Tuesday, March 10, 2009

[Kompas 100]: Semen Gresik: "A Synergistic National Company"

Bagian 28 dari 100

Selasa, 10 Maret 2009 | 07:08 WIB

Liga sepakbola suatu negara adalah gambaran kesebelasan nasional.

Itulah yang diyakini banyak orang. Hanya saja keyakinan semacam itu tidak berlaku manakala kita bicara soal Liga Inggris dan kesebelasan nasional Inggris, paling tidak sebelum kedatangan Fabio Capello di tim nasional Inggris. Inggris, yang punya sejumlah klub sepakbola yang ditakuti di daratan Eropa, ternyata tidak punya kesebelasan nasional yang kuat, sehingga antara lain, memaksanya tidak bisa ikut Euro 2008.

Soal pemain berkualitas di berbagai lini, Inggris punya. Misalnya penyerang seperti Wayne Rooney dan Theo Walcott, pemain tengah seperti Steven Gerrard, Frank Lampard, Gareth Barry dan Joe Cole, pemain bertahan seperti Ashley Cole, John Terry, Rio Ferdinand, dan Wayne Bridge serta kiper seperti David James. Dan untuk pemain cadangan, beda skill-nya tidak jauh dengan tim inti.

Hanya saja, Liga Inggris adalah liga yang paling “berani”. Inilah satu-satunya liga dimana ada klub sepakbola dalam empat besar yang pada suatu ketika bertanding di salah satu pertandingan Liga Inggris tanpa ada satupun pemain dari Inggris dengan pelatih yang juga bukan berasal dari Inggris. Dan hebatnya lagi, para pendukung klub tersebut tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh.

Yang lebih merepotkan lagi, banyak klub besar Liga Inggris yang suka mengambil jalan pintas dengan membeli pemain muda berbakat dari negara lain. Sehingga bakat-bakat muda Inggris banyak yang kehilangan kesempatan berkembang. Akibatnya, pilihan pemain yang tersedia untuk tim nasional juga terbatas.

Apa yang terjadi di Inggris itu berbeda dengan yang terjadi Italia dan Spanyol. Sejumlah klub besar di liga tersebut, kalau tidak mendidik sendiri pemain sejak muda, akan memilih membeli pemain muda lokal dari klub lain di liga tersebut. Sehingga pemain lokal yang bermain untuk klub cukup banyak yang akhirnya membuat pelatih nasional punya pilihan pemain yang banyak pula.

Apa yang dilakukan di Liga Italia dan Spanyol akhirnya berdampak pada prestasi tim nasionalnya. Italia juara dunia 2006 dan Spanyol juara Eropa 2008. Boleh dikata itu adalah buah kerjasama antara klub-klub liga dan persatuan sepakbola di negara tersebut untuk bisa bersinergi mengharumkan nama negara mereka. Ini suatu hal yang menarik, kalau melihat kekayaan yang dimilikinya, sejumlah klub di liga tersebut sebenarnya bisa independen menghadapi persatuan sepakbolanya.

Sinergi antar berbagai institusi yang bisa bergerak independen juga bisa dilihat pada fenomena yang terjadi di PT Semen Gresik Tbk (SMGR). Perusahaan ini adalah sebuah holding company yang memiliki Semen Padang di Indonesia Barat, Semen Gresik di Indonesia Tengah, dan Semen Tonasa di Indonesia Timur; dan mampu mensinergikannya menjadi pemain yang punya posisi kuat di tiga market territory sehingga layak disebut pemain nasional. Hebatnya lagi, meski dari capacity share sama dengan pemain semen utama lainnya, tapi untuk market share, BUMN semen jauh lebih besar.

Untuk mencapai posisinya seperti sekarang ini, SMGR telah melalui 3 milestones berat: konsolidasi, restrukturisasi, dan sinergi. Konsolidasi 3 produsen semen di pertengahan tahun 1995 memang sempat memicu sentimen kedaerahan dan persaingan internal. Pasca konsolidasi, SMGR masih harus melakukan restrukturisasi untuk meningkatkan daya saingnya. Kini dengan adanya sinergi antara ketiga produsen semen dan didukung oleh manajemen yang lebih profesional, SMGR sedang giat-giatnya meningkatkan kapasitas produksi.

Selain itu, SMGR mulai membidik pasar ekspor yang saat ini kontribusinya masih kecil. Akan tetapi, untuk ke depannya, ada baiknya jika SMGR terus membangun kekuatannya di pasar domestik mengingat pemain-pemain lain, yang didukung oleh pemain asing di belakangnya, sudah berusaha untuk menyusul. Apalagi, pemain-pemain lain ini mulai bermain dengan sisi emosional konsumen, sesuatu yang belum digarap SMGR dengan konsisten. Dengan fokus yang tepat, SMGR bisa tetap kokoh tak tertandingi —seperti semboyannya— sebagai a synergistic national company yang bisa dibanggakan.

"Philip Kotler's Executive Class: 78 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

No comments: