Sunday, April 12, 2009

[Kompas 100]: Nusantara Infrastruktur: An Emerging Infrastructure Company

Bagian 59 dari 100

Minggu, 12 April 2009 | 01:23 WIB

Run Forrest, Run Forrest, Run!

Begitu kata penyemangat dari gadis pujaan Forrest Gump begitu dia sudah melangkah ke suatu hal tapi masih dengan pace yang belum tinggi. Tapi yang sebetulnya membuatnya berani untuk mengambil suatu langkah yang mungkin tak terpikirkan, adalah pesan dari ibunya dan itu selalu diulangnya begitu mau melangkah: “My momma always said, ‘Life is like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.’”

Meski tokoh Forrest Gump mungkin tidak banyak yang mengidolakan, tapi film itu memberikan pelajaran yang menarik bagaimana orang atau perusahaan mesti siap mengubah haluan, kalau bertahun-tahun memang tidak ada perubahan signifikan. Di dunia bisnis, selain siap membangun kompetensi baru, perusahaan yang memasuki wilayah baru mesti punya penyemangat yang akan membuatnya melangkah semakin mantab. Dan itu bisa berupa langkah pemerintah untuk menggerakkan salah satu sektor bisnis.

Mengacu pada model Amerika di tahun 50-an atau China di tahun 80-an sampai 90-an yang membangun banyak infrastruktur untuk menggerakkan ekonomi, Indonesia selama 4,5 tahun terakhir aktif menggenjot pembangunan infrastruktur, mulai dari jalan raya hingga listrik. Lingkupnya dibuat menasional, agar pertumbuhan ekonomi bisa semakin tersebar. Dan yang menarik, ternyata bukan hanya pertumbuhan ekonomi saja yang menjadi lebih tersebar, tapi inisiatif ini juga mulai memunculkan begitu banyak pemain, lama ataupun baru, yang ingin turut serta membangun infrastruktur.

Salah satu perusahaan yang tergiur memasuki bisnis infrastruktur adalah PT Nusantara Infrastructure Tbk (META). Didirikan pada tahun 1995 sebagai PT Sawita Bersama Darma, awalnya perusahaan ini berdiri sebagai perusahaan pembuatan dan perdagangan barang elektronik. Selanjutnya perusahaan ini mengalami berberapa kali perubahan nama, pertama menjadi PT Wahana Tradindo Jaya di tahun 1989, lalu menjadi PT Metamedia Technologies tahun 2001 saat pertama kali melakukan penawaran publik. Terakhir, di tahun 2006, sehubungan dengan rencana merger dengan PT Nusantara Konstruksi Indonesia, perusahaan melakukan penggantian nama menjadi PT Nusantara Infrastructure yang digunakan hingga saat ini.

Keputusan untuk banting haluan dari industri elektronik ke industri infrastruktur memang cukup drastis. Namun tampaknya pada tahun 2004, perusahaan melihat bahwa sebagai perusahaan publik, kinerja META dalam hal growth dan profit tidak cukup memadai. Ini didorong oleh kondisi industri pembuatan dan perdagangan barang-barang elektronik yang semakin tinggi tingkat persaingannya. META lalu memutuskan untuk merger dengan investment company yang bergerak di bidang konstruksi infrastruktur, dengan bisnis utama di bidang pembangunan dan operasional jalan tol, dan yang masih tercatat sebagai anak perusahaan group Bosowa,.

Saat ini, pendapatan META dihasilkan oleh dua anak perusahaannya, PT Bintaro Serpong Damai, yang mengoperasikan jalan tol Serpong–Pondok Aren sepanjang 7,2 km, dan juga PT Bosowa Marga Nusantara yang mengelola jalan tol di Makassar yang menghubungkan berbagai lokasi strategis di wilayah tersebut seperti pelabuhan laut Soekarno-Hatta, bandar udara Hassanudin, serta Kawasan Industri Makassar (KIMA). Dengan mulai dioperasikannya jalan tol seksi empat di Makassar bulan Oktober 2008, total panjang jalan tol yang ditangani oleh META kini mencapai 24,77 km.

Keputusan META memasuki bisnis infrastruktur sungguh tepat, apalagi ternyata perusahaan ini memang punya kompetensi di sana. META bahkan berani untuk merencanakan akuisisi terhadap dua perusahaan lagi di tahun 2009, yang satu bergerak di bidang infrastruktur logistik, dan yang lainnya di bisnis operasional jalan tol. Tak berhenti di situ, META pernah juga menyatakan niatnya untuk memasuki bisnis pengolahan air bersih dan bahkan sektor energi.

Meskipun demikian kami melihat bahwa META mesti berhitung dengan kemampuannya dalam menggarap peluang yang ada. Sekalipun kesempatan terbuka lebar dan memang META sudah berhasil membangun ekuitas, tapi sebagai an emerging infrastructure company, META harus memastikan bahwa gerak langkahnya untuk terus tumbuh dan berkembang memang didukung resources internal yang solid. Resources yang semacam inilah yang dimana-mana bisa menjadi jaminan ampuh untuk terus tumbuh dan berkembang sekalipun perusahaan harus menghadapi perubahan business landscape.

"Philip Kotler's Executive Class: 47 Days To Go"

Hermawan Kertajaya, Taufik

Kompas

No comments: