Tuesday, April 21, 2009

[Kompas 100]: Bukopin: "An Aggressive Medium Sized bank"

Bagian 69 dari 100

Selasa, 21 April 2009 | 11:16 WIB

Doha tampak begitu all-out untuk menjadi salah satu kota terpenting Timur Tengah.

Ini sungguh suatu hal yang menarik. Berbeda dengan Dubai yang dari dulu sudah dikenal sebagai tempat persinggahan bagi kapal-kapal yang berlalu lalang di kawasan Teluk Persia, Doha awalnya adalah sebuah perkampungan nelayan dan sekaligus juga lokasi untuk budidaya mutiara. Doha, yang sampai awal abad 20 begitu bergantung pada hasil ikan dan mutiara, kemudian dibangun menjadi sebuah kota dan belakangan menjadi ibukota kesultanan Qatar.

Sebagaimana halnya dengan berbagai negara-negara di Teluk Persia, penemuan cadangan gas dan minyak yang besar di Qatar merubah nasib negara ini dari sebuah negeri yang relatif miskin dan bergantung pada hasil tangkapan ikan dan mutiara, menjadi negeri kaya. Tidak seperti Dubai yang cadangan minyaknya terbatas, Doha atau Qatar sungguh berlimpah dengan minyak dan gas. Bahkan untuk gas, kota dengan jumlah penduduk yang tidak sampai 500 ribu jiwa ini, dengan sebagian besar orang yang tinggal di Doha bukanlah warganegara Qatar, punya total cadangan gas terbukti yang dikenal sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Tapi belajar dari pengalaman ketika harga minyak berada di bawah USD 20 per barrel, negara-negara kaya minyak dan gas itu banyak yang tidak mau hanya bergantung pada minyak dan gas. Setelah Dubai, yang kebetulan tidak punya cadangan gas besar, mulai terlihat bisa mendiversifikan perekonomian yang semula tergantung pada gas, sejumlah kota utama di setiap negara Teluk berlomba-lomba mengikuti jejaknya. Apalagi mereka percaya bahwa dengan uang yang banyak mereka juga bisa cepat meniru Dubai.

Tidak hanya sekedar ingin mengikuti jejak Dubai yang mencoba menjadi berbagai hub di Timur Tengah, Doha bahkan melangkah lebih jauh. Kota ini menjadi tuan rumah dari pertemuan bersejarah para menteri anggota WTO di tahun 2001, yang membuat kota ini banyak disebut orang di seluruh dunia ketika bicara mengenai perdagangan internasional . Doha sekaligus juga merupakan tuan rumah Asian Games terbesar sepanjang sejarah di tahun 2006. Dan keberadaan stasiun televisi berbahasa Arab Al Jazeera yang muncul di tahun 1996, yang siarannya bisa dinikmati di seluruh negara Arab, dan seolah seperti menjadi corong warga Arab biasa di seluruh negara Arab, membuat Doha yang berasal dari negeri mini menjelma menjadi salah satu kota terpenting Timur Tengah.

Seperti Doha yang all-out menjadi salah satu kota terpenting Timur Tengah, PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) dikenal sebagai bank yang agresif dalam menjadikan diri sebagai bank papan tengah pilihan di Indonesia. Sekalipun bukan suatu hal yang gampang, karena penghuni papan tengah perbankan Indonesia merupakan campuran antara bank nasional, regional dan global, BBKP terlihat bergerak agresif dalam memperluas produk dan layanan. Demi mendukung tercapainya tujuan untuk meningkatkan kenyamanan bertransaksi para nasabah, BBKP tak segan-segan bukan hanya sekedar memperbaiki fasilitas e-delivery channel-nya, tapi juga tak ragu untuk agresif mendorong utilisasi ATM-nya dengan kampanye ”Kartunya satu, ATM-nya banyak” dan gratis biaya tarik tunai di jaringan ATM ALTO, ATM Bersama, ATM BCA dan Prima

Sementara untuk mendongkrak peningkatan dana murah, BBKP juga tidak segan untuk menggelar program undian berhadiah rutin dengan hadiah utama mobil mewah, sesuatu yang hanya sejumlah bank papan tengah yang melakukannya. Karena persaingan antar program undian berhadiah sangat ketat, BBKP juga agresif mengkampanyekan program undian berhadiahnya. Dan untuk keperluan terakhir ini BBKP tidak ragu-ragu untuk mempromosikan merek mobil hadiah utama.

Tidak hanya di mass market banking, BBKP juga agresif dalam membangun layanan untuk nasabah prioritas-nya. Untuk keperluan ini, BBKP bahkan sampai menggunakan seorang pengusaha muda dan investment banker yang sedang naik daun sebagai bintang iklannya. Ini jelas, upaya all out untuk membangun kredibilitas layanan prioritas-nya.

BBKP memang mesti melakukan langkah-langkah tersebut di atas, karena bukan hanya sekedar berada di papan tengah tapi juga karena masih berusaha mencapai rasio keuangan yang impresif. Dimana untuk mencapai tujuan tersebut mesti didukung dengan porsi dana murah yang semakin besar dan utilisasi yang tinggi atas berbagai layanan yang bisa menghasilkan fee based income. Karena hampir semua bank mengejar dua target tersebut, mau tak mau bank papan tengah seperti BBKP juga mesti kreatif -sekalipun mahal- dalam mengkomunikasikan berbagai produk dan programnya.

Berbagai langkah agresif yang sekarang dilakukan BBKP, termasuk membentuk unit usaha syariah bisa jadi merupakan suatu hal yang tak terbayangkan ketika BBKP didirikan 10 Juli 1970, sebagai badan hukum koperasi dengan nama BUKOPIN yang merupakan singkatan dari Bank Umum Koperasi Indonesia. Setelah namanya berubah menjadi Bank Bukopin di tahun 1989 dan badan hukumnya berubah menjadi perseroan terbatas, BBKP kian berkembang pesat. Dimana BBKP tidak hanya ingin menggantungkan diri pada bisnis yang terkait dengan aktivitas para pemegang saham terbesarnya, yang pada saat ini terdiri dari koperasi pegawai Bulog seluruh Indonesia, koperasi perkayuan APKINDO MPI dan yayasan sejahtera warga Bulog.

Hasil dari langkah agresif tersebut membuat BBKP kini menjadi salah satu bank papan tengah yang layak menjadi penghuni 10 besar bank dengan DPK terbesar di Indonesia.


"Philip Kotler's Executive Class: 36 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: