Sunday, April 19, 2009

[Kompas 100]: Pelayaran Tempuran Emas: A Promising Container Shipping Company

Tulisan 67 dari 100

Minggu, 19 April 2009 | 15:21 WIB

Berkat lima orang ex karyawan IBM, dunia mengenal SAP.

Di tahun 1972, IBM adalah mover and shaker yang tidak ada tandingannya di dunia. Apa yang dibuat IBM pasti bagus, dan apa yang IBM tidak mau buat belum tentu bagus. Tentu ini bikin orang yang mampu melihat ke depan tapi jauh dari ring 1 merasa tidak terakomodir.

Karena itu begitu ada kesempatan, lima orang ex karyawan IBM di Jerman membentuk sebuah perusahaan software di area yang pada saat itu IBM tidak mau masuk. Area tersebut adalah standard application software for real time business processing. Ternyata mereka mengambil keputusan yang tepat, dan kemudian membuat perusahaannya menjadi dikenal sebagai perusahaan software terbesar di Eropa.

Ada banyak kisah berdirinya sebuah perusahaan semacam kelahiran SAP. Salah satunya adalah awal pendirian PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk (TMAS). Berbekal pengalaman 6 tahun bekerja di pelabuhan, khususnya dunia shipping, Harto Khusumo, bersama beberapa rekan kerja dari perusahaan sebelumnya, memulai bisnis kecil yang menyediakan jasa pengangkutan barang melalui laut. Usaha pengiriman kargo tersebut, yang saat itu masih menggunakan peti kemas, dijalankan bukan dengan kapal sendiri melainkan dengan men-carter dari perusahaan lain. Meskipun tidak memberikan keberhasilan yang spektakuler, usaha kecil inilah yang kelak menjadi cikal bakal TMAS.

Sebagai evolusinya, pada tahun 1987, berdirilah entitas Tempuran Emas (Temas Line) yang disertai dengan pembelian KM Latowa yang bermuatan 900 ton. Kapal inilah yang tercatat sebagai kapal kargo pertama yang dimiliki TMAS. Hal ini sekaligus menjadikan TMAS sebagai pionir dalam angkutan barang menggunakan kontainer di Indonesia. Dengan konsistensi manajemen untuk tumbuh, kini TMAS memiliki lebih dari 30 kapal kargo dan tercatat sebagai perusahaan pengiriman kontainer terbesar kedua di Indonesia.

Mungkin karena keberhasilan mengembangkan usaha sukses dari awal yang sederhana itulah alasan kenapa di tahun 2003, Harto Khusumo, yang menjabat presiden direktur perusahaan, mendapatkan anugerah Entrepreneur of the Year dari Ernst & Young dalam kategori Special Award For Entrepreneurial Spirit. Tahun itu pula TMAS menjadi perusahaan pelayaran nasional pengangkutan kontainer pertama yang tercatat di bursa saham.

Dengan modal yang didapatkan dari penawaran saham kepada publik tersebut, TMAS semakin agresif dalam perluasan usaha, tapi tetap mampu meng-create value. Dan hal ini seolah terbukti saat di tahun 2004 dan 2005, TMAS berhasil mendapatkan Value Creator Award dari majalah SWA dan MarkPlus untuk kategori perusahaan dengan asset dibawah 1 Triliun.

Salah satu keunggulan TMAS yang menjadi andalannya dalam menghadapi kompetisi adalah kemampuannya memberikan solusi terintegrasi untuk angkutan laut dan bongkar muat kargo. Kemampuan ini di-deliver melalui tiga anak perusahaannya, yaitu PT PBM Jasa Trisari, yang bergerak di bidang penanganan muatan kargo dari dan ke kapal, PT Pelayaran Tirtamas Express, serta Anemi Maritime Co. Ltd, dimana keduanya bergerak di jasa pelayaran dan penyewaan peti kemas.

Kesuksesan yang dicapai oleh TMAS dalam pelayaran kargo dalam negeri tentunya akan semakin didukung dengan diberlakukannya asas cabotage di tahun 2011 yang mengharuskan kapal pengangkut berbendera Indonesia untuk rute domestik. Namun tampaknya keberhasilan dalam negeri ini belum didukung keberhasilan dalam merebut pasar regional, meskipun usaha menuju pasar Asia Tenggara sudah dirintis sejak Juli 2005 dengan dimulainya rute pelayaran internasional antara Tanjung Priok, Jakarta dan Port Klang, Malaysia.

Hingga kini, pendapatan perusahaan dari luar negeri masih memberikan kontribusi yang sangat kecil. Di tahun 2007 jalur internasional sempat berkurang secara cukup signifikan, dan di tahun 2008, laporan keuangan TMAS bahkan tidak mencatatkan adanya penjualan luar negeri. Kami melihat bahwa TMAS harus terus berupaya menembus pasar regional agar mencapai diversifikasi yang dapat memastikan tidak adanya over-dependence terhadap pasar domestik. Jika itu berhasil dicapai maka TMA bukan hanya sekedar berhenti menjadi a promising container shipping company tapi menjadi a leading container shipping line service company in Indonesia and Asia.

"Philip Kotler's Executive Class: 38 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: