Monday, April 6, 2009

[Kompas 100]: Kalbe Farma: "The Biggest yet Respected Pharmaceutical Company in ASEAN"

Bagian 54 dari 100 Tulisan

Senin, 6 April 2009 | 07:18 WIB

Setelah 74 tahun menunggu, Toyota akhirnya nomor satu di dunia.

Angka tersebut mengacu pada tahun pertama kali mobil Toyota di produksi di tahun 1935. Saat itu mobilnya diproduksi oleh salah satu divisi Toyoda Automatic Loom Works, ketika perusahaan berada di tangan generasi kedua. Toyota Motors sebagai sebuah perusahaan terpisah resmi berdiri di tahun 1937.

Lima tahun sebelum mobil pertama Toyota dibuat, General Motors (GM), yang didirikan di tahun 1908, sudah menjadi pemain nomor satu dalam jumlah mobil yang diproduksi di dunia, dan berhasil dipertahankannya selama 77 tahun berturut-turut. GM, yang dari awal berdirinya sudah melakukan akuisisi, memang butuh waktu 23 tahun untuk merebut kedudukan sebagai pemain nomor satu dunia dari Ford, yang didirikan tahun 1903, yang dikenal sebagai benchmark proses produksi masal –melalui model T– bukan hanya di industri mobil tapi juga di industri lainnya. Kini, GM bukan hanya kehilangan posisi nomor satu tapi juga terancam kelangsungan usahanya.

Ini berbeda nasibnya dengan Toyota yang sempat dilecehkan ketika masuk ke Amerika di tahun 1957 dengan merek Toyopet, yang diciptakan di tahun 1947, karena dianggap sebagai Toys and Pets. Toyota lantas menggunakan nama Toyota untuk pasar Amerika – tapi masih pakai nama Toyopet di pasar lain sampai pertengahan 60-an– dan pelan tapi pasti berusaha mengubah standar mobil di Amerika yang sudah bertahun-tahun di-set oleh GM, Ford, dan Chrysler. Dan krisis minyak di tahun 1973, melahirkan standar baru di pasar Amerika, mobil yang compact dan irit.

Belakangan, proses produksinya dan mobil Prius yang irit dan ramah lingkungan membuat Toyota semakin disegani. Bahkan pemerintah Amerika Serikat memaksa tiga besar perusahaan mobil yang mau diselamatkan untuk segera mengikuti jejak Toyota. Kalau di tingkat otomotif dunia, Toyota adalah perusahaan yang dijadikan inspirasi perusahaan sejenis, maka di dunia farmasi Asia Tenggara di masa depan, bisa jadi orang akan menjadikan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebagai sumber inspirasi.

KLBF, yang sempat mengalami kegagalan di tahun 1963 dan 1964, mulai menapaki jalan sebagai sebuah perusahaan farmasi di tahun 1966. Melakukan profesionalisasi sejak tahun 1968, diikuti membangun distribusi sendiri di tahun 1970, dan mulai mengakuisisi di tahun 1977, KLBF lalu berhasil menjadi pemain nomor satu di Indonesia di tahun 1978 dan dipertahankannya hingga kini. Tapi sebagaimana Toyota, KLBF, yang didirikan Boenjamin Setiawan, tidak ingin hanya dihormati di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Untuk keperluan tersebut terakhir, KLBF tidak ragu-ragu mengikuti jejak perusahaan farmasi global yang membangun unit R&D agar bisa menghasilkan paten obat-obatan yang bisa dijual di seluruh dunia, yang pada gilirannya menjadi sumber pendapatan dengan margin yang tinggi. Meski sudah berhasil mencapai level tersebut di tahun 2004, KLBF tidak mau melangkah setengah-setengah. Di tahun 2006, KLBF yang sudah menjadi perusahaan publik farmasi terbesar Asia Tenggara, mendirikan Innogene, sebuah unit bisnis di bidang R&D –karena termasuk juga dengan bisnis lisensi paten- yang berbasis di Singapura, negeri yang punya talent pool dan infrastructure yang menunjang bagi penciptaan lebih banyak paten yang dapat dijual di pasar global.

Di sisi lain, KLBF bukan hanya sekedar ingin menjadi pemain dominan di pasar terbesar Asia Tenggara, tapi juga punya presence yang kuat di 6 pasar utama Asia Tenggara. Dan ini sedang dilakukan KLBF dengan memanfaatkan keunggulannya di bidang obat resep, obat bebas, nutrisi dan minuman energi serta —khusus Indonesia— di jaringan distribusi. Harus diakui, dengan unit bisnis yang sudah terintegrasi dan lebih fokus, memang lebih mudah bagi KLBF memperluas pasarnya ketimbang ketika unit bisnisnya masih tersebar.


"Philip Kotler's Executive Class: 51 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: