Sunday, March 29, 2009

Soros: Inggris "Kritis" (Minta Bantuan dari IMF Bukan Hal Mustahil)

Minggu, 29 Maret 2009 | 03:27 WIB

London, Sabtu - Keadaan sektor keuangan Inggris cukup ”kritis”. Negara ini bisa saja dipaksa meminta bantuan kepada Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mendapatkan dana talangan. Jika kekuatan perbankan lebih besar dari perekonomian Inggris, jelas ini menjadi sumber masalah.

Demikian dikatakan eks spekulan kelas kakap dunia, George Soros, kepada harian Inggris, The Times, Sabtu (28/3).

Produk domestik bruto (PDB) Inggris berdasarkan nilai nominal pada 2007 sekitar 2,78 triliun dollar AS. Omzet perputaran keuangan di Inggris jauh lebih besar dari PDB itu.

”Anda mempunyai masalah karena kekuatan perbankan lebih besar dari kekuatan ekonomi,” kata Soros.

Inggris memiliki sejumlah bank bangkrut, seperti Northern Rock, dan bank besar yang menghadapi masalah keuangan, termasuk kerugian karena pengucuran kredit ke sektor perumahan di AS, antara lain HSBC, Barclays, HBO, dan Royal Bank of Scotland (RBS).

Inggris pernah mengalami kebangkrutan bank besar pada dekade 1990-an, yakni Barings Bank, karena tindakan spekulatif karyawannya yang berbasis di Singapura, Nick Leeson.

”Jika Inggris harus menanggung semua masalah itu (masalah perbankan), artinya negara memerlukan utang baru,” kata Soros.

Berapa kerugian perbankan Inggris? Menteri Keuangan Inggris Alistair Darling mengatakan, persoalan keuangan perbankan global amat sulit diketahui karena sepak terjang perbankan global, termasuk Inggris, tidak diketahui.

The Times bertanya kepada Soros, ”Apakah mungkin Inggris terpaksa meminta bantuan IMF?”

”Jika sistem perbankan terus bermasalah dan ambruk, hal itu dimungkinkan. Pada tahap sekarang ini, tampaknya belum perlu,” kata Soros yang pernah meraih untung 1 miliar dollar AS tahun 1992 saat ”Black Wednesday”. Saat itu Soros berhasil membobol Bank of England (bank sentral Inggris) dengan berspekulasi atas mata uang Inggris, poundsterling.

Soros menambahkan, Inggris berada dalam keadaan rapuh pada masa krisis sekarang ini.

Gagal jual obligasi

Soros mengatakan semua itu sehari setelah Pemerintah Inggris gagal menjual obligasi di pasar untuk pertama kali dalam 14 tahun terakhir. Penjualan surat utang ini bertujuan meraih uang tunai dari pasar demi kepentingan ekonomi negara.

Pada Januari lalu, Pemerintah Jerman juga gagal menjual surat utang.

Menteri Keuangan Inggris membantah kegagalan itu. Namun, pasar pada Jumat lalu tidak mau membeli semua surat utang Pemerintah Inggris senilai 1,75 miliar poundsterling.

Ekonomi Inggris terkontraksi 1,6 persen sepanjang kuartal IV-2008, keadaan terburuk sejak kontraksi yang pernah terjadi pada kuartal II-1980 akibat kenaikan harga minyak dunia. (AFP/REUTERS/MON)

Kompas

No comments: