Sunday, April 19, 2009

Investasi & Keuangan: Menjadi Lebih Kaya

Minggu, 19 April 2009 | 02:57 WIB

Elvyn G Masassya Praktisi Keuangan

Apakah saat ini Anda sudah merasa kaya? Cukup kaya? Atau kurang kaya? Ada bermacam persepsi tentang kekayaan. Ada kalangan yang hartanya berlimpah, tetapi masih saja merasa kekurangan. Tetapi, ada juga orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa, malah merasa sangat kaya.

Apa pun definisi tentang kekayaan adalah hak Anda. Tetapi, tidak ada salahnya mendefinisikan kekayaan melalui pendekatan keuangan yang lazim, yakni jumlah harta, baik berupa harta lancar maupun harta tetap, dikurangi kewajiban lancar maupun kewajiban jangka panjang. Jadi, murni kekayaan dalam definisi keuangan.

Seseorang dianggap kaya jika jumlah hartanya lebih besar ketimbang kewajiban. Singkatnya, sepanjang setiap bulan mengalami surplus dan setiap tahun terjadi peningkatan kekayaan, orang tersebut dianggap kaya, betapa pun kecil surplus dan peningkatan kekayaannya.

Untuk menjadi kaya dan atau bahkan lebih kaya, bisa belajar dari mereka yang sudah terlebih dahulu kaya. Beberapa perilaku tersebut sudah diulas dalam tulisan terdahulu. Sekadar mengingatkan, beberapa perilaku itu, misalnya, bekerja lebih keras, menjadikan kekayaan sebagai ”sahabat”, dan mengupayakan uang untuk menghasilkan uang. Yang terpenting, bagaimana menjadi kaya melalui proses yang disiapkan.

Menjadi kaya melalui proses yang disiapkan adalah hal utama menuju kaya dan itu yang akan dibahas kali ini. Hakikatnya, setiap orang memiliki target berapa pertumbuhan kekayaannya dan berapa surplus yang diinginkan dari kegiatan mencari penghasilan melalui bekerja maupun melalui investasi. Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari orang-orang yang kebetulan sudah dalam keadaan kaya.

Pertama, pahami kondisi keuangan dan kekayaan yang saat ini. Seperti kata pepatah, untuk pergi ke suatu tempat, Anda mesti tahu di mana saat ini Anda berada. Konkretnya, cek kembali aset yang Anda miliki, penghasilan tetap yang Anda peroleh, dan pengeluaran tetap yang mesti Anda lakukan. Hitung secara jujur dan obyektif, anggap Anda tengah mengaudit orang lain sehingga potret yang dihasilkan benar-benar berdasarkan fakta.

Kedua, pahami cita-cita keuangan Anda dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Yang dimaksud dengan jangka pendek adalah kurun 1 tahun, jangka menengah di bawah 5 tahun, dan jangka panjang di atas 5 tahun.

Cita-cita tersebut mesti dipegang konsisten, jangan berubah. Ini mendasar sebab tidak sedikit yang awalnya bercita-cita memiliki rumah dalam waktu lima tahun, tetapi kemudian berubah menjadi ingin memiliki mobil baru yang lebih mewah. Kalau cita-cita keuangan berubah-ubah, proses pencapaiannya pun akan rumit sebab setiap cita-cita keuangan lazimnya diraih dengan cara dan strategi berbeda.

Menginjak bumi

Langkah selanjutnya adalah meraih cita-cita dimaksud. Di sini Anda mesti ”menginjak bumi”. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh, yakni menyisihkan sebagian pendapatan lalu ditabung, atau melakukan investasi, atau langsung meraih cita-cita keuangan itu melalui utang dan kemudian mengangsur utang tersebut. Ini sangat bergantung pada bentuk dan jenis cita-cita keuangan itu sendiri.

Lepas dari itu, hal utama untuk dipahami adalah seberapa besar kemampuan keuangan Anda untuk meningkatkan aset. Katakanlah, saat ini aset Anda senilai Rp 1 miliar, Anda ingin aset tersebut menjadi berapa tahun depan? Naik 100 persen? Boleh saja, sepanjang penghasilan Anda sangat besar atau dana yang Anda tanamkan dalam bentuk investasi juga luar biasa besar.

Yang lazim adalah aset meningkat maksimal 2 atau 3 kali pertumbuhan ekonomi. Jadi, kalau tahun 2009 pertumbuhan ekonomi 4 persen, pertumbuhan aset yang wajar adalah 8-12 persen atau menjadi sekitar Rp 1,12 miliar. Lantas bagaimana caranya?

Kalau Anda bergaji Rp 20 juta per bulan, lalu menyisihkan 30 persen atau Rp 6 juta per bulan, maka jika dikumpulkan dalam setahun, uang Anda hanya akan menjadi Rp 72 juta. Masih belum cukup untuk mencapai Rp 120 juta. Oleh karena itu, dana yang Rp 6 juta tersebut mesti diinvestasikan. Kalau pokok dana investasi Anda Rp 72 juta, hasil yang ingin Anda raih harus Rp 40 juta agar menjadi Rp 112 juta. Dengan kata lain, keuntungan (return) yang Anda harapkan dalam setahun adalah sekitar 55 persen. Apakah masuk akal? Apakah ”menginjak bumi”? Mungkin tidak.

Sebutlah Anda menempatkan dana di saham, maka hasil setahun sulit mencapai 55 persen, kecuali Anda termasuk spekulan hebat. Cara yang lain, menyisihkan dana untuk diinvestasikan dalam jumlah lebih besar. Intinya, besarnya dana dan besarnya target hasil sangat menentukan apakah cita-cita keuangan Anda realistis atau tidak.

Dari contoh di atas jelas, apakah cita-cita keuangan Anda ”menginjak bumi” atau tidak hanya Anda yang tahu. Karena itu, agar cita-cita keuangan benar-benar bisa dicapai, mesti dilihat dulu kemampuan Anda meningkatkan aset, termasuk menyediakan sumber dana untuk peningkatan aset tersebut. Bagaimana mengalokasikan dana agar mampu mencapai tujuan keuangan dan juga ”menginjak bumi” akan diulas pada tulisan-tulisan mendatang. ***

Kompas

No comments: