Wednesday, April 15, 2009

[Kompas 100]: Indo Tambangraya Megah: "A Leading Medium Sized Coal Producer"

Rabu, 15 April 2009 | 07:51 WIB

Timnas Jerman memang ada di papan atas dunia, tapi liga bolanya di papan tengah.

Padahal di liga sepakbola Jerman, yang disebut Bundesliga, ada sejumlah klub raksasa yang juga jadi pemenang di liga internasional seperti Liga Eropa. Mulai dari klub yang telah empat kali menjadi juara UEFA Champions League, terus klub yang pernah sekali jadi juara di UEFA Champions League seperti Hamburger SV dan Borussia Dortmund, hingga sejumlah klub lain yang juara di UEFA Cup, yang level-nya berada di bawah UEFA Champions League, seperti Bayern Muenchen, Schalke 04, Bayer Leverkusen, Eintracht Frankfurt, dan Borussia Monchengladbach. Selain itu, ada sejumlah klub Jerman yang disponsori perusahaan-perusahaan besar, seperti terlihat di Allianz Arena yang merupakan stadiun Bayern Muenchen yang disponsori perusahaan asuransi Allianz atau perusahaan farmasi Bayer yang kemudian menjadi bagian nama klub Bayer Leverkusen.

Tapi yang membuat Liga Jerman kalah ”kelas” dibandingkan Liga Inggris, Spanyol ataupun Italia adalah keberadaan bintang-bintang sepakbola. Liga di tiga negara itu jadi pilihan utama banyak bintang sepakbola untuk meniti karir dan mencapai puncak permainan, dan beberapa diantaranya adalah pemain utama di timnas Jerman, seperti Juergen Klinsman, Jens Lehman dan Michael Balack. Banyaknya bintang-bintang sepakbola dari berbagai negara membuat kompetisi yang ada di liga tersebut menjadi semakin berwarna dan memunculkan penggemar fanatik yang luas di seluruh penjuru dunia.

Akibatnya, liga Jerman, yang sebetulnya sangat kompetitif dan juga punya beberapa pemain bintang yang sering membela timnas masing-masing di final Piala Dunia, Piala Eropa atau Copa Americana, kalah pamor. Soalnya, begitu karir seorang pemain mulai meroket, klub-klub besar asal Inggris, Spanyol dan Italia, yang sebagian besar cukup royal menghabiskan dana, akan merekrutnya. Tren seperti itulah yang sedang dilawan klub-klub Bundesliga dengan antara lain merekrut bintang-bintang yang sebelumnya sudah pernah main di liga Inggris, Italia atau Spanyol dan menunjukkan prestasi di tingkat Eropa.

Meski belum tentu berhasil, tapi dengan cara semacam itu, eksistensi Bundesliga tidak terlalu tenggelam di balik bayang-bayang liga Inggris, Italia atau Spanyol. Dilema seperti yang dihadapi Bundesliga ini merupakan suatu hal yang lazim dihadapi institusi berskala menengah, yaitu kerepotan bertarung habis-habisan dengan pemain besar namun juga akan susah untuk menjadi seefisien pemain kecil. Dan problem semacam inilah yang dihadapi perusahaan batu bara sekelas PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Berdasarkan data tingkat produksi batubara tahun 2006, dan dicantumkan di prospektus ketika ITMG go public di akhir tahun 2007, posisinya berada di urutan ketiga dan belum sampai 40 persen dari tingkat produksi pemain terbesar. Akan tetapi, berdasarkan data tingkat produksi batu bara tahun 2007, yang antara lain menjadi acuan perusahaan batu bara yang go public di tahun 2008, Bayan Resources dan unit usaha batubara Indika Energy, PT Kideco Jaya Agung, ITMG bahkan berada diposisi ke empat. Dan berbeda dengan posisi antara pemain nomer satu dan nomer dua yang berbeda jauh dalam tingkat produksi, antara pemain nomer tiga dan empat perbedaannya tidaklah besar, untuk perusahaan seukuran mereka.

Ini jelas menjadi tantangan tersendiri bagi ITMG, terutama untuk menunjukkan diri sebagai pemain terbaik di kelasnya. Bagi ITMG, hal ini sebetulnya merupakan sesuatu yang lebih mudah, karena sepenuhnya menguasai saham unit usaha batubaranya, sehingga akan lebih cepat dalam mengambil keputusan yang terkait dengan upaya peningkatan produksi. Sebaliknya, pesaing terdekatnya adalah perusahaan patungan dimana tidak ada pihak yang memegang kepemilikan di atas 50 persen dan untuk pengambilan keputusan dibutuhkan 60 persen suara, sehingga dalam prakteknya diperlukan konsensus.

Selain punya posisi dominan di unit usaha batu baranya, ITMG sebetulnya didukung oleh pemegang saham utamanya, Banpu, yang merupakan salah satu pemain terbesar di pembangkit tenaga listrik batubara di Asia. Dan Banpu bukan hanya memberikan dukungan keuangan tapi juga memiliki jaringan pemasaran dan logistik yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat jaringan pemasaran dan logistik ITMG di tingkat internasional. Padahal di tingkat domestik, Banpu, yang berasal dari Thailand dan masuk Indonesia di tahun 1998, punya pengalaman yang cukup panjang dalam bisnis batubara dan pembangkit listrik.

Dukungan dan pengalaman Banpu pada kenyataannya membuat ITMG bisa mengoptimalkan pemasaran terhadap batubara termal dengan kualitas yang berbeda ke pelanggan seperti pembangkit listrik, perusahaan semen dan produsen manufaktur lainnya. Pemahaman akan kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda membuatnya memiliki basis pelanggan yang lebih terdiversifikasi dan pada gilirannya akan mendukung tujuan perusahaan untuk memiliki sumber pendapatan yang tidak terlalu sensitif terhadap siklus harga batubara. Selain itu, ITMG dan Banpu juga telah membangun reputasi berdasarkan kehandalan dalam mengirimkan batubara secara tepat waktu dan sesuai dengan kualitas yang dijanjikan.

Karena itu, tantangan ke depan bagi ITMG adalah melakukan stretching out dalam proses produksi dan logistik serta mengomptimalkan jaringan pemasaran agar bisa menjadi a solid leader of medium sized coal producers.


"Philip Kotler's Executive Class: 42 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: