Thursday, April 9, 2009

[Kompas 100]: Trias Sentosa: "A Leader in the Plastic Packaging Raw Material Market"

Bagian 57 dari 100

Kamis, 9 April 2009 | 11:13 WIB

Perang antara VHS dan Betamax hampir mirip dengan Perang Dingin.

Namun harus diakui wilayah pertempuran (format video) VHS dan Betamax jauh lebih luas dibandingkan dengan Perang Dingin. Secara teknis, Perang Dingin yang sebetulnya dimulai sejak jaman Perang Dunia di pertengahan tahun 40-an, langsung melibatkan NATO yang dipimpin Amerika Serikat dan Pakta Warsawa Plus yang dipimpin Uni Sovyet, yang kini sudah pecah menjadi beberapa negara itu. Tapi pada saat itu banyak negara yang memilih untuk mendirikan Gerakan Non Blok, alias tidak masuk kedua blok tersebut.

Kalau Perang Dingin memunculkan yang namanya Gerakan Non Blok, maka di perang VHS dan Betamax yang ketika dimulai di pertengahan tahun 70-an sempat memunculkan sejumlah perang kecil, pada akhirnya hanya melibatkan kedua blok tersebut, VHS yang dipimpin JVC dan Matsushita melawan Betamax oleh Sony. Dan perang tersebut bukan hanya antara pembuat video yang mem-back up masing-masing format, tapi juga antara produsen pemasok film. Sehingga konsumen dibuat bingung, untuk memilih video yang mana, karena akan berakibat tidak bisa menyaksikan film-film tertentu.

Tapi akhir kedua perang tersebut sama, ada satu pemenang. Kalau akhir Perang Dingin berakhir ketika Uni Sovyet ambruk, maka perang antar format video tersebut mulai terlihat berakhir ketika Sony memutuskan untuk juga memproduksi versi VHS, sekalipun di Jepang dan Amerika Latin, posisi Betamax masih kuat. Perang antara VHS dan Betamax ini selalu jadi referensi bukan hanya ketika orang bicara mengenai bagaimana perusahaan men-set apa yang disebut standar industri dengan jeli membaca unspoken concern sebagaian besar calon customer, tapi bagaimana sebuah perusahaan memproduksi produk yang bisa digunakan oleh para pesaingnya dan mereka tetap nyaman menggunakannya.

Yang tersebut terakhir itu kalau tidak dikontrol dengan hati-hati bisa membuat sebuah produk yang sebetulnya bagus menjadi akhirnya tidak laku di pasar, gara-gara banyak pemain yang percaya dengan ungkapan terkenal Arab, “musuh dari musuhku adalah kawanku dan kawan dari musuhku adalah musuhku”. Inilah yang tampaknya menjadi pertimbangan para pendiri PT Trias Sentosa Tbk (TRST), yaitu raksasa perusahaan rokok PT Gudang Garam dan distributor JVC di Indonesia PT Panggung Electronic, yang kebetulan juga menjadi salah satu customer–nya. TRST adalah produsen BOPP film dan polyester film yang mulai melakukan produksi tahun 1986 dengan satu lini produksi berkapasitas 4.500 ton per tahun.

BOPP (biaxially oriented polypropylene) film dan polyester film, atau lebih dikenal sebagai “kertas kaca”, bisa ditemukan orang kebanyakan dalam bentuk akhirnya, yaitu kemasan plastik pembungkus rokok, packaging produk makanan, kemasan sachet, ataupun label produk. Sekalipun bergerak di B2B, TRST tidak ragu untuk meng-create merk flexible packaging Astria. Yang menarik, sekalipun punya peluang mendikte pasar, tapi for the good of the industry, para pendiri TRST tidak melakukan hal itu.

Bisa jadi langkah tersebut justru malah membuat TRST berkembang semakin pesat. Saat ini, TRST memiliki lima lini produksi BOPP film serta dua lini produksi polyester film yang mulai dikembangkannya sejak 1995. Kapasitas produksi tersebut membuatnya menjadi produsen BOPP film dan polyester film terbesar di Indonesia.

Selain itu, dengan memulai pembangunan PVdC coating line di tahun 1995, dan metallising line di tahun 2003, TRST perlahan tapi pasti juga mengembangkan kompetensi downstream dalam bisnis packaging. Sehingga, kini perusahaan juga dapat menawarkan produk coated films, high-speed tight wrap films, metallised films, dan label films. Dengan ini, TRST semakin mendekati keinginannya untuk menjadi total solution of plastic packaging products.

Disamping itu, TRST juga sudah mulai memasuki pasaran ekspor, dimana sebagian besar penjualan ditujukan ke Amerika Serikat, Jepang dan Eropa. Untuk mendukung itu, TRST melakukan langkah-langkah ekspansi usaha hingga ke Singapore, dengan mendirikan kantor representatif, dan China, dengan akuisisi Tianjin Sunshine Plastics Tianjin China di pertengahan 2007 yang lalu.

Namun pasar lokal Indonesia masih menyumbang 72 persen dari penjualan total perusahaan, sehingga perkembangan dalam negeri tetap menjadi fokus perkembangan ke depan TRST. Mungkin karena itulah perusahaan merasa perlu untuk selalu mengawasi ancaman produk import seperti dari India dan Thailand, terutama saat mereka bisa menyediakan produk yang sama, dengan harga yang relatif lebih rendah.

Sampai-sampai, baru-baru ini TRST, bersama PT Argha Karya Prima Industri dan PT Fatra Polindo Nusa Industri Tbk (kini menjadi PT Titan Kimia Nusantara Tbk), akhirnya merasa perlu untuk melaporkan masuknya produk BOPP film dari Thailand ke Komite Anti Dumping Indonesia, meskipun mendapat tantangan dari industri packaging Indonesia. Dengan diterapkannya Bea Masuk Anti Dumping Sementara (BMADS) terhadap dua perusahaan Thailand pemasok BOPP film sebesar 11,03 persen hingga 16,11 persen, posisi TRST sebagai pemain utama di industri supplier BOPP film semakin terjamin, setidaknya di pasar lokal.

Melihat langkah-langkah yang diambil TRST untuk menghadapi persaingan usaha dari pihak luar negeri, kami melihat bahwa disinilah terletak ancaman bagi perkembangan perusahaan ke depan. Saat bea masuk sementara tidak lagi diterapkan terhadap produk import seiring dengan gerakan menuju pasar bebas, kelangsungan bisnis TRST dapat terancam. Jika perusahaan bisa menjaga kekuatan fundamental perusahaan dengan melakukan efisiensi ataupun memperkuat posisinya di pasar ekspor, maka TRST dapat meningkatkan kekuatannya melawan pesaing regional dan menjadi a prominent packaging material supplier in Asia.


"Philip Kotler's Executive Class: 48 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: