Sunday, April 5, 2009

[Kompas 100]: Mitra Rajasa: "An Aggressive Value Creator"

Minggu, 5 April 2009 | 07:54 WIB

Banyak artis atau entertainer Indonesia yang ingin seperti Titiek Puspa.

Soalnya, dia bisa eksis di berbagai generasi yang berbeda. Mulai dari jaman Bung Karno, lalu jaman Pak Harto dan pasca Pak Harto. Padahal kita tahu bahwa masing-masing jaman tersebut, punya generasi penikmat musik yang berbeda-beda.

Di jaman Bung Karno, ia yang waktu itu masih muda, bisa mengkombinasikan posisi dia sebagai penyanyi muda dengan genre lagu yang populer di jaman itu, yang akhirnya membuat dia menjadi salah satu penyanyi terkemuka Indonesia saat itu. Di jaman Pak Harto, dimana dia paling banyak menghabiskan masa karirnya sebagai penyanyi, ia punya posisi yang cukup bervariatif, mulai dari penyanyi dan pencipta lagu hingga pembuat operet. Dan di jaman paska Pak Harto ia bisa membuat kagum banyak pemusik muda yang seusia cucunya, karena ternyata ia dengan ringan mencoba masuk ke mereka dan tanpa kesulitan menyanyikan lagu-lagu mereka sekalipun irama dari para pemusik muda itu sebetulnya tidak cocok dengan irama dari generasi penyanyi seperti dia.

Sebetulnya bukan hanya Titiek Puspa yang ingin bisa eksis di berbagai macam generasi. Para penyanyi segenerasi atau bahkan dari generasi yang lebih muda dari dia banyak juga yang ingin bisa eksis di berbagai generasi yang berbeda. Hanya saja, tidak banyak yang punya kelebihan seperti yang dimilikinya.

Ia bukan hanya penyanyi, tapi juga pencipta lagu populer baik untuk lagu yang dinyanyikan sendiri maupun yang dinyanyikan penyanyi lain. Ia juga bukan hanya sekedar penyanyi tapi juga seorang entertainer yang bisa komunikatif ke segala macam generasi. Yang lebih hebat lagi ternyata ia juga merupakan pembuat operet yang dulu begitu dinanti-nantikan dan mampu membuat lagu yang khusus untuk setiap operet.

Kalau mau mengambil pelajaran dari kasus Titiek Puspa untuk dunia bisnis, maka ketika mau masuk ke berbagai pasar atau bisnis baru, perusahaan di tuntut bukan hanya punya pemahaman akan karakteristik khasnya tapi juga kemampuan mengeksekusi strategi untuk survive dan terus berkembang. Faktor semacam inilah yang seringkali membuat banyak perusahaan ragu untuk masuk ke pasar atau bisnis baru, karena tidak yakin benar-benar paham dengan karakteristik khasnya dan bagaimana mengeksekusinya. Dan bagi perusahaan yang yakin memang sudah paham dengan karakteristik khas pasar atau bisnis baru dan soal eksekusi strateginya, keputusan masuk ke pasar atau bisnis baru akan mendukung ke upaya value creation buat shareholders.

Hal tersebut terakhir itulah yang sedang dilakukan oleh PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA). Perusahaan ini tahun lalu membuat langkah yang berani dengan mengakuisisi PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), pemain terbesar di Asia Tenggara untuk kategori jasa pengeboran minyak dan gas yang didukung 14 onshore dan offshore rigs di seluruh Indonesia, setelah setahun sebelumnya masuk ke bisnis jasa khas di industri minyak dan gas dengan memberikan jasa floating, production, storage and offloading untuk perusahaan minyak Santos. Dengan besaran pendapatan dan laba yang bakal disumbangkan dari bisnis jasa khas minyak dan gas yang jauh lebih besar dari besaran pendapatan dan laba dari bisnisnya yang lama, maka berubahlah wajah MIRA yang dulunya adalah salah satu perusahaan pengangkutan semen terbesar di Indonesia dengan armada truk lebih dari 1000 dan melayani tiga besar perusahaan semen Indonesia.

Harus diakui, dalam pasar atau bisnisnya yang lama, MIRA punya tantangan yang besar dalam menunjukkan kemampuan value creation. Sekalipun MIRA sudah membangun sistem armada truk moderen yang dilengkapi C-track, sehingga lebih efeisien dan mendukung pencapaian tingkat kepuasan pelanggan, tapi dari besaran nominal, dampak efisiensi tersebut dalam konteks di pasar modal bisa jadi tidak begitu signifikan. Dengan kata lain, MIRA mengalami tantangan besar dalam mendapatkan perhatian dari investor pasar modal yang sebagian besar punya prinsip size does count.

Langkah MIRA masuk ke bisnis jasa minyak dan gas akan memberikan jalan untuk mendapatkan perhatian dari para investor. Meskipun demikian, tidak berarti langkah MIRA ke depan akan mulus-mulus saja. Salah satu hal yang menurut kami mesti diperhitungkan oleh MIRA adalah unspoken concern dari pemegang saham terbesar APEX sebelumnya, yang dikenal sebagai salah satu perusahaan perminyakan terkemuka di Indonesia, untuk melepas bisnis yang menurut MIRA bagus.

Sebagai sebuah perusahaan minyak yang dalam waktu relatif singkat menjadi pemain yang diperhitungkan, pemegang saham lama paham betul soal resiko tinggi dan menghadapi well demanding clients serta eksekusi strategi di bisnis ini. Bisa jadi, dengan tingkat kerumitan bisnis minyak yang terus meningkat, dibutuhkan konsentrasi dan kompetensi khusus agar bisa mengeksekusi strategi pengembangan APEX. Kalau memang benar seperti ini, maka menurut kami, MIRA mesti memastikan diri mau berkonsentrasi dan membangun kompetensi di bisnis jasa khas minyak dan gas untuk menunjukkan bahwa langkahnya menjadi an aggresive value creator memang didukung dengan perencanaan yang matang dan eksekusi strategi yang sesuai.


"Philip Kotler's Executive Class: 52 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: