Saturday, April 4, 2009

[Kompas 100]: Lautan Luas: "A Long Lived but Low Profile Chemical Specialty Player"

Bagian 52 dari 100

Sabtu, 4 April 2009 | 14:27 WIB

KOMPAS.com — Di luar sepak bola, samba, dan karnaval Rio de Janeiro, Brazil tidak banyak dikenal kiprahnya.

Padahal negara ini memiliki sejumlah perusahaan besar yang bagus. Meski tidak punya tambang minyak yang besar, tapi Brazil punya Petrobras salah satu perusahaan minyak terbesar di Amerika Latin. Perusahaan itu bahkan tergolong rajin bersaing dengan para pemain yang namanya jauh lebih terkenal di dunia, dalam menggarap ladang-ladang minyak lama dan baru di kawasan Amerika Latin, dan keberadaannya bukan hanya terlihat di Amerika Latin, tapi juga Amerika Serikat.

Begitu juga dengan industri dirgantaranya. Negara ini termasuk salah satu dari klub elite di dunia dalam kemampuan membuat pesawat terbang dan memiliki pangsa pasar yang bagus di segmen pasar tertentu melalui Embraer. Produknya bahkan sudah dijual di pasar Amerika Utara seperti Kanada, yang Embraer ini bahkan berhasil menjual pesawat ke Air Canada dan mengalahkan Bombardier Aerospace, pembuat pesawat terbang lokal yang namanya lebih banyak dikenal di dunia dibandingkan Embraer.

Dengan melihat contoh kasus semacam itu, kita melihat dunia bisnis Brazil ternyata bisa menjadi pemain yang diperhitungkan dalam industri yang selama ini sepertinya hanya dikuasai negara-negara maju dan punya pasar yang signifikan. Perusahaan semacam Petrobras atau Embraer bukan muncul kemarin sore, tapi punya akar sejarah yang panjang, terutama dalam membentuk diri sebagai pemain yang diperhitungkan di tingkat internasional. Dan perjalanan bisnis yang panjang itu dimanfaatkan untuk tidak hanya menjadi kompetitif di pasar internasional, tapi memang punya keunikan yang tidak dimiliki pemain nasional lainnya.

Kemudian, yang mungkin membuat banyak orang di berbagai penjuru dunia terkaget-kaget adalah ketika dunia dilanda krisis energi seiring dengan harga minyak yang bergerak ke tingkat yang tidak masuk akal. Negara ini ternyata sudah selangkah lebih maju, bahkan dibandingkan dengan Amerika Serikat, dalam pengembangan bioethanol. Sebanyak 85 persen kendaraan yang ada di negara itu sudah menggunakan bahan bakar tersebut. Artinya, tanpa banyak gembar-gembor, ternyata Brazil layak dijadikan benchmark, dan penyebutan BRIC (Brazil, Russia, India dan China) bahwaBrazil—yang terkecil dari jumlah penduduk—berada di depan menjadi wajar karena diam-diam negara itu memang sudah lebih maju.

Alangkah bagusnya kalau perusahaan-perusahaan Indonesia mengambil inspirasi dari apa yang terjadi di Brazil, low profile dalam aktivitas, namun tanpa diduga banyak orang menjadi pemain yang diperhitungkan di tingkat internasional. Inilah jalan yang tampaknya sedang dipilih oleh PT Lautan Luas Tbk (LTLS). Dimulai dari sekadar importir bahan kimia, kini LTLS sudah memiliki usaha manufaktur dan bahkan berkembang ke berbagai bisnis, seperti IT solutions serta sudah berhasil menginternasional.

LTLS berdiri sejak 1951 sebagai NV Lim Teck Lee Coy Ltd dengan bisnis utama sebagai importir dan distributor bahan kimia dasar. Saat itu, pasar LTLS sangat fokus, yaitu hanya menjadi pemasok untuk industri batik dan makanan. Setelah mengganti nama menjadi PT Lautan Luas pada tahun 1965, empat tahun kemudian LTLS mulai memasuki usaha manufaktur dengan membangun pabrik asam sulfur. Selanjutnya, LTLS semakin berkembang dengan memasuki bisnis distribusi dan manufaktur bahan kimia khusus. Kemudian, dimulai dari keputusan pada tahun 1995 untuk mengembangkan bagian support and service-nya dari cost center menjadi profit center, LTLS juga mulai memasuki bisnis supply chain, laboratory services, pengolahan air, dan bahkan konsultasi manajemen IT.

Kini LTLS terdiri atas 3 divisi utama, yaitu manufacturing, distribution, dan support services. Bisnis distribusi, sebagai usaha pertama LTLS, masih menjadi kontributor utama revenue perusahaan yang didukung oleh 5 kantor cabang, 7 kantor representatif, serta 3 kantor regional di Singapura, Thailand, dan juga Vietnam. Adapun divisi manufacturing saat ini memberikan kontribusi sekitar 43 persen dari revenue, yang dihasilkan oleh sekitar 11 perusahaan subsidiary dan 5 perusahaan terafiliasi. Sementara itu, divisi support and services terdiri atas 4 subsidiary dan menyumbangkan sekitar 6 persen dari revenue. LTLS memang sepertinya berkembang dengan mengandalkan core competency pada chemical-products related services. Dengan kemampuan untuk menangkap kebutuhan berbagai perusahaan sehubungan dengan bahan-bahan kimia, LTLS bisa memberikan layanan terintegrasi bagi konsumennya.


Keputusan LTLS untuk terus melakukan perluasan memang membawa buah yang cukup memuaskan bagi perusahaan. Dengan menangani sekitar 1000 produk dari 100 prinsipal internasional untuk lebih dari 2000 pelanggan, LTLS menjadi tidak terlalu tergantung pada suatu produk, prinsipal, ataupun konsumen tertentu. Dengan demikian, LTLS tidak terpengaruh secara substansial oleh krisis finansial. Sebagai indikator, pada 9 bulan pertama tahun 2008, perusahaan mengalami kenaikan penjualan sebesar 64 persen. Bahkan, laba perusahaan pada rentang waktu tersebut menunjukkan angka yang lebih signifikan, yaitu kenaikan 434 persen. Ini tentunya didorong juga oleh berbagai program efisiensi yang dilakukan oleh perusahaan selama tahun tersebut.

Namun, pada kinerja tahun 2008 ini tidak berarti LTLS tidak terpengaruh sama sekali oleh krisis global ini. Dampak langsung yang dialami LTLS adalah tertundanya rencana penyelesaian pabrik pengolahan air di Vietnam dan pabrik etanol di Lampung. Dengan demikian, LTLS harus tetap mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat fundamental perusahaan. Salah satunya adalah dengan menjual kepemilikan LTLS di dua pabriknya yang berlokasi di China, yaitu Jiangsu Jingshen Salt Industry Co Ltd dan Hongze Ri Hui Additive Chemical Industry Co Ltd, agar perusahaan dapat lebih fokus pada bisnis intinya. Jika LTLS dapat terus mempertahankan fokus dan kekuatannya di layanan bahan-bahan kimia terintegrasi, maka perusahaan dapat terus berkembang menjadi konglomerat sejati yang menguasai bisnis chemical related services tidak saja di Indonesia, tapi juga di Asia.

"Philip Kotler's Executive Class: 53 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

No comments: