Tuesday, April 14, 2009

[Kompas 100]: Jaya Pari Steel: "A Low Profile Steel Company"

Bagian 62 dari 100

Selasa, 14 April 2009 | 07:26 WIB

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa kisah Lakshmi Mittal, orang terkaya ke-8 di dunia, dimulai di Indonesia, tepatnya di Sidoarjo, Jawa Timur.

Perjalanan pengusaha India ini diawali saat tahun 1976 Mittal melakukan pembelian sebuah pabrik tua di dekat Surabaya dalam rangka memulai divisi internasional dari bisnis baja keluarganya. Meskipun saat itu baru berumur 26 tahun, itu tidak meredupkan semangat entrepreneurship yang dimiliknya untuk mengembangkannya menjadi raksasa baja Mittal Steel, yang setelah melakukan merger dengan Arcelor di tahun 2006, kini menjadi pabrik baja terbesar di dunia.

Keberhasilan Lakshmi Mittal yang memulai bisnisnya dengan sederhana di Jawa Timur, dari PT Ispat Indo dengan produksi 60.000 ton per tahun, dan menjadikannya sebagai cikal bakal raksasa baja dunia, menunjukkan bahwa bisnis sukses bisa dimulai di mana saja. Bahkan di tempat seperti Sidoarjo yang pada saat itu tidak banyak dikenal dunia internasional.

Salah satu usaha baja yang juga dimulai di Jawa Timur, tepatnya Surabaya, adalah PT Jaya Pari Steel Tbk (JPRS), yang didirikan oleh keluarga Gunawan di awal 1970-an dan mulai berproduksi sejak 1976 dibawah nama PT Jaya Pari Steel Corp. Ltd. Sebagai salah satu dari beberapa perusahaan keluarga Gunawan yang bergerak di industri baja, JPRS fokus di bidang produksi hot rolled steel plate (HR Plate), dengan sebagian besar hasil produksinya terjual di Jawa Timur dan DKI Jakarta.

Meskipun dimulai di periode yang sama dengan PT Ispat Indo, dan tercatat sebagai salah satu pionir produksi HR Plate di Indonesia, JPRS mungkin tidak menikmati keberhasilan sama seperti Mittal. Dengan kinerja perusahaan, baik dalam hal pertumbuhan penjualan maupun laba yang relatif tidak banyak berubah selama 2004-2007, JPRS memang tampaknya tidak terlalu agresif dalam tumbuh dan berkembang, meskipun selalu konsisten menjalankan bisnis yang menguntungkan.

Namun tahun 2008 membawa berkah tersendiri bagi JPRS. Dengan tingginya harga baja di paruh pertama tahun itu, penjualan bersihnya meningkat sebesar 69,3 persen year-on-year. Ini pertumbuhan yang tidak dialami oleh JPRS dalam 5 tahun terakhir. Mungkin karena itulah, JPRS mulai kembali dibicarakan, hingga muncul berbagai rumor mengenai rencana akuisisi oleh beberapa group bisnis internasional, meskipun berita tersebut dibantah oleh pihak perusahaan.

JPRS memang bisa dibilang low-profile. Dan mungkin hal itu bukan persoalan besar jika perusahaan memang tidak perlu dikenal oleh masyarakat umum, dan memang benar bisnis JPRS bersifat business to business (B2B). Namun akan menjadi suatu permasalahan jika JPRS justru banyak di ekspos media dalam konteks yang negatif, seperti saat kasus kredit macet antara Gunawan Steel Group dan BPPN di sekitar tahun 2004, ataupun saat BEI melakukan suspensi saham-nya karena adanya indikasi perdagangan tidak wajar di Maret 2009.

Tentu saja, hal semacam ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Karena akan merusak brand equity di mata investor, dan bukan tak mungkin akan berpengaruh pada harga saham perusahaan yang tidak mencerminkan keunggulan yang dimiliki perusahaan.


"Philip Kotler's Executive Class: 43 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: