Monday, April 20, 2009

[Kompas 100]: Bakrie Sumatera: "The Single Largest Latex Produces in Indonesia"

Bagian 68 dari 100

Senin, 20 April 2009 | 07:29 WIB

Kondom kontribusi penjualannya 10 persen, tapi untuk publisitas 90 persen.

Begitulah pernyataan dari managing director Pacific Dunlop asal Australia, ketika mengumumkan keputusan perusahaannya menjual berbagai unit bisnisnya di luar ban dan rubberware, seperti kondom dan sarung tangan, di tahun 1999. Cikal bakal perusahaan ini sendiri berasal The Dunlop Pneumatic Tyre Company Pacific Dunlop yang didirikan di tahun 1899 oleh penemu ban sepeda John Dunlop dan teman-temannya di Belfast Irlandia. Perusahaan ini kemudian punya perjalanan bisnis yang berwarna, berkembang ke berbagai bidang tapi kepemilikannya di sejumlah tempat kemudian jatuh ke berbagai tangan, termasuk yang berada di Australia, dan masing-masing perusahaan yang sudah berbeda kepemilikan itu berkembang ke berbagai bidang.

Ternyata langkah Pacific Dunlop tidak hanya berhenti di situ. Setelah mengubah nama menjadi Ansell Limited di tahun 2002 dan melakukan strategic repositioning, perusahaan kemudian berfokus ke rubber based protective products seperti kondom dan sarung tangan. Selain berfokus dari segi bisnis, Ansell sendiri juga berusaha menonjolkan product leadership dengan mengandalkan bahan baku sintetik, seperti polyurethane untuk kondom dan sarung tangan yang dibuatnya.

Untuk kondom, polyurethane memang mulai populer, karena dibandingkan dengan lateks lebih tahan panas dan tidak bau, tapi lebih mahal harganya. Hanya saja produk sintetik ini kalah elastis dibandingkan dengan lateks dan gampang slip. Dengan kondisi seperti itu, sekalipun inovasi untuk produk sintetik berkembang semakin bagus, lateks masih jadi pilihan, paling tidak untuk kondom.

Lateks itu sendiri selain digunakan untuk rubberware seperti kondom dan sarung tangan, kini juga digunakan untuk kasur. Kasur lateks semakin populer karena berkorelasi positif dengan kesehatan dan kenyamanan. Masih populernya lateks ini tentu merupakan kabar bahagia buat perusahaan-perusahaan yang menjual lateks seperti PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).

UNSP yang didirikan dengan nama NV Hollandsch Amerikaanse Plantage Maatschappij di tahun 1911 membuka perkebunan karet di Kisaran Sumatera Utara di tahun yang sama. Di tahun 1986 perusahaan ini lalu berubah nama menjadi PT United Sumatera Plantations setelah diakuisisi oleh Group Bakrie. Pembelian UNSP menandai masuknya konglomerat ini ke dalam bisnis agro-industri. Bakrie Group memang memiliki banyak perusahaan yang tersebar di berbagai industri. Selain UNSP, ada lima perusahaan lain yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia, yaitu PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) di industri telekomunikasi, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) di pengembangan properti, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di pertambangan, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) di oil & gas, serta PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebagai perusahaan induk.

Sampai saat ini UNSP, yang punya tiga kebun karet di Sumatera, masih dikenal sebagai satu-satunya produsen lateks terbesar di Indonesia dengan punya keunikan dalam hal rangkaian produk karet alam yang lengkap, mulai dari lateks hingga Block Skim Rubber (BSR). Sebagai sebuah perusahaan perkebunan yang berusia panjang, UNSP sudah memasuki periode 25 tahun –yang merupakan batas usia dimana pohon karet mulai berkurang tingkat produktivitasnya– yang keempat.

Apa yang dilakukan oleh UNSP tersebut menunjukkan bahwa mereka memang sudah punya pengalaman dalam melakukan proses budidaya karet tanpa mesti menambah lahan. Dan kalau melihat peta pasar karet dunia, dimana tiga perusahaan ban terbesar punya posisi tawar yang kuat karena menjadi penyerap terbesar karet dunia, sementara jumlah negara penghasil karet cukup banyak, maka perusahaan penghasil karet mau tidak mau harus beroperasi efisien. Salah satunya adalah dengan meminimalisasi penambah lahan yang tinggi biayanya dan punya potensi berhadapan dengan isu lingkungan--yang antara lain dilakukan dengan melakukan penanaman ulang di lahan yang sama.

Selain efisiensi lahan, yang mesti diperhatikan pula adalah kualitas lateks yang dijual Indonesia. Soalnya, meski Indonesia adalah negara penghasil karet terbesar ketiga, dan karet merupakan penyumbang devisa terbesar untuk komoditas pertanian, tapi ternyata sejumlah perusahaan pembuat sarung tangan karet terpaksa mengimpor karet alam dari Thailand, negara penghasil karet terbesar di dunia, karena kualitas lateks dari negara itu secara umum tinggi. Di Thailand, produk lateksnya langsung dipak ke kapal dan dikirim ke negara tujuan, dan relatif terhindar dari banyak goncangan di jalan yang akan membuat lateks gampang menggumpal dan menjadi sangat buruk untuk diolah ke produk turunan seperti sarung tangan karet, seperti yang terjadi di Indonesia sebagai akibat buruknya transportasi dari kebun karet ke kota.

Tantangan lain yang juga mesti diperhatikan perusahaan-perusahaan perkebunan karet asal Indonesia seperti UNSP adalah bagaimana meningkatkan produktivitas per lahan. Di lihat dari luas lahan yang dijadikan kebun karet, yang sebesar 3.2 juta hektar, Indonesia adalah yang terbesar di dunia, dan bahkan lebih besar dari Thailand yang hanya sekitar 2 juta hektar. Tapi produktivitas karet Indonesia hanya 1 ton per hektar per tahunnya sementara Thailand 1,7 ton per hektar.

Karena itu kami melihat bahwa sebaiknya UNSP menjadikan penciptaan bibit-bibit tanaman karet yang bisa meningkatkan produktivitas per hektar sebagai salah satu prioritas utama. Akan lebih baik kalau hal ini bisa dilakukan sendiri melalui lembaga riset perusahaan. Dan di bisnis perkebunan moderen, lembaga riset milik sendiri merupakan salah satu sumber daya saing perusahaan

Pada saat ini, UNSP bukan hanya punya bisnis perkebunan karet tapi juga bisnis kelapa sawit yang dimasuki perusahaan di tahun 1993 dengan mengkonversi kebuh karet seluas 6200 hektar menjadi kebun kelapa sawit. Yang menarik, luas kebun kelapa sawitnya itu kini sudah lebih besar dibandingkan luas kebun karetnya. Tentu akan lebih menarik, kalau UNSP bukan hanya sekedar punya kebun kelapa sawit yang sudah lebih besar dibandingkan kebun karet, tapi punya produktivitas dan kualitas yang lebih tinggi sehingga punya harga jual yang lebih baik.

Kelihatanya, UNSP lebih tertarik menekuni bisnis kelapa sawit dibandingkan karet, sekalipun kebun karetnya punya keunikan, dan sebetulnya keunikannya masih bisa ditambah. Boleh jadi soal kontribusi penjualan karet menjadi pertimbangan di sini, sekalipun soal publisitas, seperti dalam kasus Ansell Limited, karet akan lebih besar.


"Philip Kotler's Executive Class: 37 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: