Saturday, March 7, 2009

[Kompas 100]: Perdana Gapuraprima: A Fast Growing Medium Sized Developer

Bagian 26 dari 100

Sabtu, 7 Maret 2009 | 13:14 WIB

AJAX Amsterdam memang tidak seperti Real Madrid atau MU. Kita tahu dua klub tersebut bukan hanya punya prestasi yang bagus tapi juga tumbuh sebagai institusi bisnis yang solid dan pastinya kaya yang bisa membeli pemain terhebat yang money can buy. Hal tersebut terakhir ini membedakan mereka dengan Ajax, yang ukuran bisnisnya jauh lebih kecil. Tapi kalau untuk kontribusi dalam perkembangan sepakbola, Ajax bisa jadi lebih baik dari Real Madrid ataupun MU.

Selain menjadi klub pertama yang memperkenalkan total football, Ajax hingga kini juga dikenal sebagai penghasil pemain-pemain hebat yang di kemudian hari menjadi bintang di klub-klub besar Eropa. Begitu hebatnya produk internal Ajax, maka menjelang final Champions League tahun 1996, para wartawan yang terpesona pada penampilan Ajax sampai bilang ke Juventus, “If you can’t beat them, buy them!” Dan Juventus –yang akhirnya mengalahkan Ajax– kemudian memang membeli beberapa pemain yang dulu dikalahkannya.

Tapi sejak 5 tahun terakhir wajah dunia sepakbola mulai berubah. Masuknya investor kakap yang bingung bagaimana menghabiskan uangnya, membuat klub dengan size sekelas Ajax tidak bisa lagi bergerak sepesat di awal pertengahan tahun 90-an. Apa yang terjadi di Ajax bisa juga dialami oleh perusahaan berskala menengah yang pada suatu titik mengalami kesulitan untuk berkembang pesat. Inilah yang misalnya terjadi pada PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA).

Perusahaan pengembang properti ini terpaksa menghentikan berbagai proyek yang direncanakan untuk tahun 2009 karena efek dari krisis ekonomi global yang sedang melanda. GPRA bahkan terpaksa menghentikan pembangunan hotel bintang 5, beserta fasilitas resort-nya, di Bali, yang sebenarnya diharapkan dapat menjadi salah satu flagship product mereka. Begitu juga dengan pembangunan menara HIPMI, yang ditunda untuk sementara, agar dapat ditinjau kembali manfaatnya bagi semua stakeholders.

GPRA sebenarnya cukup lama bermain di pasar properti Indonesia. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1987 sebagai bagian dari Gapura Prima Grup – yang memiliki sejarah lebih panjang lagi di dunia properti sejak didirikan tahun 1980 oleh Gunarso S. Margono. Namun baru 3-4 tahun belakangan ini GPRA menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa, dengan mencatat kenaikan laba bersih hingga 250,8% pada tahun 2007. Ini dihasilkan dari pengembangan GPRA saat itu yang meliputi tiga proyek apartemen, dan lima proyek perumahan landed house.

Pertumbuhan spektakular ini membawa GPRA untuk mendapatkan Indonesia Property Award 2005 dan 2006, dari Majalah Property & Bank, sebagai pengembang residensial dan apartemen terbaik. Bahkan pada tahun 2008, Rudy Margono, Presiden Direktur GPRA, mendapatkan penghargaan The Young Entrepreneur In Property Development, dari institusi yang sama.

Pada tahun 2008, GPRA membangun dan memasarkan Kebagusan City, produk low cost apartement di wilayah Jakarta Selatan. Seperti halnya sebagian besar pembangunan rusunami dan apartemen murah, Kebagusan City memang cukup sukses menarik minat pembeli. Ini semakin diperkuat oleh komitmen GPRA untuk tidak hanya membangun apartemen murah saja, tapi juga disertai beberapa fasilitas lainnya seperti pusat perbelanjaan, perkantoran dan juga tempat hiburan keluarga.

Dalam menghadapi dampak krisis global, sebagai pengembang skala menengah, GPRA tentunya harus mulai berhati-hati dalam melangkah ke depan. Memasuki tahun 2009, perusahaan akan lebih fokus pada existing projects, terutama landed house yang membutuhkan investasi relatif lebih rendah dibandingkan apartemen. Proyek apartemen yang masih diteruskan adalah tipe low cost, seperti pembangunan Kebagusan City. Perusahaan bahkan mempertimbangkan mengkonversi beberapa kondo menjadi budget apartement. Dalam upaya efisiensi lainnya, GPRA akan semakin mengurangi pinjaman dari bank, dan lebih mengandalkan dana internal maupun pembayaran dimuka dari calon pembeli.

Namun kami melihat bahwa tidak cukup hanya berhasil survive melewati krisis finansial ini. GPRA harus mampu keluar lebih kuat dengan memanfaatkan krisis ini sebagai kesempatan untuk melakukan konsolidasi internal dan mengevaluasi arah perusahaan demi memperkuat fundamentalnya.

Tantangan terbesar yang kami lihat adalah bagaimana GPRA dapat membangun positioning yang kuat yang ditopang oleh differensiasi yang nyata. Sebagai pemain menengah, tentunya GPRA tidak dapat mengandalkan ukuran perusahaan ataupun kekuatan finansialnya untuk mengungguli kompetitor. GPRA harus dapat menemukan segmen spesifik yang dapat dilayaninya lebih baik dibandingkan kompetitor.

Langkah GPRA selama ini, yang mencoba menggarap semua kesempatan yang terbuka, serta aktif mengembangkan properti sesuai permintaan pasar, memang berhasil memicu pertumbuhan spektakuler selama 2004-2007. Namun, di sisi lain, ini menyebabkan GPRA mengembangkan berbagai jenis properti, mulai dari residensial seperti Bukit Cimanggu City di Bogor, hingga pusat belanja seperti Bekasi Trade Center. Dari pembangunan kelas bawah, seperti Kebagusan City hingga apartemen elit seperti The Bellezza Permata Hijau. Ini mengurangi kemampuan GPRA untuk membangun keunikan dan ciri khas tersendiri diantara ratusan pengembang properti di Indonesia. Sehingga GPRA tampaknya belum berhasil membangun positioning yang nyata yang dihargai oleh para pembeli properti di Indonesia.

Di sini letak tantangan GPRA. Jika dalam masa krisis GPRA berhasil bertahan secara finansial dengan melakukan berbagai efisiensi internal, dan juga sekaligus dapat memanfaatkan saat-saat ini untuk menata ulang strategi marketing perusahaan, terutama dalam hal positioning yang tentunya sesuai dengan resources yang dimiliki perusahaan, maka GPRA akan keluar dari krisis semakin kuat, dan kembali menjadi salah satu pengembang properti menengah dengan pertumbuhan paling cepat.

"Philip Kotler's Executive Class: 81 Days To Go"

Hermawan Kertajaya, Taufik

Kompas

No comments: