Sunday, March 8, 2009

[Kompas 100]: Tiga Pilar Sejahtera Food: An Emerging Medium Sized FMCG

Bagian 27 dari 100

Minggu, 8 Maret 2009 | 09:56 WIB

APA yang terjadi di film Home Alone memang hanya cerita khayalan. Tapi ada pesan moral yang ingin disampaikan. Seorang anak yang berada di rumah sendirian, tertinggal dari anggota keluarga lainnya yang pergi merayakan liburan Natal, alias dalam situasi yang fragile, ternyata tidak mesti jadi cengeng dan kalahan. Justru ia malah bisa menunjukkan dirinya sebagai anak yang cerdik dan mandiri, meski ibunya selalu kepikiran tentang dia.

Indonesia sebetulnya punya banyak SME dengan karakteristik mirip seperti anak kecil di film Home Alone yang cerdik, mandiri dan lebih matang menghadapi tantangan baru. Sebagian besar SME semacam itu memang tidak banyak dikenal orang. Tapi ada juga beberapa yang akhirnya mengundang perhatian, atas inisiatif yang di luar dugaan.

Inilah yang misalnya ditunjukkan Perusahaan Bihun Cap Cangak Ular yang didirikan di tahun 1958 oleh Tan Pia Sioe. Keberadaan generasi baru, seperti Joko Mogoginta, membuat perusahaan agresif mengejar pertumbuhan, termasuk melalui akuisisi. Salah satu akuisisi awal perusahaan adalah pembelian PT Asia Inti Selera Tbk yang saat itu adalah market leader mi telor dengan merk Ayam 2 Telor. Dengan akuisisi ini, perusahaan memasuki bursa saham melalui backdoor listing.

Dalam perjalanan selanjutnya, perusahaan publik tersebut diubah menjadi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) yang pada saat ini adalah market leader yang menguasai sekitar 34 persen pasar mi kering di Indonesia. Di sisi lain, AISA terus bergerak mengakuisisi PT Polymeditra Indonesia di tahun 2005 yang membawanya masuk ke bisnis permen dan biskuit. Salah satu merk Polymeditra adalah Gulas, market leader untuk permen asem.

Langkah yang dilakukan AISA di tahun 2008 malah lebih spektakuler. Soalnya perusahaan mengakuisisi tiga perusahaan yang secara total menelan biaya sekitar Rp 500 Miliar, yang sebetulnya lebih besar dari total aset AISA pada waktu itu. Menariknya, ketiga perusahaan tersebut bergerak di dalam bisnis yang berbeda dengan bisnis AISA sebelumnya, yaitu perkebunan sawit, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), dan pabrik pengolahan makanan.

Perkembangan bisnis yang pesat inilah yang mungkin menjadi salah satu faktor pertimbangan hingga AISA berhasil mendapatkan Bisnis Indonesia Award 2008 untuk kategori emiten industri barang konsumsi. Kekuatan sales system AISA juga mendapat pengakuan dengan masuknya AISA dalam Top 3 pada survey Account Management Index yang dilakukan pada tahun 2008.

Professionalisme dan komitmen manajemen AISA memang kuat. Ini ditunjukkan dengan kemampuan mereka mendapatkan sertifikasi ISO 9001 pada tahun 2002, disamping juga berbagai sertifikasi industri lainnya. Kepercayaan World Food Programme terhadap AISA untuk memproduksi biskuit gratis suplemen makanan anak sekolah Indonesia, juga merupakan indikator lain dari kemampuan tim manajemen.

Sebagai produsen produk makanan, AISA memang banyak bergantung pada harga bahan baku yang dapat berfluktuasi kapan saja. Seperti dialaminya beberapa tahun belakangan ini saat terjadi kenaikan bahan baku yang cukup signifikan. Untuk bersiap menghadapi hal seperti itu di masa mendatang, perusahaan terus melakukan berbagai langkah efisiensi, salah satunya dengan penggabungan lokasi berbagai pabriknya pada satu tempat saja di Sragen, dengan ukuran lahan sekitar 25 hektar. Upaya efisiensi penggunaan listrik juga terus dilakukan AISA, antara lain dengan mengakuisisi perusahaan yang bergerak dalam bidang pembangkit listrik.

Di balik semua kesuksesan perusahaan ini dalam berkembang, yang tercermin juga dari kenaikan laba bersih sebesar kurang lebih dua kali lipat tahun 2008, kami melihat AISA harus tetap berhati-hati menjaga core competence-nya. Dimulai dari produsen bihun, lalu menggarap mi telor, selanjutnya memasuki bisnis permen dan biskuit, serta terakhir ini mengakuisisi perusahaan kebun kelapa sawit. Ada ancaman AISA akan kehilangan fokus karena tidak mampu menemukan core competence spesifik yang mereka miliki, yang selanjutnya digunakan sebagai tumpuan dalam melakukan pertumbuhan yang terencana. Semua dilakukan tanpa meninggalkan kekuatan inti perusahaan yang selama ini menjadi keunggulan kompetitifnya.

Jika manajemen bisa menjaga agar AISA tidak meninggalkan kompetensi inti perusahaan, dan tetap profit from the core, maka perusahaan akan dapat mencapai growth yang tidak sekedar luar biasa, tapi juga sustainable dalam jangka panjang.

"Philip Kotler's Executive Class: 81 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

No comments: