Sunday, April 19, 2009

GENERASI NET: Menjalani Bisnis Masa Depan dari Rumah

Minggu, 19 April 2009 | 02:55 WIB

Para pemasar di mana pun menghadapi persoalan besar saat ini dalam menjangkau konsumen, terutama orang muda. Miliaran dollar AS dikeluarkan untuk iklan, tetapi cara yang dianggap ampuh ternyata getok tular alias informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut dan informasi itu dipercaya karena yang menyampaikan adalah teman atau kerabat.

Dalam era teknologi digital, informasi itu akan sampai lebih cepat karena internet memotong jarak waktu dan ruang. Bukan kebetulan bila Generasi Net (lahir Januari 1977-Desember 1997), bersamaan dengan lahirnya teknologi komputer, merupakan pengguna internet paling mahir dan menjadi pengunjung setia blog.

Data Fashionese Daily milik Hanifa Ambadar dan Affi Assegaf memperlihatkan, anggota situs mode dan kecantikan itu berusia rata-rata 20-35 tahun, 60 persen adalah profesional, 99 persen perempuan.

Dari sisi tersebut, internet memang memberi banyak peluang bisnis untuk usaha kecil dan menengah, seperti yang dilakoni Vilia Ciputra dengan Simplight.net, Ade Siregar dengan De Pernics, serta Affi dan Hanifa. Ketiganya mengatakan optimistis dengan masa depan bisnis secara online.

Untuk Vilia dan Ade memasarkan melalui toko online mereka, artinya jangkauan konsumen dapat global, sementara untuk Affi dan Hani, panggilan Hanifa, kecenderungan promosi saat ini yang menggunakan kekuatan getok tular membuat situs seperti milik mereka menarik bagi calon pemasang iklan.

Yang terpenting adalah memiliki nama menarik, tampilan enak dilihat dan mudah dibuka, serta memberi jalur ke situs-situs lain. Untuk ini memang diperlukan keterampilan seorang pemrogram komputer atau mencari bantuan dari tenaga profesional.

Kesulitan ini dirasakan Ade yang masih menggunakan situs gratis multiply.com. ”Tidak mudah mencari orang yang punya kemampuan teknis teknologi sekaligus juga kecintaan pada kain,” kata Ade.

Di sisi lain, Affi dan Hani merasa tumbuh kebutuhan mencari bantuan tenaga profesional untuk meyakinkan calon pemasang iklan bahwa blog dapat dikerjakan serius dan benar-benar mendatangkan pembeli bagi produk yang beriklan.

”Penetapan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional oleh Menteri Komunikasi dan Informatika mengangkat kredibilitas blog,” ujar Hani. Nyatanya, Departemen Pendidikan Nasional sudah memasang iklan di Fashionese Daily yang menunjukkan peran blog semakin dihargai.

Kendala lain adalah biaya pemakaian internet yang dirasa masih dapat diturunkan lagi seperti dijanjikan pemerintah.

Vilia mengatakan, untuk yang membuat sistem dan situs sendiri, biayanya bisa jadi tidak murah karena banyak jenis sistem yang harus diaplikasikan, seperti sistem pengecekan stok barang, basket, pencatatan auto update, sampai mesin pencari yang dibuat begitu rupa sehingga mudah dicari oleh peselancar internet.

”Keuntungannya, di mata pelanggan dan calon pembeli, situs yang dibuat sendiri tentu lebih profesional dan representatif dan bisa menjadi sarana menunjukkan bagaimana usaha di dalamnya berjalan,” kata Vilia.

Masa depan

Di luar berbagai kendala tersebut, Ade, Vilia, Affi dan Hani yakin online adalah bisnis masa depan dan menguntungkan dalam arti luas. Fleksibilitas waktu dan ruang ada di tangan mereka karena dapat bekerja dari rumah atau dari tempat lain sepanjang ada jaringan internet.

”Kami akan terus mengembangkan usaha ini karena ini memberi rasa berharga pada diri kami,” kata Hani.

”Saya selalu berpikir perempuan harus punya kemandirian tertentu, termasuk dalam penghasilan, untuk payung kalau hari hujan biarpun saya tidak ingin itu terjadi,” tambah Affi.

Selain itu, krisis ekonomi saat ini menyebabkan orang semakin berhemat dalam membelanjakan uangnya. Kalaupun mereka masih mau berbelanja, mereka ingin mendapatkan barang yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Getok tular dengan saling memberi rekomendasi kepada teman serta internet memungkinkan itu terjadi. (NMP)

Kompas

No comments: