Monday, April 13, 2009

[Kompas 100]: Indika Energy: "A Promising Multi Specialist Energy Company"

Bagian 61 dari 100

Senin, 13 April 2009 | 07:53 WIB

Asosiasi Las Vegas yang begitu kuat dengan judi memang tidak bisa dihapus.

Dan barangkali memang tidak perlu dihapus. Soalnya, tempat judi kecil-kecilan bahkan bisa ditemui di bandara. Apalagi di jalan yang disebut The Strip, yang dari ujung ke ujung dipenuhi hotel-hotel besar dengan tempat kasino ukuran besar.

Tapi kalau hanya mengandalkan hidup hanya dari perjudian, tentu hotel-hotel tersebut akan mengalami kesulitan. Maklum, meski jumlah orang yang gemar bermain judi memang tidak sedikit, ukuran hotel yang besar jelas membutuhkan pengunjung yang besar. Dan beberapa hotel bukan hanya besar, tapi selalu dibikin ”wah”, termasuk dengan dilengkapi berbagai fasilitas pertunjukan dan hiburan seperti opera.

Beberapa diantaranya kemudian dibikin begitu unik, seperti menjadikan penyanyi sekelas Celine Dion sebagai pengisi tetap acara. Lalu ada hotel seperti MGM Grand yang punya tempat yang sering dijadikan sebagai tempat pertandingan tinju dunia. Namun yang lain dari yang lain barangkali adalah Bellagio.

Di halaman hotel tersebut ada kolam yang sangat besar dan dilengkapi dengan air mancur. Kalau melewati depan hotel tersebut di siang hari barangkali kolam dan air mancur tersebut tidak ada yang istimewa. Tapi begitu petang hari, hotel tersebut menjadi pusat keramaian di kawasan The Strip, seperti yang antara lain digambarkan dalam bagian penutup trilogi pertama Ocean’s Eleven.

Di situ air mancur bukan hanya sekedar memancarkan air yang tinggi, tapi dibuat seperti penari. Air mancur itu seolah-olah berdansa mengikuti irama lagu, yang versi mininya –baik dalam hal ukuran maupun lamanya waktu pertunjukan– bisa dilihat di Fountain Lounge Grand Indonesia Jakarta. Dan karena dilakukan di arena yang gampang di akses umum, maka siapapun jadi gampang datang dan lebih ingat –terutama yang hanya ke sana sekali saja–pada hotel Bellagio itu.

Inilah contoh klasik bagaimana mendiferensiasikan diri. Kalau sebuah perusahaan bergerak di sebuah industri yang disesaki banyak pemain, berkompetisi berdempet-dempet di satu kawasan yang padat dan menawarkan produk yang sebagian besar sama, maka tidak ada pilihan lain selain mesti getting out of the crowd. Dan apa yang dihadapi Bellagio mirip dengan apa yang dihadapi PT Indika Energy Tbk (INDY).

Sekalipun bisnisnya tidak hanya di industri batu bara, tapi karena besarnya kontribusi dari unit bisnis batu bara, maka INDY tidak bisa mengelakkan diri dari pembandingan dengan perusahaan batu bara lainnya, yang kebanyakan memang fokus di industri itu. Repotnya lagi, ukuran kapasitas produksi dan penjualan batu bara INDY ternyata kalah besar bila dibandingkan dengan dua pemain lain, yang selama ini lebih banyak mendapatkan perhatian kalau orang bicara mengenai industri batu bara Indonesia serta perusahaan-perusahaan yang ada di industri ini. Itupun, INDY ternyata memiliki saham di perusahaan batu bara di bawah 50 persen dan bukan yang terbesar.

Dengan kondisi semacam itu, sekalipun batu baranya merupakan jenis batu bara yang bisa memenuhi standar ketat emisi, tapi INDY tidak bisa hanya mengandalkannya, karena ada pemain lain yang memiliki jenis batu bara serupa. Karena itu, sebelum go public di tahun 2008, INDY memutuskan untuk menambahkan sejumlah bisnis unit yang diharapkan akan membuat orang tidak hanya melihat INDY sebagai perusahaan batu bara. Selain melakukan penggabungan usaha dengan Tripatra Engineering, perusahaan yang dikenal sebagai pemain terkemuka EPC services di minyak dan gas, INDY juga berpatungan membangun pembangkit listrik di kawasan Cirebon.

Dengan keberadaan unit bisnis tersebut, maka INDY akhirnya punya bisnis yang lebih beragam, energy resources melalui strategic investment di perusahaan batu bara terbesar ketiga di Indonesia, PT Kideco Jaya Agung, energy services melalui Tripatra dan energy infrastructure melalui PT Cirebon Electric Power. Yang menarik, di PT Cirebon Ekectric Power, INDY melibatkan unit energy resources dan energy services-nya. Dengan keberadaan unit energy services, bisa jadi unit energy infrastructure dibangun dengan biaya yang lebih murah dan memungkinkan untuk memberikan harga yang semakin kompetitif disamping karena pasokan batu bara berasal dari unit energy resources-nya.

Pengalaman dengan unit energy infrastructure di Cirebon ini bisa jadi akan membuka kesempatan di masa depan buat INDY untuk menawarkan solusi yang integratif dan bukan hanya sekedar menjual produk energy resources atau energy services-nya. Dan solusi yang ditawarkan akan lebih menarik kalau INDY bisa menjadikan unit energy resources atau energy services-nya, sebagai specialist di sektor industri. Dan akusisi yang dilakukan di awal tahun 2009 terhadap salah satu pemain EPC di minyak dan gas, yang punya reputasi internasional, Petrosea, semakin menjadikan INDY sebagai a promising multi-specialist energy company.


"Philip Kotler's Executive Class: 44 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: