Wednesday, March 25, 2009

[Kompas 100]: Tunas Baru Lampung: "A Fast Growing Integrated Palm Oil Company"

Rabu, 25 Maret 2009 | 07:29 WIB

KOMPAS.com — Di olahraga tinju, Kuba sering dijadikan benchmark.

Maklum negara ini dikenal sebagai negara yang memiliki banyak petinju yang berhasil meraih medali emas olimpiade. Yang menarik ternyata negara ini tidak ragu-ragu untuk mengirimkan para pelatih ke berbagai negara di dunia untuk melatih para petinju lokal di sana. Tapi hal tersebut ternyata tidak mengganggu kedudukan Kuba sebagai negara tinju dunia.

Istilah dunia bisnis untuk Kuba adalah negara yang bisa mengintegrasikan olahraga tinju sebagai sebuah proses produksi terintegrasi. Selain punya para petinju berbakat, Kuba juga punya banyak pelatih yang bagus. Karena itu, membuat sebuah pabrik penghasil petinju bukan merupakan suatu masalah bagi Kuba.

Inilah yang kelihatannya akan terjadi di industri kelapa sawit dan minyak goreng. Keberhasilan Indonesia menjadi negara pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia, meng-encourage banyak pemain baru masuk di industri ini. Pada saat yang bersamaan, beberapa pemain yang sudah lebih dulu masuk, tapi namanya tidak dikenal di luar industri, pelan tapi pasti bahkan mulai mengembangkan sebuah bisnis minyak sawit terintegrasi.

Langkah semacam itu didasari pesatnya pertumbuhan yang dicapai banyak perusahaan di industri ini. Perusahaan produsen minyak goreng nabati, minyak kelapa sawit, minyak kelapa, serta derivatif-nya juga mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun belakangan. Salah satu perusahaan tersebut adalah PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA). Sebagai ilustrasi, pada kuartal ketiga 2008, TBLA mencatatkan penjualan sebesar Rp 3,132 triliun yang berarti pertumbuhan sebesar 138,4 persen yang juga mendorong peningkatan laba bersih sebesar 419,6 persen. TBLA memang cukup agresif dalam melakukan ekspansi.

Pertengahan 2008, TBLA melakukan perluasan lahan kelapa sawit di Banyuasin, Sumatera Selatan, seluas 29.500 hektar. Sebelum itu, perusahaan juga melakukan ekspansi di Pontianak seluas 30.000 hektar. Ini menjadikan total luas tanah yang dikendalikan TBLA sebesar sekitar 100.000 hektar, di mana sekitar 50 persen darinya sudah tertanam. Pada akhir tahun 2008, TBLA juga melakukan pembangunan dermaga CPO di Lampung untuk menunjang proses ekspor CPO. Pasar ekspor memberikan kontribusi sekitar 75 persen dari total penjualan TBLA.

Tahun 2009, perusahaan juga terus melakukan perkembangan usaha dengan mengakuisisi lahan seluas 50 hektar di Palembang yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik. Memang perlu diketahui bahwa investasi di kelapa sawit, dan juga di kebanyakan sektor agribisnis, adalah investasi jangka panjang. Butuh waktu sekitar 4 tahun hingga suatu perkebunan bisa menghasilkan panen. Dengan demikian, ekspansi lahan tidak akan secara langsung memberikan kontribusi bagi pertumbuhan perusahaan.

TBLA memang bukan pemain baru di industri ini. Perusahaan berdiri sejak tahun 1973 sebagai bagian dari Sungai Budi Group, yang merupakan pionir di industri agrikultur Indonesia sejak tahun 1947. Afiliasi dengan salah satu produsen dan distributor produk agrikultur terbesar di Indonesia ini membawa nilai lebih tersendiri bagi TBLA. Selain mendapatkan pengalaman dan industry knowledge dari Sungai Budi Group, TBLA juga mengandalkan jaringan distribusi mereka, yang sudah tersebar di seluruh Indonesia, untuk distribusi produk yang ditujukan untuk pasar domestik.

Dengan terus meningkatnya permintaan akan produk minyak kelapa sawit dan produk turunannya seiring dengan pertumbuhan penduduk, TBLA mungkin tidak perlu khawatir dengan penjualan perusahaan ke depan. Dengan demikian, fokus perusahaan adalah lebih dalam hal memastikan suplai bahan baku, dengan akuisisi dan penggarapan lahan baru, serta menurunkan cost produksi untuk meningkatkan laba. Namun, ada satu hal tambahan yang perlu menjadi perhatian TBLA ke depan, yaitu persoalan lingkungan hidup.

Seiring dengan meningkatnya perhatian publik terhadap masalah global warming dan isu environmental, industri kelapa sawit mendapatkan sorotan yang tajam dari dunia internasional mengenai sustainability dari bisnis ini. Dan sebagai produsen terbesar minyak kelapa sawit, tentunya banyak perhatian tersebut ditujukan ke Indonesia, termasuk ke perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa sawit, seperti TBLA.

Dengan demikian, kami melihat tantangan ke depan bagi TBLA adalah bagaimana perusahaan dapat mengantisipasi tuntutan perubahan ini. Bukan saja perubahan dalam hal minimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan, seperti sudah dilakukan TBLA antara lain dengan efisiensi penggunaan sumber daya alam serta menurunkan produksi limbah, tapi juga dalam menjadi pionir dalam pengembangan model bisnis baru kelapa sawit yang sustainable.

Jika TBLA mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi tuntutan perubahan industri kelapa sawit global, dan menjadi pelopor dalam pengembangan konsep sustainable palm oil di Indonesia, perusahaan akan dapat menjaga tingkat pertumbuhannya yang tinggi dan benar-benar menjadi a fast growing integrated palm oil producer.

"Philip Kotler's Executive Class: 63 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: