Monday, April 27, 2009

[Kompas 100]: PT Timah: "The World's Largest Integrated Tin Miner"

Bagian 75 dari 100

Senin, 27 April 2009 | 04:26 WIB

KOMPAS.com - Novel dan film Laskar Pelangi merupakan eye opener bagi kita. Sebagaimana ungkapan “anjing menggigit manusia bukan berita”, maka kasus sekolah dasar negeri atau swasta dengan fasilitas yang terbatas juga bukan merupakan berita.

Bahkan, kalaupun terjadi di kota Jakarta sekalipun, juga bukan sebuah berita. Tapi akan berbeda halnya kalau bicara bagaimana orang-orang yang berada di lingkungan dengan fasilitas sekolah dasar yang terbatas menyikapinya.

Inilah yang kemudian membedakan kasus sekolah dasar dengan fasilitas yang bukan lagi terbatas tapi bahkan tidak memenuhi syarat seperti yang digambarkan dalam novel dan film Laskar Pelangi dengan kasus sekolah dasar dengan fasilitas terbatas lainnya. Sudah jamak rasanya kalau orang yang berada di lingkungan dengan fasilitas yang terbatas akan mengeluh dan akhirnya menyerah. Tapi di novel dan film tersebut digambarkan bahwa kondisi yang kurang memenuhi syarat, tidak berarti jadi alasan untuk menyerah.

Di tangan ibu guru Muslimah, anak-anak sekolah yang jumlahnya terbatas dan lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang bagus serta berada di lingkungan dengan sekolah yang terbatas diajak bermimpi mengenai masa depan mereka dan sekaligus control their own destiny. Dan sebagai guru wanita yang cekatan, bahkan untuk memperbaiki atap yang bocor, ia seperti punya kredibilitas yang tinggi dalam menginspirasi. Melalui perjalanan waktu, beberapa lulusan sekolah dasar tersebut bahkan bisa melangkah jauh melebihi apa yang menjadi benchmark mereka, yaitu lingkungan di kawasan PT Timah Tbk (TINS), yang berada di propinsi Bangka Belitung.

Pada masa dimana anak-anak yang bergabung dalam Laskar Pelangi memang bersekolah di sekolah dasar yang serba kekurangan itu, TINS yang adalah BUMN, tak ubahnya sebuah institusi raksasa di propinsi tersebut yang menjadi impian bagi orang luar untuk bisa memasukinya. Apalagi, sebagai lazimnya pertambangan besar manapun di dunia, fasilitas yang ada di dalamnya, termasuk sekolah dasar, berada dalam kondisi yang bagus. Tentu dengan kondisi yang bagus, biasanya akan muncul output yang bagus pula, meski tidak jarang pula hal ini akan membuat orang menjadi kurang waspada mengantisipasi perubahan lingkungan yang kurang menguntungkan.

Inilah yang kemudian terjadi pada TINS di pertengahan tahun 1980-an, yang tiba-tiba menjadi perusahaan yang berjuang untuk mempertahankan kelangsungan usaha setelah ambruknya harga timah di pasar dunia seiring dengan bubarnya International Tin Council. Dalam kondisi semacam itu, biasanya perusahaan mesti mengambil langkah radikal. Seperti yang sudah banyak diketahui banyak orang, pemerintah akhirnya menunjuk Kuntoro Mangkusubroto –yang baru-baru ini telah menyelesaikan tugas sebagai Ketua Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh paska Tsunami- sebagai CEO TINS dari tahun 1989 sampai dengan tahun 1994, tahun dimana ia dipromosikan pemerintah menjadi Dirjen di Departemen Pertambangan dan Energi.

Di bawah kepemimpinannya, TINS mulai melakukan restrukturisasi bukan hanya sekedar untuk menyelamatkan kelangsungan usaha, tapi juga membangun landasan agar TINS bisa menjadi perusahaan yang diperhitungkan di masa depan. Proses tersebut terakhir kemudian dilanjutkan dan dipimpin oleh para CEO berikutnya, mulai dari Erry Riyana Hardjapamekas, Thobrani Alwi –yang kebetulan putra daerah Bangka Belitung– hingga CEO sekarang Wachid Usman, yang kesemuanya adalah orang dalam TINS. Bisa jadi faktor tersebut, ditambah pengalaman masa sulit setelah ambruknya harga timah dan selama proses restrukturisasi, mereka menjadi selalu waspada menghadapi perubahan lingkungan yang tidak menguntungkan, mulai dari harga timah yang turun-naik hingga ke tindakan para penambang tradisional yang membuat TINS mengalami kesulitan mempengaruhi harga di pasar internasional.

Yang menarik, sampai akhir tahun 90-an, yang namanya menjadi perusahaan yang diperhitungkan di tingkat global merupakan sesuatu yang diimpikan oleh orang TINS, apalagi setelah berhasil menjadi contoh sukses perusahaan yang melakukan turn around. TINS sepertinya tidak membayangkan pencapaian pada saat ini sebagai the world’s largest integrated tin miner. Tapi kami percaya bahwa pencapaian ini memang sesuatu yang wajar kalau mengingat, seperti halnya dengan guru dan murid yang tergabung dalam Laskar Pelangi, TINS punya corporate DNA sebagai perusahaan yang ingin terus menerus bisa control its own destiny. Dan corporate DNA tersebut terus menguat dari waktu ke waktu seiring dengan munculnya berbagai tantangan baru.

Berbagai upaya TINS untuk control its own destiny adalah: pertama, mem-branding-kan produk timahnya, yang memang berkualitas tinggi, berdasarkan kualitas –seperti Banka Tin, Mentok Tin, Banka Low Lead dan Banka Four Nine (yang ramah lingkungan)– dan bentuk seperti –Banka Small Ingot, Banka Tin Shot, Banka Pyramid dan Banka Anoda– dimana kesemuanya itu dijamin dengan sertifikat dan memungkinkan diperjualbelikan di London Metal Exchange. Kedua menjadikan diri sebagai tin miner terpadu, dengan aktifitas mulai dari eksplorasi, penambangan, peleburan dengan pengolahan, serta pemasaran yang memungkinkannya untuk bisa mendapatkan manfaat optimal di bisnis timah. Ketiga adalah mengantisipasi pasar baru pengguna timah, seperti kaleng pelat timah, campuran tambal gigi pengganti raksa, pengganti tembaga untuk peralatan olahraga dan tutup botol anggur, penghambat api, timbal patri, bola lampu, patri gelombang, timah dalam lembaran dan timah dalam kimia dan memasuki bisnis downstream timah seperti Tin Solder dan Tin Chemical sebagai upaya meminimalisir volatilitas harga timah di pasaran internasional.

Dengan berbagai inisiatif semacam itu, maka TINS diharapkan bisa terus memperkuat posisi sebagai the world’s largest integrated tin miner.


"Philip Kotler's Executive Class: 30 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: