. Sehingga penonton gampang bosan kalau diminta mengikuti adegan demi adegan semalam suntuk.

Dengan menciptakan punakawan, terbuka kesempatan untuk mengurangi rasa bosan para penonton, dengan memasukkan adegan-adegan yang lucu melalui punakawan. Dan karena ini tidak ada dalam versi aslinya, maka dalang bisa bebas berimprovisasi. Inilah peluang yang dibuat dan diciptakan Wali Sanga.

Di dunia bisnis ada peran-peran yang mirip punakawan di dunia pewayangan, seolah-olah seperti peran yang tidak penting tapi begitu dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak penting dalam arti perusahaan tidak perlu menciptakan fungsi dan jabatan khusus, tapi dibutuhkan karena membuat perusahaan bisa konsentrasi menjalankan aktivitas rutin mereka. Inilah yang misalnya terjadi pada supplier.

Seringkali supplier hanya dilihat seperti penutup lubang dan bukan bagian dari value chain. Akibatnya, kebanyakan supplier hanya berusaha memenuhi keinginan perusahaan untuk mendapatkan barang dengan harga yang murah dan kualitas yang kalau bisa bagus. Jarang ada supplier yang berusaha memberikan variasi dari produk yang ditawarkan yang diharapkan bisa lebih optimal dalam mendukung value chain perusahaan.

Salah satu dari sedikit perusahaan yang melakukan hal tersebut adalah PT Triwira Insan Lestari Tbk (TRIL). TRIL yang berdiri di tahun 1992 dan berbasis di Glodok adalah anak perusahaan Hengtraco Group yang awalnya bergerak sebagai distributor mesin-mesin impor. Dengan pemahaman akan value chain dari berbagai perusahaan yang membutuhkan industrial produk, pelan tapi pasti TRIL bukan hanya sekedar menambah principal dari mesin-mesin impor yang diageninya, tapi bahkan berekspansi ke alat-alat perlengkapan kerja pertambangan dan alat-alat teknik otomotif.

Sejumlah perusahaan besar Indonesia dan multinasional merupakan pelanggan setia TRIL yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Itulah sebabnya TRIL kemudian merasa perlu membagi pasarnya menjadi empat bagian, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Indonesia Timur yang mencakup Sulawesi dan Papua. Sementara portfolio bisnisnya diorganisir menjadi empat bagian yaitu peralatan perlengkapan keamanan pertambangan yang merupakan kontributor terbesar penjualan, dan kemudian diikuti penjualan peralatan teknik dan mesin, penjualan alat pengangkat barang dan penjualan peralatan bengkel otomotif.

Meski sudah memiliki portfolio bisnis yang menarik sebagai supplier, tapi TRIL yang dulunya bahkan pernah berbisnis dalam pendistribusian kayu, tapi distop mulai tahun 2008, kini tergerak untuk masuk ke bisnis pertambangan, sebagai pemasok batubara dan energi. Memang TRIL punya jaringan di area bisnis yang baru. Tapi karena bisnis batubara saat ini adalah bisnis yang menarik perhatian big boys, maka kami mengkhawatirkan kalau perhatian TRIL bisa menjadi tidak fokus dalam melakukan stretch out sebagai a focal point of selected industrials value chain.

Kami percaya, meski mungkin tidak terlihat seksi, tapi apa yang membuat TRIL bisa mendapatkan kepercayaan dari nama-nama besar, baik local maupun multinasional, masih bisa dipertajam dengan memberikan value added services. Bila ini yang dilakukan, maka TRIL akan bisa membuat perannya sebagai a focal point of selected industrials value chain tetap relevan dari waktu ke waktu.


"Philip Kotler's Executive Class: 54 Days To Go"


Hermawan Kartajaya, Taufik


Kompas

No comments: