Tuesday, April 7, 2009

[Kompas 100]: Multipolar: "An IT Solution Company at the Cross Roads"

Bagian 55 dari 100

Selasa, 7 April 2009 | 07:26 WIB

Meski pelatihnya dan sebagian pemainnya dari Perancis, Arsenal tetap klub Inggris.

Inilah sebuah realitas baru di industri persepakbolaan dunia. Itu belum ditambah fakta bahwa, sebagaimana halnya klub-klub utama Premier League di Inggris, pemegang saham utamanya bukan orang Inggris tapi pebisnis asal Rusia. Dan nama stadiun yang jadi home base Arsenal adalah nama sponsor yang lagi-lagi bukan perusahaan Inggris, yaitu Emirates (Airlines) yang asal Dubai.

Menyusul terbentuknya Uni Eropa, dimana para pekerja dari suatu negara anggota Uni Eropa bisa mendapat status yang sama di negara lain yang juga menjadi anggota Uni Eropa, maka batasan mengenai pemain lokal pun jadi melebar. Pada prakteknya ini bisa bergerak ke hal yang ekstrim. Misalnya saja, Arsenal pernah tampil di salah satu pertandingan Premier League tanpa ada satupun pemain yang dilahirkan di Inggris, termasuk –percaya atau tidak– pemain cadangan.

Kalau di dunia sepakbola, mungkin banyak yang mengalami cultural shock melihat fenomena seperti yang terjadi pada Arsenal, tapi sejumlah negeri di Eropa punya pasukan khusus yang anggotanya adalah orang asing. Inggris punya pasukan Gurkha yang sangat ditakui dan Perancis punya pasukan yang namanya Legiun Asing. Dan soal profesionalitas dan loyalitas, mereka sama hebatnya dengan orang lokal.

Hanya saja, yang terjadi di dunia sepakbola internasional pada saat ini memang jauh lebih dramatis. Beda dengan pasukan Gurkha atau Legiun Asing yang berperang di bawah komando dari panglima negeri tuan rumah, Arsene Wenger dan tentu saja sang pemegang saham yang non Inggris itulah yang berperanan dalam setiap pertempuran yang dijalani Arsenal. Ini bukan hanya berlaku di Liga Inggris, tapi ketika bertanding di Liga Eropa dan kalau ada kesempatan di Liga Dunia.

Jelas ada sesuatu yang kurang pas ketika orang bicara mengenai dominasi klub-klub Liga Inggris di Liga Eropa semacam UEFA Champions Cup ataupun UEFA Cup. Betul bahwa Arsenal atau Chelsea, Liverpool, dan Manchester United yang kini begitu disegani klub-klub Eropa adalah klub-klub Inggris. Tapi dengan pemegang saham utama, pelatih dan sebagian besar pemain serta –dalam kasus Arsenal– nama stadiun yang bukan dari Inggris, maka nama Inggris yang melekat pada klub-klub itu tak lebih dari sekedar memenuhi aspek legal.

Tapi ada perkembangan menarik yang terjadi di Indonesia, dimana ada perusahaan yang pada asal muasal didirikannya bergerak di industri tertentu, tapi kini sebagian besar pendapatannya ternyata bukan dari situ. Inilah yang misalnya terjadi pada PT Multipolar Tbk (MLPL), yang setelah memiliki sejumlah strategic investment yang berada dalam industri yang rendah kaitan langsungnya dengan industri yang digelutinya sejak awal. Yang menarik, sekalipun bisa berubah menjadi sebuah investment company seperti yang dilakukan banyak perusahaan lain di Indonesia, MLPL memilih untuk tetap menggolongkan diri sebagai pemain yang bergerak di industri yang digelutinya sejak awal.

Berdiri di tahun 1975 sebagai sebuah pengecer produk-produk elektonik, MLPL itu sendiri menyatakan bahwa evolusi pengembangan yang paling logis buat perusahaan adalah menjadi sebuah penyedia solusi IT. Dan MLPL memang dikenal sebagai salah satu pemain terkemuka dan terlama di bisnis ini di Indonesia, yang mampu me-leverage pengalaman panjang di industri keuangan dan perbankan untuk masuk ke industri lain dan punya aliansi yang kuat dengan berbagai perusahaan IT terkemuka dunia. Dengan exposure yang semacam itu, MLPL bisa enak mem-positioning-kan solusi IT yang ditawarkannya.

Meskipun demikian, kami melihat bahwa tidak berarti MLPL akan dengan gampang memenangkan persaingan di industri solusi IT di Indonesia. Banyak pemain global bisnis IT yang semula hanya menawarkan software atau hardware, kini juga mulai masuk ke bisnis solusi IT. Belum lagi keberadaan pemain global khusus solusi IT yang akan bisa me-leverage best practices tingkat global di Indonesia.

Tapi yang bisa masuk sebagai daftar pesaing MLPL bukan hanya pemain global software atau hardware ataupun IT solution, baik yang multi-industry atau industry specialist, melainkan juga pemain lokal yang menawarkan layanan yang low-cost. Singkat kata, tantangan MLPL ke depan di industri IT solution semakin tinggi. Oleh sebab itu, gampang dipahami mengapa MLPL tetap merasa perlu memiliki strategic investment yang keterkaitannya dengan industri solusi IT rendah.

Salah satu strategic investment yang dimiliki MLPL, dan sebetulnya yang terpenting, adalah MPAA, yang merupakan multi-specialist retailer terkemuka dan perusahaan yang juga masuk dalam Kompas 100. Sejak dimiliki di tahun 1997, MPAA ini berkembang sangat pesat, dan di tahun 2008 berhasil mencatatkan penjualan yang besarnya lipat 37 kali dibandingkan dengan pendapatan MLPL. Sekalipun dari margin laba lebih besar bila dibandingkan margin laba MPAA, tapi nilai nominal laba yang besar membuat MLPL menjadi terlihat mencorong.

Tentu ini menjadi suatu dilema tersendiri bagi MLPL yang sulit untuk menemukan sinergi layanan dengan MPAA tapi sejauh ini masih ragu untuk menjadikan diri sebagai investment company sekalipun punya strategic investment. Tapi kami percaya kalau tren sangat dominannya kontribusi strategic investment terus berkembang, maka pilihan yang logis buat MLPL adalah menjadi investment company.


"Philip Kotler's Executive Class: 50 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: